Wahana Pembelajaran yang Bernama Teater

Seni (teater) tidak hanya merupakan cermin realitas, tetapi sekaligus menjadi wahana

Wahana Pembelajaran yang Bernama Teater
ilustrasi

Catatan Pementasan Latihan Drama

Oleh Silvester Petara Hurit
Esais, Pengamat Seni Pertunjukan, Tinggal di Lewotala Flotim

POS KUPANG.COM - Seni (teater) tidak hanya merupakan cermin realitas, tetapi sekaligus menjadi wahana pembelajaran; mendekati, menyerap dan berdialog dengan pelbagai kompleksitas kehidupan. Itu yang coba dilakoni oleh para mahasiswa Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL) dalam pentas teater dengan judul "Latihan Drama" di tujuh kecamatan dalam kegiatan tur Adonara, 15 Februari-07 Maret 2016.

Pentas yang berjudul "Latihan Drama" dikemas sebagai media pembelajaran. Teater menjadi proses mahasiswa belajar memotret anomali, ketimpangan, ironi dan aneka ketidakwajaran yang kemudian dirancang-bangun lewat pentas yang ringan dan cair. Melalui teater mahasiswa diajak melihat problem eksternal yakni masalah sosial, politik, ekonomi, lingkungan dan kebudayaan sebagai medan studinya.

Aneka soal tersebut dikunyah dan diolah dengan melibatkan pikiran, perasaan, tubuh serta totalitas pengalaman kemanusiaannya. Hasil pencerapan realitas tersebut disemai, dipahami dan dihidupkan oleh individu (aktor) dan bersama-sama menjahitnya menjadi bangunan teks bersama. Bangunan teks yang di dalamnya kegelisahan, kepekaan, ideal, harapan, ketakutan, kecemasan dirajut, ditularkan dan dikomunikasikan kepada khalayak penonton. Di sini seluruh perangkat indrawi, konsentrasi, energi, ketenangan dan hasil olah kemampuan performatif individu (aktor) diperlihatkan.

Begitu proses, iya begitu pula hasilnya. Pada kejujuran, intensitas dan totalitas presentasi diri letak nilai pertunjukan.
Yang sungguh-sungguh melewati proses panjang latihan akan terlihat di pentas, begitupun sebaliknya. Teater menawarkan semangat berlatih dan berproses serta pertumbuhan kemampuan dari waktu ke waktu yang dibangun dengan ketekunan, kejujuran dan kesabaran.

Pertunjukan yang didesain sebagai latihan, diujicobakan saat pentas ke khalayak penonton yang beragam latar belakangnya. Para aktor dalam keterbatasan, minimnya pengalaman, mepetnya waktu latihan, dituntut menyiasati segala keterbatasannya agar dapat berkomunikasi secara efektif-optimal. Merebut perhatian penonton dan menggiringnya untuk terlibat secara fisik, emosi dan intelektual. Pentas diharapkan mampu mendorong tindakan/aksi, baik di tataran mental-psikis maupun praksis-konkret (lahiriah).

Ketidakutuhan
Saya mendampingi para mahasiswa mengkonstruksi pentas sebagai perayaan ketidakutuhan. Menjauhi perfeksi artistik dan membiarkannya hadir sebagai sebuah latihan dalam segala kementahan dan ketidakutuhannya.

Para mahasiswa yang kelak akan menjadi aktor sungguhan di pentas kehidupan obyektif (aktual) dilatih supaya punya keprihatinan, kepedulian dan kepekaan terhadap karut-marutnya kehidupan. Realitas yang tidak utuh, berborok, mentah dan dangkal perlu diakrabi, didalami demi melahirkan bentuk, kesadaran dan wajah baru yang bernama: keteraturan (keindahan) dan kedalaman (kebermaknaan).

Kepekaan jenis ini tidak hadir seketika. Ia melewati proses panjang pergaulan dan pembiasaan. Teater dalam kompleksitas ekspresinya menyediakan ruang bagi olah kepekaan. Bergaul dengan ketidakutuhan menagih sikap mental yang kuat. Tidak lekas puas, tidak lekas menyerah apalagi putus asa. Yang dibutuhkan adalah kehausan menemukan jalan kemungkinan dari kebuntuan persoalan. Tak tahan jika harus berpangku tangan. Punya hasrat untuk senantiasa mengubah yang berantakan; membingkai segala yang acak (tak teratur) menjadi bermakna dan berwajah (indah).

"Latihan Drama" tampil minimalis bahkan sangat miskin dari sisi olahan elemen pentas. Teks lebih merupakan respons dan komentar manasuka terhadap kaum terdidik yang mengemban kepercayaan mengurus umat dan masyarakat. Pejabat dan kaum terdidik tak jarang mempraktekkan dan mengekalkan mentalitas tak terpuji dan pikiran kolonial dalam tata kelola pemerintahan dan pembangunan warga merdeka. Bahkan para petinggi sekaligus calon pemimpin sewaktu-waktu menjelma anjing. Melolong dan menyalak. Menampakkan wajah animalistik di balik wajah anggun dan pidato-pidato manisnya. Jabatan bukan tidak mungkin menjadi lahan tampan bagi perlindungan serta pembiakan kebuasan, arogansi dan kerakusan.

Walau masih sebatas reaksi dan komentar, pentas membuka kran kritisisme. Penelanjangan dan nyali untuk memutilasi aneka bentuk kepalsuan, borok, luka dan amis nanah penyakit mental dan kemanusiaan. Sehingga mengobarkan kesadaran, tekad serta keberanian untuk menata dan membuatnya lebih bermartabat.

Model Alternatif
Model penggalian dan penghadiran pentas "Latihan Drama" merupakan ideal persinggungan teater dan lembaga pendidikan dalam mendorong kritisisme, merawat keberanian, dan imagi kreatif. Menggairahkan gerakan turun ke masyarakat.

Membangun komunikasi panggung yang bersendi pada pokok soal aktual kehidupan. Menyelami aneka persoalan, geliat dan dinamika hidup konkret masyarakat agar kemudian diulik dan diperkarakan. Jadi sumber inspirasi penciptaan karya kreatif seni sekaligus materi studi akademik yang seksi dan memikat. Teater dapat menjadi model alternatif pembelajaran.

Mengimbangi disiplin formal isi maupun metodologi keilmuan. Menyediakan ruang alternatif pembacaan, ruang renung dan ekspresi tanpa batas. Mensubversi realitas dan kemapanan. Menggairahkan kreativitas, menawarkan gagasan pembanding. Menggabungkan serta mengelola fakta dan fiksi, realitas dan imajinasi, pikiran dan emosi, kesadaran dan ekspresi-ekspresi nirsadar. Pada titik ini, teater dan lembaga pendidikan bisa berkolaborasi dalam mendidik generasi yang kreatif, peka serta berorientasi pada progresivitas dan kebaruan.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved