Idealisme Pemimpin dan Realitas Politik Setahun Jokowi

Pemimpin yang memiliki cela karena terlibat dalam kasus korupsi, misalnya, akan ketiadaan kewibawaan moral

Idealisme Pemimpin dan Realitas Politik Setahun Jokowi
AFP PHOTO
\Presiden Joko Widodo memberi penghormatan pada upacara peringatan HUT ke-70 TNI di Cilegon, Jawa Barat, 5 Oktober 2015. 

Oleh Paul Budi Kleden, SVD
Rohaniwan Katolik Tinggal di Roma

POS KUPANG.COM - Untuk melukiskan peran pemimpin dalam proses pembusukan, kita kenal pepatah, ikan mulai busuk dari kepalanya. Jika kepalanya sudah duluan busuk, maka sudah pasti bahwa cepat atau lambat seluruh tubuh ikan akan rusak.

Pemimpin yang memiliki cela karena terlibat dalam kasus korupsi, misalnya, akan ketiadaan kewibawaan moral untuk menerapkan secara konsisten peraturan hukum guna mencegah korupsi dan menindaki para bawahan yang sudah terjerat kasus korupsi. Pemimpin seperti ini seolah menciptakan iklim bahwa korupsi bukanlah masalah besar. Jika dibiarkan terus bertahan dalam jabatannya, pemimpin seperti ini perlahan menciptakan budaya korupsi, dalamnya korupsi bukan lagi dialami sebagai sebuah kejanggalan. Karena peran pemimpin yang demikian besar dalam penerusan mentalitas koruptif, maka para pejuang melawan korupsi menjadikan pemimpin yang korup sebagai sasaran bidikannya. Pertanyaan yang kita hadapi setiap kali mengganti pemimpin adalah, apakah benar bahwa dengan mengganti pemimpin kita memiliki jaminan bahwa seluruh entitas politik akan berfungsi sebagaimana mestinya?

Pada ikan mungkin benar bahwa selama kepalanya masih baik, ada jaminan bahwa tubuh ikan tidak bakal rusak. Namun, ketika berhadapan dengan kenyataan politik, kita mesti mengatakan bahwa tidak semudah itu persoalannya. Seorang pemimpin yang bersih, yang dipilih untuk menduduki satu jabatan karena dikenal bersih, belum tentu sanggup menggerakkan seluruh mesin kekuasaan untuk menghidupi idealisme yang diyakini, digagaskan dan diteruskannya. Seorang pemimpin yang bersih bisa dikucilkan dari realitas politik yang dipenuhi dengan negosiasi pembagian kekuasaan dan kekayaan, rekayasa isu politik, dan strategi siapa yang boleh dikorbankan untuk siapa.

Hal yang bisa terjadi dalam kondisi seperti ini adalah domestikasi sang pemimpin. Dia mulai membiasakan diri dengan realitas politik yang dihadapinya dan meninggalkan idealismenya. Dia terperangkap dalam realisme politis dan mulai mengikuti pola dan ritme permainan para politisi lain.

Dalam tahun pertama kepemimpinannya sebagai Presiden Indonesia, Jokowi tampaknya sedang mengalami kesenjangan tersebut, antara idealismenya sebagai pemimpin dan realitas politik yang masih sangat sulit digerakkannya. Setelah para partai pendukung membagi-bagi jatah menteri, mereka sibuk bernegosiasi dengan urusan BUMN. Namun, kelarutan menikmati kemenangan tidak bisa bertahan lama, karena para lawan dengan cepat membangun strategi untuk mengganggu.

Kasus-kasus yang melibatkan para petinggi partai-partai pendukung perlahan-lahan diembuskan dan muncul ke permukaan. Mereka mulai sibuk membentengi diri, sebuah urusan yang sangat tidak mudah karena memang terlalu banyak yang membawa bopeng. Koalisi partai pendukung tidak hanya dipersulit oleh ketiadaan sebuah platform ideologis, melainkan oleh sejarah para politisinya yang bermasalah. Kepentingan melindungi para petinggi mencuri terlalu banyak perhatian.

Sebab itu, konsentrasi untuk menerjemahkan idealisme Presiden menjadi terganggu.

Tantangan kepemimpinan Presiden Jokowi diperbesar oleh situasi ekonomi global yang sedang tidak menentu. Namun, daya untuk menghadapi gelombang kesulitan global akan lebih besar apabila situasi dalam negeri lebih tertata. Persoalan global adalah masalah ekonomi, tetapi kemampuan menjawabnya tidak hanya bergantung pada paket ekonomi yang diluncurkan, melainkan strategi politik yang dikembangkan untuk meningkatkan sinergi pemerintah. Kabinet Kerja hanya bisa bekerja apabila ada pemahaman dan kehendak yang sama.

Hal ini menjadi sulit ketika kabinet Jokowi terpaksa diisi pula oleh orang-orang yang tidak memiliki keunggulan lain selain sejarah keluarga atau keanggotaan dalam sebuah partai.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help