Manuver Politik

Secara kasat mata, ketiga kabupaten/kota ini masuk dalam ranah spesifik pilkada di NTT karena terpisah

Manuver Politik
Net
Ilustrasi

Jaring Asmara Menjelang Pilkada 2017

Oleh Yanuarius Y. T. Igor
Tinggal di Kota Kefamenanu

POS KUPANG.COM - Gema MA penjaringan aspirasi masyarakat (jaring asmara) menjelang pilkada 2017 bagi tiga kabupaten/kota di NTT mulai disimak publik. Tiga kabupaten/kota tersebut adalah Kota Kupang, Flores Timur, dan Lembata.

Secara kasat mata, ketiga kabupaten/kota ini masuk dalam ranah spesifik pilkada di NTT karena terpisah dari kabupaten-kabupaten lain. Dalam beberapa rubrik media massa belakangan ini diberitakan bagaimana berbagai partai politik dengan tangkas mulai menjaring aspirasi masyarakat tentang sosok kandidat yang siap maju dalam pilkada. Bahkan salah satu kabupaten, Flores Timur misalnya, telah menutup proses pendaftaran cabup dan cawabup yang ingin masuk melalui partai tertentu. Kenyataan ini mulai marak terjadi meskipun belum ada kepastian regulasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTT.

Hal ini disampaikan langsung oleh Juru Bicara KPU NTT, Drs. Yosafat Koli, kepada wartawan Pos Kupang (25/2 /2016).
Jika ditelusuri lebih jauh, maka akan ditemukan corak manuver politik yang hanya mengedepankan prestise. Pernyataan ini berangkat dari realitas politik yang dari tahun ke tahun mereduksi aspirasi masyarakat kecil ke dalam kewibawaan politik yang rancu.

Tidaklah mengherankan jika pada beberapa tahun terakhir, baik dalam level nasional maupun lokal, terjadi dekadensi politik. Akhlak atau budi pekerti yang santun pelan-pelan dilupakan dan bahkan sering hilang dari dalam diri para calon pemimpin. Salah satu alasan terjadinya dekadensi adalah minimnya komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi menjadi efektif sejauh belum adanya persaingan poliitik yang terjadi dalam kubu-kubu partai. Sesudahnya, komunikasi antarpribadi hanya dipandang sebagai batu sandungan demi menentang lawan politik.

Penulis menilai bahwa polemik politik demikian adalah satu gambaran miris dari sekian juta persoalan yang kemudian berkembang dalam visi-misi partai. Dalam proses pemungutan suara, misalnya, terjadi manipulasi suara pemilih, muncul isu adanya aksi saling suap atau serangan fajar. Persoalan-persoalan ini sejatinya menjadi pertimbangan serius bagi siapa saja, tidak hanya untuk para tokoh politik yang akan bertarung dalam pilkada 2017.

Manuver politik yang sedang marak terjadi dalam proses pilkada di Indonesia umumnya, dan di NTT khususnya, perlu disiasati secara bijaksana demi meminimalisasi persoalan krusial. Pada satu sisi, manuver politik dinilai positif sejauh cara kerja cepat partai politik itu tidak membuahkan dendam dan rasa kecewa masyarakat umum. Namun, manuver politik akan dinilai sebagai momok apabila manuver politik yang dijalankan partai-partai meninggalkan pesan serta kesan yang irasional atau salah kaprah.

Sudah saatnya masyarakat NTT diuji dalam memetakan aspirasi menuju perubahan. Rakyat menjadi penentu kebijakan yang sedang dan akan diemban oleh para kandidat partai politik. Dalam jaring asmara, misalnya, masing-masing orang dipanggil menyandang titel baru yakni menjadi pribadi nasionalis.

Menjadi pribadi yang berani menentang setiap kebijakan politik yang sering mengekang hak dan kewajiban rakyat kecil atau kebijakan politik yang sering tampil demi membela yang bayar.
Mencermati kenyataan demikian, penulis menganjurkan beberapa gagasan untuk direfleksikan bersama sebagai warga sejati Flobamora.

Pertama, bagi para calon pemimpin yang akan maju dalam pilkada NTT di tiga kabupaten/kota pada bulan Februari 2017 mendatang agar sedapat mungkin menyosialisasikan program-program kerja yang konkret dan mudah menyentuh kebutuhan masyarakat. Bukan program lima tahunan yang kemudian mangkir dalam kekecawan publik. Masyarakat butuh cara kerja pemimpin yang sederhana dan dapat mengubah nasib hidup mereka.

Kedua, bagi para tokoh terhormat yang memangku kebijakan negara dalam Komisi Pemilihan Umum (KPU) hendaknya secara tegas membuat regulasi (undang-undang).

Undang-Undang KPU menjadi parameter dalam menjamin efektivitas dari keseluruhan proses pemungutan suara dan menentukan kelayakan para calon pemimpin terpilih. Ketiga, bagi masyarakat NTT umumnya, dan masyarakat di Kota Kupang, Flores Timur dan Lembata) agar lebih selektif mengklarifikasi sosok pemimpin yang akan maju dalam pilkada 2017. Oleh karena itu, kejernihan hati menjadi faktor penentu untuk menyiasati manuver politik yang marak terjadi dalam proses penjaringan aspirasi masyarakat (jaring asmara).*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved