El Tari Memorial Cup

El Tari Memorial Cup di Tengah Kisruh PSSI

Pertandingan-pertandingan yang dilewati kini menempatkan dua kesebelasan yang telah memastikan

El Tari Memorial Cup di Tengah Kisruh PSSI

Oleh Gabriel Ola
Warga Kota Maumere Kabupaten Sikka

POS KUPANG.COM - Di tengah karut-marutnya wajah persepakbolaan nasional (Indonesia), pencinta sepak bola Flobamorata masih memiliki secercah harapan melalui hajatan El Tari Memorial Cup yang dapat dijadikan momentum kebangkitan sepak bola Nusa Tenggara Timur.

Pertandingan-pertandingan yang dilewati kini menempatkan dua kesebelasan yang telah memastikan diri melaju ke babak final yakni Persami Maumere dan Perse Ende.

Kisruh PSSI mengindikasikan bahwa dunia sepak bola nasional telah terkontaminasi dengan kepentingan politik. Padahal sejatinya sepak bola menjadi medan yang bebas dari kepentingan politik karena olah raga (sepak bola) tidak sekedar menguji kemampuan mengolah si kulit bundar, melainkan menampilkan dan menjunjung tinggi sportivitas, kebersamaan, persaudaraan dan kerukunan. Menjadi sebuah nilai yang perlu dilestarikan di tengah kemajemukan masyarakat Flobamorata.

Ajang El-Tari Memorial Cup bukan menjadi ajang perkelahian antara penonton dengan penonton, pemain dengan pemain, penonton dengan pemain maupun pemain dengan wasit karena semangat El-Tari Memorial Cup adalah bagaimana sesama saudara di bumi Flobamorata ini kita bersatu, bergandeng tangan melalui bola kaki bahkan semangat El-Tari Memorial Cup di tengah kisruh PSSI mesti dijadikan sebagai salah satu pemicu kebangkitan persepakbolaan nasional maupun regional. Ini bukan tidak mungkin karena pemain-pemain Flobamorata telah membuktikan diri dengan bergabung pada berbagai klub ternama.

Sepak bola memiliki pesan kemanusiaan. Hal ini dibuktikan ketika terjadi perang antara tentara Inggris dan tentara Argentina memperebutkan kepulauan Malvinas. Saat itu kesebelasan Argentina dan kesebelasan Inggris tengah bertanding dalam ajang FIFA World Cup. Sesungguhnya sepak bola membawa pesan perdamaian. Ada dimensi kemanusiaan terbersit ketika bola digulirkan di tengah lapangan hijau.

Sepak bola telah menembus sekat-sekat primordial, mengalahkan keangkuhan sara, mengabaikan kepentingan politik para elite. Sepak bola memberi inspirasi bahwa manusia perlu menjunjung tinggi nilai persaudaraan, kebersamaan yang merupakan salah satu nilai kemanusiaan yang paling hakiki.

Bukankah Maradona dan David Beckham telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita untuk berkaca dalam El-Tari Memorial Cup 2015 ini. Kedua bintang sepak bola tersebut mengajarkan kita tentang nilai perdamaian dan persaudaraan. Bahkan ajang El-Tari Memorial Cup 2015 memiliki momentum sejarah karena kita warga sepak bola NTT telah menunjukkan kepada Indonesia bahwa di tengah kemelut PSSI, dunia sepak bola NTT tetap menunjukkan eksistensinya.

Ajang El-Tari Memorial Cup memberikan pesan kepada Indonesia bahwa perseteruan elite PSSI dengan Pemerintah yang berdampak pada "mati surinya" dunia sepak bola nasional tidak mempengaruhi semangat anak-anak negeri penghuni Flobamorata untuk tetap berprestasi. Hajatan El-Tari Memorial Cup menjadi sebuah paradoks dalam dunia sepak bola kita dimana dalam suasana kemelut PSSI justru El-Tari Memorial Cup menjadi pelepas dahaga prestasi sepak bola. Paradoks ini juga memberikan pembelajaran yang sangat berharga kepada kita bahwa dalam kasus PSSI ternyata urusan sepak bola cenderung dipolitisasi oleh para elite.

Rupanya selama ini dunia sepak bola kita terkontaminasi dengan urusan politik elite, makanya prestai masih jauh dari harapan. Oleh karena itu, ajang El-Tari Memorial Cup 2015 diharapkan tidak dicoreng dengan perilaku yang mencirikan terdegradasinya peradaban manusia seperti perkelahian. Semangat penonton untuk mendukung tim kecintaan, membela mati-matian daerah adalah sah-sah saja, namun harus tetap menjunjung tinggi sportivitas.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved