Pelantikan Kepala Daerah di NTT

Efek Kartini dalam Pilkada Manggarai Barat

Empat orang pendeta perempuan terpilih untuk menakhodai Majelis Sinode GMIT (Gereja Masehi Injili

Efek Kartini dalam Pilkada Manggarai Barat
POS KUPANG/MAKSI MARHO
Maria Geong 

Oleh Willem B. Berybe
Mantan Guru, Tinggal di BTN Kolhua Kupang

POS KUPANG.COM - Opini Pdt. Yuda D. Hawu Haba, S.Th (Pos Kupang, 11/1/ 2016) berjudul Srikandi. Siapa Srikandi dimaksud?

Empat orang pendeta perempuan terpilih untuk menakhodai Majelis Sinode GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) periode 2015-2019. Mereka adalah Pdt. Dr. Mery L.Y. Kolimon (ketua), Pdt. Agustina Oematan-Litelnoni, S.Th. (wakil ketua), Pdt. Marselintje Jacoba Ay-Touselak (wakil sekretaris), dan Pnt. Mariana Roesmono Rohi Bire, S.Sos, MM (bendahara).

Tulisan tersebut, hemat saya, ingin menempatkan sosok perempuan di panggung kepemimpinan wilayah entah bersifat gerejawi (GMIT) atau duniawi (negara, provinsi, walikota/kabupaten, kecamatan, lurah/desa). Pdt. Yuda D. Hawu Haba, S.Th melihat munculnya tokoh perempuan tidak sekedar sebuah rutinitas pergantian kepemimpinan, tapi atas dasar kapabilitas dan komitmen mereka untuk membangun GMIT empat tahun ke depan. Srikandi, kata Yuda, adalah sosok wanita berkarakter dan berwibawa, bijaksana, bertanggung jawab dan pantang menyerah membela kebenaran sebagaimana diceritakan dalam Mahabharata atau Pewayangan Jawa.

Dalam Kabinet SBY Jilid 1, ada empat menteri perempuan yaitu Marie Elka Pangestu, Fadilah Supari, Meutia Farida Hatta Swassono, dan Sri Mulyani Indrawati. Apa kriterianya? Memiliki karakter pemimpin, integritas, mau bekerja keras, dan diterima oleh rakyat (Kompas, 4 Oktober 2004).

Kesimpulannya, keempat perempuan tersebut di mata SBY memiliki kapasitas untuk memimpin sebuah lembaga kementerian dalam urusan pemerintahan di tingkat nasional.

R.A. Kartini, dalam suratnya kepada Tuan Anton dan Nyonya (4 Oktober 1902), mengemukakan sebuah pandangan (paham) yang brilian. 'Pekerjaan memajukan peradaban itu haruslah diserahkan kepada kaum perempuan.

Menurut Kartini ada tiga perkara yang harus dimiliki bila seorang perempuan diberi kesempatan dan peran yaitu ada kehendak, ada kesanggupan, dan boleh mengerjakannya' (Habis Gelap Terbitlah Terang, Terjemahan Armijn Pane, Balai Pustaka, 1990, hal. 158). Hal ini membuktikan bahwa perempuan Indonesia memiliki kecerdasan yang tak kalah dari laki-laki.

Dalam sejarah pemerintahan Kabupaten Manggarai (sebelum dan pasca pemekaran) belum muncul figur perempuan sebagai bupati atau wakil bupati. Pertanyaannya, apakah kaum perempuan Manggarai tidak bisa memimpin sebuah wilayah pemerintahan setingkat kabupaten bahkan provinsi? Kalau di panggung legislatif ada Kristofora B. Bantang (Veni) dari Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) dan Yeni Veronika (Yeni) dari Kabupaten Manggarai yang berkiprah di DPRD Provinsi NTT periode 2014-2019 dan ada yang pernah tampil di periode sebelumnya.

Mitos bahwa perempuan identik dengan kelembutan, lemah gemulai, halus, warga kelas dua (dalam kelompok masyarakat patriarkat), telah digilas oleh perkembangan sosial dan peradaban modern. Sudah banyak perempuan di dunia yang menduduki kursi presiden atau setara presiden seperti Margaret Thatcher (Inggris) yang dijuluki Iron Lady, Corazon Aquino (Filipina), Angela Merkel (Jerman). Di dalam negeri kita kenal Megawati Soekarnoputri, presiden perempuan pertama RI yang masuk daftar wanita berpengaruh di dunia dari kawasan Asia, Rismaharini, walikota Surabaya yang berpenampilan sederhana dan merakyat.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help