Letkol Laut M Wirda Prayogo Menahkodai Jagoan TNI AL

Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Rigel 933 sudah dua bulan tiba di peraian Kupang dan berlabuh di Dermaga Lantamal VII Kupang.

Letkol Laut M Wirda Prayogo Menahkodai Jagoan TNI AL
POS KUPANG/NOVEMY LEO
KRI RIGEL 933 - Kapal KRI Rigel 933 saat bersandar di Dermaga Lantamal VII Kupang, Rabu (13/1/2016) siang. 

"KRI Rigel 933 berjenis MPRV (Multi Purpose Research Vessel), yang merupakan sejarah baru di jajaran kapal-kapal TNI AL dalam memodernisasi armada kapal, khususnya kapal survey hidro-oseanograf. Saya bahagia dan bangga bisa menjadi komandan KRI Rigel 933," kata Letkol Wirda di ruang makan KRI Rigel 933, (13/1/2016) siang, saat kapal ini bersandar di Pelabuhan Lantamal VII Kupang.

Ditanya komitmennya dalam menakodai Rigel 933, ayah dari Gozi, Habibilah, Ajdiar dan Asiyah ini memastikan akan menjalankan amanah dari Kepala Staff Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Madya TNI, Ade Supandi yang disampaikan kepadanya saat melantiknya menjadi Nahkoda Rigel 933 di Perancis 2015.

"Saya akan memelihara KRI Rigel 933 dengan baik, karena KRI ini merupakan amanat dari rakyat Indonesia. Upaya pengadaan kapal ini bukanlah harga yang murah yakni sebesar Rp 564 miliar dan lebih dari itu fungsinya pun sangat penting. Karenanya para perwira dan prajurit yang ditugaskan di KRI Rigel 933 harus menunjukkan dedikasi untuk bisa memelihara KRIRigel 933 agar dapat digunakan untuk menjalankan fungsinya dalam kondisi prima," kata alumni AKABRI '98 angkatan 44 ini.

Selama dua bulan bertugas di wilayah NTT, khususnya melakukan survey di Selat Mbay dan sekitarnya, lelaki yang hobi berenang dan joging ini mengatakan, banyak data terbaru yang diperolehanya dari lima kegiatan di sana.

"Harapan saya ada kontribusi positif dari komunitas maritim juga para nelayan dan dinas nafigasi. Untuk bisa saling bekerjasama saling membantu guna mempercepat hasil riset, caranya dengan memberikan informasi mengenai peraiaran, ada kapal karam misalnya dan lainnya," kata anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Muhammad Sarjono Adnan dan Warsiti ini.

Menurutnya, dalam menjalankan tugasnya selama berbulan-bulan, banyak suka duka yang dialaminya.

"Dukanya, ya pasti karena jauh dari keluarga selama berbulan-bulan. Komunikasi hanya bisa dilakukan melalui telepon, jika signal tidak ada itu yang membuat sedih. Tapi sukanya, jika data yang kita peroleh dari survei itu bisa berguna bagi kepentingan banyak orang," kata pria bertinggi 169 cm dengan berat 60 kg ini. (vel)

Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help