Selamat Bekerja MS GMIT

Jemaat GMIT yang Heterogen Bisa Jadi Jebakan Oleh yang Memimpin Gereja

Gereja harus mampu mengambil jarak. Gereja punya perhatian pada politik, tapi gereja bukan parpol.

Jemaat GMIT yang Heterogen Bisa Jadi Jebakan Oleh yang Memimpin Gereja
ist
Pdt. Mery Kolimon 


Laporan Wartawan Pos Kupang.com, Hermina Pello

POSKUPANG.COM, KUPANG--"Sore ini kita menyaksikan serah terima jabatan dan kita mengalami tantangan yang tidak lazim. GMIT adalah gereja terbesar nomor  dua di Indonesia sesudah HKBP. Tetapi GMIT berbeda dengan HKBP karena relatif homongen, sedangkan GMIT sangat heterogen suku etnis sudah dari dulu dan ini bisa menjadi jebakan yang dialami oleh siapapun yang memimpin gereja.  Ini adalah tantangan besar. Beulm lagi bicara geografi, tingkat pendapatan ada gereja yang relatif kaya dan ada yang tidak. Bagaimana menjadi pastor di tengah keragaman ini? Dan ini tidak mudah."

Demikian Pdt. Dr. AA Yewangoe, saat menyampaikan khotbah pada acara Perayaan Natal 2015, Tahun Baru 2016, dan serah terima MS GMIT periode 2011-2015 kepada MS GMIT periode 2015-2019 dan perhadapan MS Ex Offisio di Gereja Koinonia, Kota Kupang, Minggu (10/1/2016).

Menurutnya, MS akan berhadapan dengan tantangan ekonomi, sebagian besar masyarakat berada di dalam kemiskinan. Dan yang dihantam adalah gereja, di mana gereja?  Padahal ini adalah tugas pemerintah tapi gereja memikul ini karena ini yang gereja layani.

Yewangoe menyatakan, gereja harus berani mengoreksi apa yang salah. "Tantangan dari bidang politik, tapi kita tidak boleh lari karena kita adalah manusia politik bagaimana gereja yang tidak berpolitik praktis, tapi gereja mampu menyuarakan suaranya dan didengar," katanya.

Menurut dia, tantangan yang dihadapi gereja adalah bagimana gereja terlalu mudah mengidentikan diri dengan parpol atau dengam seorang tokoh. Gereja harus mampu mengambil jarak. Gereja punya perhatian pada politik, tapi gereja bukan parpol.

MS GMIT yang baru ini akan melanjutkan estafet pelayanan untuk empat  tahun ke depqn sudah pasti tantangvan makin banyak, dan ini bagus, kalau tidak gereja mati. Masalah kemiskinan ini masuk. Konon kabarnya NTT,  nanti tuhan tolong. Mudah-mudahan  tidak begitu. Tapi ini adalah tantangan. Ukuran selalu bagimana  yang lemah bisa diangkat. *

Penulis: Hermina Pello
Editor: Hyeron Modo
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved