Literasi Sekolah: Gerakan Membaca Buku

Gerakan Literasi Sekolah ini sedang gencar disosialisasikan kepada guru-guru oleh Badan

Literasi Sekolah: Gerakan Membaca Buku
Net
Ilustrasi 

Oleh Drs. Niko Ratulangi, MM
Kepala UPT Sarpras Dispora NTT

POS KUPANG.COM - Ini kejutan baru dan baru kejutan! Mendikbud Anies Baswedan meluncurkan gerakan Literasi Sekolah. Kern mengatakan literasi adalah kegiatan yang melibatkan, menciptakan dan menginterpretasi makna melalui teks yang terkondisi oleh situasi budaya, historis dan sosial.

Kemudian literasi ini dikembangkan menjadi suatu gerakan "membaca dan menulis" yang bertujuan membiasakan dan memotivasi siswa agar mau membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti.

Gerakan Literasi Sekolah ini sedang gencar disosialisasikan kepada guru-guru oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud dan sangat hebat dibicarakan oleh para guru di sekolah sebagai model dalam memotivasi membaca dan menulis para siswa.

Meskipun Mendikbud membuat kejutan, Pemerintah Provinsi NTT telah melakukan hal yang hampir serupa jauh sebelumnya dalam bantuk Gong Belajar yang tujuannya juga untuk memotivasi siswa agar benar-benar memanfaatkan waktu untuk belajar (membaca buku) di sekolah dan di rumah. Bahkan spirit Gong Belajar juga telah disosialisasikan ke seluruh sekolah di NTT, baik secara langsung maupun melalui media massa.

Membaca Buku
Pusat kegiatan literasi adalah membaca teks atau membaca buku oleh siswa. Membaca buku bagi sebagian orang mungkin menjadi "pengantar tidur" sebab pengalaman menunjukkan, baru membaca setengah halaman, mata perlahan-lahan berat kemudian tertidur lelap dengan posisi buku di atas dada. Tetapi tidak demikian bagi Dr. Roger Farr yang dikutip Tim Gerakan Literasi Nasional.

Menurut Farr, membaca adalah jantungnya pendidikan. Tanpa membaca pendidikan akan mati! Membaca merupakan batu loncatan bagi keberhasilan di sekolah dan dalam kehidupan kelak di masyarakat. Tanpa kemampuan membaca yang layak, keberhasilan di sekolah lanjutan dan di perguruan tinggi tidak mungkin. Selain itu, Glenn Doman mengatakan membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup.

Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca.
Teori yang disampaikan kedua pakar di atas telah dilaksanakan dalam dunia pendidikan dan benar adanya bahwa membaca merupakan dasar dalam pendidikan bahkan membaca menjadi pintu masuk semua ilmu pengetahuan di sekolah. Seorang siswa akan mengerti suatu mata pelajaran apabila ia bisa membaca dan menulis. Seorang guru mampu mengajar ilmu kepada siswa karena telah membaca buku sebelumnya, dan seorang siswa dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan dalam kehidupannya karena ia juga pernah membaca.

Itulah sebabnya Lyndon B. Johnson, Presiden ke-36 AS, menyatakan jawaban dari semua masalah bangsa kita bahkan jawaban dari semua masalah di dunia ada pada satu kata. Kata itu adalah PENDIDIKAN. Sementara Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris, mengungkapkan, "Saya punya tiga prioritas kerja sebagai perdana menteri yaitu: PENDIDIKAN, PENDIDIKAN, dan PENDIDIKAN. Kata-kata slogan mengatakan, mimpi seorang pemimpin besar yang berlatar belakang pendidikan tinggi, cepat atau lambat akan menjadi kenyataan dalam sebuah karya besar, tetapi mimpi seorang manusia yang tidak berpendidikan hanya tetap menjadi mimpi bunga-bunga tidur sebagai dasar untuk sekadar menebak-nebak maknanya dalam kehidupan.

Fakta tentang kondisi literasi di Indonesia adalah bangsa Indonesia dianggap tidak memiliki budaya membaca. Budaya membaca masyarakat Indonesia menempati peringkat paling rendah di antara 52 negara di Asia Timur (Kompas, 2009).

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved