Lipsus Sunat Tradisional

Tukang Sunat TTS Ikut Pelatihan Medis, Sunat Lebih Aman

kami menggunakan buah sirih atau biji kusambi untuk pengobatan setelah sunat. Karena itu akan sangat pedis

Tukang Sunat TTS Ikut Pelatihan Medis, Sunat Lebih Aman
POS KUPANG/FERRY NDOEN
Ilustrasi: Salah seorang anak sedang dikhitanan, di Novanto Center, di Kelurahan Fatululi, Sabtu (16/6/2012).

POS KUPANG.COM -- Ketua Sunat Tradisional Kabupaten TTS, Alex Sanam menjelaskan, tradisi mewajibkan sifon sudah ditinggalkan semua tukang sunat tradisional di Kabupaten TTS sejak mereka menjalani pelatihan medis tahun 1990.

Pelatihan medis saat itu difasilitasi penggiat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Roma.

Mereka mendapat pengetahuan dan keterampilan tentang cara sunat yang sehat dan tidak membutuhkan sifon. Saat pelatihan mereka mendapat bimbingan bagaimana menggunakan alat medis dan cara pengobatan yang benar.

Pelatihan medis, demikian Alex, menyadarkan dia dan rekan- rekannya para penyunat tradisional bahwa berhubungan seks pasca sunat berpeluang menyebarkan penyakit menular seksual (PMS).

Artinya, baik pria maupun si wanita sama-sama menderita terkena penyakit.

Modal pelatihan medis juga memungkinkan proses sunat lebih aman.

"Kalau dulu (sebelum ikut pelatihan medis, Red) kami menggunakan buah sirih atau biji kusambi untuk pengobatan setelah sunat. Karena itu akan sangat pedis saat dipakai dan yang disunat harus tahan. Tetapi sekarang kami sudah pakai obat medis dan tidak menggunakan bambu jepit lagi. Kami sudah pakai silet, jadi langsung potong," kata Alex saat ditemui di kediamannya, Jumat (15/1/2016).*

Ikuti terus berita-berita terkini dan menarik dari http://pos-kupang.com  atau http://kupang.tribunnews.com

Like Facebook www.facebook.com/poskupang
Follow Twitter https://twitter.com/poskupang

Editor: Alfred Dama
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved