Arkeologi Politik

Demikian pernyataan Brumfiel and Fox (2003). Pernyataan tersebut mengandung beberapa

Arkeologi Politik
ilustrasi

Oleh Lasarus Jehamat
Sosiolog Undana; Peneliti Institut Sophia Kupang

POS KUPANG.COM - Semua masyarakat yang non-egalitarian selalu dibentuk oleh dinamika kompetisi yang faksional. Kompetisi politik yang faksional mengacu pada model dan pola perebutan kekuasaan klasik dan modern.

Demikian pernyataan Brumfiel and Fox (2003). Pernyataan tersebut mengandung beberapa pengertian penting. Pertama, bahwa masyarakat klasik dan modern masih terjebak dalam kondisi yang tidak seimbang. Masyarakat masih terbelah dalam sekat-sekat sosial, budaya, ekonomi dan terutama politik.

Kedua, kekuasaan masih menjadi tema menarik selama manusia masih menghuni bumi ini. Ketiga, karena sifatnya yang demikian, maka politik akhirnya harus mengabdi pada kelompok-kelompok tertentu. Faksi politik menjadi sulit dihindari.

Masalahnya adalah setiap faksi dan kelompok menuntut reward atas kerja yang telah dilakukan dalam proses mendapatkan kekuasaan. Itulah alasan mengapa politik menjadi sulit menampakkan wajah humanis yang egaliter. Dalam dirinya, politik selalu membentuk kelompok kepentingan untuk tujuan kekuasaan. Karena itu pula, maka harapan untuk memunculkan masyarakat yang egaliter, terutama untuk konteks Indonesia dan NTT, masih jauh panggang dari api; masih sulit dicapai.

Sampai pada titik itu, arkeologi politik menjadi penting. Arkeologi politik adalah usaha para ilmuwan politik untuk menjelaskan konteks dan realitas munculnya banyak hal aneh dalam politik. Konflik berbasis politik dan perebutan sumber daya, munculnya kompetisi yang berujung pada konflik, berkembangnya faksionalitas politik hingga ke diskriminasi politik menjadi hal utama yang dibahas dalam arkeologi politik.

Kompetisi Faksional
Dalam Factional Competition and Political Development In the New World, Brumfiel and Fox (2003) terang menjelaskan tentang kompetisi faksional dan pembangunan politik. Tesis penting di sana adalah bahwa kompetisi faksional menjadi urgen terutama agar bisa muncul transformasi sosial.

Meminjam Lewis Coser, konflik dalam batas tertentu itu menjadi sangat penting dan fungsional sifatnya. Dengan konflik, transformasi sosial dan politik akan mendapatkan kepenuhan. Masalahnya adalah saat ini kita tidak lagi hidup dalam sebuah komunitas bar-bar; yang berprinsip homo homini lupus. Kita hidup di ruang peradaban modern. Di sana, kita semua harus tunduk pada aturan dan mekanisme sosial. Pertanyaan penting kemudian adalah mengapa masih ada kompetisi faksional dalam pembangunan politik masa kini?

Sebagaimana dijelaskan di atas, pernyataan Brumfiel and Fox kental memberitahukan tiga hal penting. Secara sosio-arkeologis, kita masih hidup dalam jebakan dikotomis dan bias kepentingan kelompok. Sebab utamanya adalah karena struktur politik memang sengaja diciptakan demikian.

Tujuannya agar elite kekuasaan bisa mendapatkan dan menggunakan kekuasaan dan keagungan itu untuk kepentingan kelompok dan individu. Dengan demikian, struktur dan sistem politik yang demikian menjadi fungsional bagi kelompok dan individu tertentu.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help