Harisany Olvira Ballo: Uang Bukan Segalanya

Tuhan senantiasa menyediakan jalan dan berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.Sebagaimana yang dialami oleh Harisany Olvira Ballo alias Ira

Harisany Olvira Ballo: Uang Bukan Segalanya
PK/VEL
Olvira Ballo 

Pengiriman mau tidak mau harus menggunakan jasa penerbangan udara, karena produk ini tidak bisa dikirim melalui kapal laut. Karena dikhawatirkan paketnya terkena air laut sehingga bisa merusak produk. Kami masih mencari solusi yang baik, sehingga kerja sama itu bisa terealisasi.

Karena itu, pemasaran masih dalam jumlah sedikit berdasarkan pesanan perseorangan. Namun setidaknya lumayan dan lancar meski tidak dalam jumlah banyak.

Adakah kendala lain yang Anda hadapi?
Banyak ya. Tadi mengenai pemasaran. Untuk proses produksi juga kami mengalami kendala. Selama ini kami hanya punya satu dapur produksi. Sedangkan produk kami ada produk makanan camilan dan kue serta produk abon ikan dan daging se'i. Karena itu kami kesulitan untuk memproduksi semua itu dalam satu dapur.

Kami khawatir ada kontaminasi antar produk sehingga kami memilih beberapa produk sejenis dengan pertimbangan respons market. Akhirnya produk Se'i dan Abon Ikan, kami hentikan. Sekarang Mama Ana hanya fokus pada produk pengolahan makanan kue tar susu, kacang panggang dan sagu. Kendala lain menyangkut SDM pekerja.

Ada tiga tenaga full time dan saya melihat memang inisiatif masih kurang, namun untuk kejujuran, mereka sangat teruji. Ke depan kami akan lebih meningkatkan konsep kebersamaan dalam bekerja. Kami juga sering mengevaluasi permintaan dan selera pasar.

Kami akan terus berinovasi mengikuti selera pasar sehingga kami bisa bertahan. Kami juga sedang memikirkan promosi lanjutannya seperti apa sehingga Mama Ana bisa lebih dikenal masyarakat NTT secara luas, termasuk masyarakat di luar NTT dan di dunia. O ya, dalam waktu dekat akan ada produk baru yang muncul.

Apa nama produk baru itu?
Mama Ana sedang mempersiapkan produk terbaru kacang mete panggang. Kacangnya kami datangkan dari Flores dan daratan Timor. Rasanya, tunggu saja nanti. Kami masih mengurus sertifikatnya dari Balai POM.

Banyak kendala, tapi Anda tetap bertahan di bisnis ini. Apa sih yang membuat Anda bertahan?
Jujur, dengan tantangan yang banyak itu seringkali membuat saya tidak kuat menahannya dan hampir berhenti. Pada bulan keenam setelah memulai usaha, saya sempat berpikir untuk menutup bisnis ini, menjual inventaris lalu kembali ke Jakarta karena ada tawaran kerja di sana.

Namun saat itu saya kembali berpikir tentang apa yang sudah saya rintis meski baru sedikit. Pikir saya, pekerja saya baru 2 sampai 3 orang, namun setidaknya sudah ada orang yang mau bekerja untuk saya. Pembeli juga yang setia meski hanya membeli satu dua produk. Juga ada toko-toko yang sudah rutin menerima produk Mama Ana.

Ada juga beberapa masyarakat yang produknya, seperti kacang, beras, gula, anyaman, dan bahan lainnya yang rutin menjual kepada kami. Artinya bahwa sudah ada jaringan, sudah ada relasi baik, sudah ada simbiosis mutualisme. Lalu, apakah semua relasi yang sudah bangun itu, saya tinggalkan begitu saja. Tentu hal itu tidak bisa saya lakukan. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk terus berjuang dan menjalankan bisnis kuliner itu hingga saat ini.

Halaman
1234
Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved