65% Potensi Perikanan dari Laut Sawu

Laut Sawu merupakan wilayah utama pelayaran dan alur migrasi spesies penting serta dilindungi.

65% Potensi Perikanan dari Laut Sawu
Net
Proses penangkapan ikan paus dengan cara tradisional oleh masyarakat Lembata

POS KUPANG.COM, KUPANG - Salah satu Kawasan Konservasi Perairan (KKP) berada di Laut Sawu. Potensi perikanan yang disumbangkan dari Laut Sawu sebesar 65 persen.

Laut Sawu memiliki tingkat keanekaragaman, seperti terumbu karang, lamun, mangrove dan lainnya. Sehingga pemerintah atau pemerintah daerah harus bekerja sama dengan masyarakat, swasta, stakeholder dan lainnya untuk mengelola dan mengembangkan KKP Laut Sawu.

Hal ini disampaikan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional, Yesaya Mau, pada Diskusi Akhir Tahun Membangun Jejaring Kemitraan Strategis antarKawasan Konservasi Perairan di NTT di
Palacio Room 1 Aston Kupang Hotel, Selasa (15/12/2015).

Laut Sawu merupakan wilayah utama pelayaran dan alur migrasi spesies penting serta dilindungi, yaitu paus, dugong, penyu dan lumba-lumba. Potensi Taman Nasional Perairan Laut Sawu memiliki luas 3, 5 juta hektar. Kawasan Konverasinya (KK) atau zona intinya hanya dua persen, bila kapal melewati KK maka alaram kapal akan berbunyi.

Dikatakan Yesaya, konservasi Laut Sawu untuk kesejahteraan masyarakat NTT. Ia mengajak pemerintah, masyarakat, pemerhati, peneliti dan lainnya untuk dapat menjaga Laut Sawu tersebut.
Ia menjelaskan, strategi dalam penguatan Laut Sawu, terdiri dari penguatan kelembagaan TNP Laut Sawu, pengelolaan sumber daya alam TNP Laut Sawu, pengelolaan sumber daya sosial ekonomi dan budaya.

"Konservasi tidak melarang masyarakat, tapi manfaat dari konservasi tersebut jauh lebih besar. Zona inti hanya 2% untuk menjaga makhluk hidup di dalam Laut Sawu. Jangan sampai anak cucu nanti hanya bisa melihat lobster, udang, kepiting di gambar saja dan tidak pernah menikmati. Tahun depan zona inti pemanfaatan untuk Laut Sawu akan dipasang pelampung khusus," tuturnya.

Project Leader The Nature Conservancy, Alexander, menyampaikan, pengembangan kawasan konservasi kelautan juga untuk kesejahteraan masyarakat. Ikan di lautan tidak bergerak berdasarkan administrasi tertentu. Pengelolaan laut sawu kalau dikelola versi Laut Sawu saja, maka akan menjadi masalah. Jika ingin mengembangkan paus sebagai obyek pariwisata, maka pengelolaannya harus sama seperti di Laut Banda.

"Sebab KKP bukan mutlak milik kita saja. Pembangunan KKP harus bisa memberikan dampak multisektor, memberikan menfaat besar bagi pariwisata, ruang laut dikelola secara tepat dan pengelolaan KKP harus betul-betul menjelaskan peruntukkan," kata Alex. (yen)

Editor: Paul Burin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help