PosKupang/

Salib dan Kesalehan Sosial

Gugatan tentang model kehidupan keagamaan yang selaras zaman, terutama ruang

Salib dan Kesalehan Sosial
POS KUPANG/DION KOTA
ilustrasi

Oleh RD. Max Regus

Rohaniwan Keuskupan Ruteng, Studi Doktoral di Universitas Tilburg, Belanda

POS KUPANG.COM - Beberapa hari lalu, tentang suasana Paskah di NTT, seorang kawan, Dr. Dominggus Elcid Li, menulis status di Facebook-nya begini, "Di kota ini salib ada di mana-mana, tapi seperti biasa kaum agamawan di negeri ini kesalehan pribadi tak ada hubungannya dengan urusan publik apalagi solidaritas kolektif." Tidak bisa dipungkiri, 'coretan' di atas menyentuh salah satu kegelisahan utama di seputar aklak keagamaan yang memiliki 'dampak' bagi pemerkayaan bobot kehidupan sosial.

Transmisi
Gugatan tentang model kehidupan keagamaan yang selaras zaman, terutama ruang sosial yang dipenuhi tangis sama saudara yang tidak beruntung, selalu aktual. Atau, ungkapan yang lebih tepat adalah 'sesuatu dibutuhkan'. Sekurangnya, para pengkaji teologi berikhtiar untuk menjelaskan --apa yang disentuh dalam gugatan di atas --keterhubungan antara 'kesucian ritual' dan 'kesalehan sosial'.

Tentu saja, bukan sekedar hal yang ditambahkan ketika Yesus mulai menarik 'minat' dan 'perhatian' para murid kepada Salib. J. Stott dalam bukunya The Cross of Christ (2012) memperlihatkan bagaimana Salib mendominasi, bukan saja diskursus teologi dan dogma Gereja sepanjang atau pasca-Perjanjian Baru, melainkan juga pada 'timbul-tenggelam'- nya pergulatan historis komunitas kristiani.

Jika merunut kembali pada 'simbol Salib', tentu ada banyak cerita yang masing-masing orang bisa ungkapkan untuk mewakilkan pengalaman rohani yang bersifat personal. Perasaan mistik individualistik. Memang, senyata-nyatanya bahwa peristiwa atau tragedi Salib semata adalah pengalaman penderitaan personal Yesus, namun sebegitu dalam, sesungguhnya, Salib juga mewakilkan jalan hidup komunitas Kristen. Sebab Dia adalah putra sulung dari semua yang sudah, sedang dan akan takjub di dalam seluruh pengalaman keberadaanNya.

Salib, yang dilukiskan tertanam di 'puncak Golgota', adalah sebuah 'isyarat' -lebih daripada sekedar untuk menambah aksesori pada 'locus' geografis, melainkan terutama 'desakan religius' bagi para pengikut Yesus untuk menghirup kekuatan yang mengalir darinya. Salib yang menancap di puncak Golgota hendak menegaskan bahwa Yesus mengirimkan (transmisi) makna paling asali dari Salib ke dalam kehidupan paling nyata.

Penerima pesan akan menentukan seberapa berdayanya energi itu bagi kehidupan. Ketika pesan itu pada akhirnya hanya nampak pada kehadiran sekian banyak salib sebatas pajangan belaka, maka 'energi Salib' terhenti sekedar sebagai perhiasan liturgi belaka.

Gerakan
Yesus adalah tokoh yang 'menginisiasi' transformasi sejarah melalui penentangan tulen terhadap feodalisme dan kebekuan keagamaan pada zamannya. Dia mendobrak situasi yang mengekalkan setiap jenis penjajahan atas nama agama dan politik. Salib, yang dianggap sebagai tempat terakhir bagi setiap penjahat, telah dijadikan Yesus sebagai 'sinisme' abadi terhadap kepongahan yang menjadi laten di ranah peradaban. Dengan itu, Salib menjadi satu gerak spiritual yang sanggup merontokkan dinding penindasan atas nama kesalehan liturgis seperti yang diagungkan kelas Farisi pada masa itu.

Pada satu dua kesempatan sebelum kisah Golgota,Yesus sudah berusaha menautkan batin para murid dengan pesona Salib. Dalam Kitab Markus (8:34), misalnya, Yesus sudah mengganggu kesadaran kerasulan Petrus dan kawan-kawan bahwa 'mengikuti Dia' sama artinya dengan 'memikul Salib'. Di situ, kalau diperhatikan, tanpa harus menggunakan eksegese canggih, Yesus mengandaikan dua hal.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help