'Ahok' Tidak Turun dari Langit

Namun karena Ahok mendapat tentangan yang keras dari partai-partai politik dan efek media Ibu Kota

'Ahok' Tidak Turun dari Langit
Kompas.com/Alsadad Rudi
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di Balai Kota, Kamis (10/3/2016) 

Oleh Matheos Viktor Messakh
Warga Kota Kupang

POS KUPANG.COM - Peristiwa penolakan Basuki Tjahaja Purnama a.k.a. Ahok untuk maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dari partai politik bukanlah sebuah fenomena baru. Ada sejumlah orang telah menolak untuk maju sebagai pemimpin di daerah mereka dari partai politik.

Namun karena Ahok mendapat tentangan yang keras dari partai-partai politik dan efek media Ibu Kota, maka gaung dari peristiwa ini menjadi besar. Apalagi sejumlah mantan menteri seakan bersekutu melawan Ahok. Dan, yang paling menarik perhatian adalah kemarahan matriarch Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri yang muncul dengan istilah ketus tak berasal-usul gramatik 'deparpolisasi' dan memerintah para kader partai ini untuk melawan Ahok.

Fenomena Ahok ini menimbulkan pertanyaan yang relevan untuk berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kota Kupang: Apakah penolakan serupa bisa terjadi di daerah lain? Apakah aktor-aktor politik independen di luar Jakarta mampu melakukan hal serupa dan tidak tersingkir dalam percaturan politik daerah? Apakah yang terjadi di DKI Jakarta adalah karena faktor Ahok atau faktor partai politik?

Menantikan pemimpin yang benar dan adil yang bisa membawa sebuah masyarakat keluar dari persoalan panjang yang mendera mereka adalah fenomena sejarah yang selalu terulang. Penantian ini terjadi dalam banyak kebudayaan. Konsep-konsep seperti Ratu Adil, Satrio Piningit, Imam Mahdi, dan mesias ada dalam kebudayaan-kebudayaan besar dunia.

Namun, konsep-konsep seperti itu lahir dari suatu pandangan dunia (world view) yang berbeda dari pandangan modern di mana proses harus diperhitungkan. Tokoh-tokoh mesianis selalu digambarkan sebagai yang turun dari langit atau 'diutus Yang Maha Kuasa' tanpa penjelasan yang memadai tentang proses munculnya sang tokoh. Proses munculnya sang tokoh selalu mendapat porsi yang kecil, tidak lengkap bahkan misterius dalam literatur-literatur archaic.

Dari segi pandangan literasi modern, cerita-cerita mesianis ini bisa dikatakan menafikan proses, menafikan kenyataan bahwa ada suatu upaya untuk melahirkan pemimpin dengan kualitas paripurna dan berpihak pada rakyat. Pengaruh narasi mesianis ini membuat banyak orang salah memahami mesianisme atau bahkan memahami mesianisme sebagai mukjizat atau keajaiban semata.

Dalam konteks politik modern, banyak orang gagal melihat bahwa ada proses yang melahirkan pemimpin dengan kualitas ketokohan seperti Ahok. Padahal kita tahu bersama bahwa ketokohan Ahok berkembangnya seiring waktu dan masyarakat turut menentukan dalam proses pembentukan itu.

Ahok bukan keajaiban atau mukjizat yang turun dari langit. Ahok lahir dalam masyarakat, lahir dari kandungan keluarga yang baik, berbudi dan memegang prinsip, kemudian didukung oleh keinginan masyarakat untuk mempunyai pemimpin yang mau dan mampu memimpin mereka keluar dari persoalan-persoalan massal kemasyarakatan. Itulah Basuki Tjahaja Purnama yang bersinar bagaikan cahaya purnama.

Memang ada aspek personal, yaitu aspek pendidikan dalam keluarga sebagaimana sering Ahok begitu membanggakan didikan ayahnya, tetapi itu semua lebih merupakan variabel pendukung saja. Semua itu lebih merupakan variabel kepemimpinan yang adil dan benar. Artinya, di dalam masyarakat kita ada banyak orang seperti Ahok; ada banyak orang yang mempunyai kualitas personal yang lebih dari memadai untuk menjadi pemimpin yang benar; tinggal dilihat saja cirinya dan rekam jejaknya untuk diorbitkan menjadi pemimpin.

Di sinilah tugas masyarakat sipil dan partai politik, untuk memilah antara politisi yang baik dan politisi yang busuk. Apa yang seharusnya dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat sipil, termasuk kategori primordial (etnis, religius, profesional dst) adalah melihat di mana kader baik dan potensial berada dan didukung. Itulah proses yang diharapkan menciptakan pemimpin yang benar.

Artinya, kalau mau mendapat tokoh seperti Ahok, maka mari kita ciptakan, jangan bertanya apalagi menghalangi langkah mereka.

Catatan sejarah Kota Kupang menunjukkan bahwa kelas menengah Kota Kupang dari masa ke masa, setidaknya dari sekitar tahun 1930-an ketika yang dikategorikan kelas menengah mulai terbentuk, selalu bertaruh di pihak yang kuat (betting on the strong side) dalam setiap pertaruhan politik (Van Klinken, 2014). Warisan sejarah ini masih terjadi sampai sekarang, bukan saja dalam partai-partai politik yang mengejar rente sesaat menjelang pemilihan umum, namun juga dalam diri masyarakat.

Bahkan elemen-elemen masyarakat sipil seperti gereja pun melakukan hal yang sama. Lembaga-lembaga keagamaan, dengan dalih netralitas, seringkali acuh tak acuh dan tidak peduli terhadap pembentukan kader politik yang baik dan memenuhi standar politisi baik. Lembaga-lembaga seperti ini seringkali sinis terhadap calon dari rahim mereka sendiri, dan menunggu ketika calon tersebut telah menjadi besar, dominan dan korup barulah didukung. Padahal menapaki anak tangga politik adalah proses yang penuh kesulitan dan bisa saja sang kader terpaksa memilih politik berlumur kecurangan dan dosa. Menunggu untuk mendukung seorang kader yang telah menjadi besar sama saja dengan terlambat mendampingi anak-anak sendiri dalam padang gurun politik dunia.

Ahok berani keluar dari lingkaran setan partai politik karena dia tahu dukungan besar. Keberanian Ahok bukan karena ia adalah seorang titisan yang turun dari langit, melainkan karena ia sadar bahwa dukungan terhadap dirinya begitu besar dari rakyat. Jika dukungannya tidak besar, belum tentu dia melakukan tindakan berani ini. Dia tentu harus sedikit 'bermain cantik' dalam politik seperti yang dia lakukan ketika ia maju bersama Jokowi.

Partai politik menjadi begitu resisten sehingga kehilangan nalar untuk melihat realitas. Seandainya partai-partai politik mempunyai visi yang jelas untuk menciptakan kader berkualitas, mereka tidak akan kebakaran jenggot menghadapi fenomena Ahok. Padahal telah ada preseden sejarah sebelumnya dimana efek Jokowi telah membuat partai-partai sibuk membela diri bahwa antusiasme politik yang melonjak bukan karena faktor Jokowi. Sekarang ini partai-partai kembali sibuk memadamkan api politik dan menyangkal adanya efek Ahok.

Partai politik lahir sebagai upaya untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Tetapi contoh di banyak negara membuktikan bahwa jika komunikasi antara rakyat dan partai tersumbat, maka akan ada lembaga atau institusi dalam masyarakat yang mengambil alih fungsi komunikasi itu.

Saluran komunikasi politik yang tersumbat akan membuat aspirasi meluap; bisa ke arah yang positif, bisa juga ke arah yang negatif. Kegagalan partai di Jerman setelah Perang Dunia Pertama misalnya, kemudian menghasilkan munculnya Nazisme dengan negara polisi (police state) yang berujung pada Holocaust. Ketika partai gagal, rakyat akan mengambil alih (when parties fails, people will take over) bukanlah slogan yang jauh dari kita.

Jadi daripada kita meributkan ketidakbecusan, oportunisme sesaat dan kecurangan partai politik, marilah warga Kota Kupang kita munculkan calon-calon muda, independen, dan berkualitas untuk memimpin kota ini ke masa depan yang lebih menjanjikan. Semua itu dimulai dari langkah-langkah sederhana misalnya dengan mengumpulkan KTP untuk mendukung mereka.

Pemimpin yang benar dan adil tidak turun dari langit, ia harus diciptakan. Saya teringat sebuah nasehat dari seorang pendeta tua di Alor yang disampaikan kepada seorang mahasiswa yang berpraktek di sana: kalau mau hormat dan dukung orang, jangan pilih-pilih yang tua dan terhormat karena mereka akan segera tua dan mati; pilihlah anak-anak kecil dan orang muda karena mereka akan tumbuh besar dan berkuasa.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help