Harapan Menuai Untung Bisa Buntung Bila Menemui Pengembang Nakal

Istilah pengembang "nakal" dipakai untuk menyebut pengembang yang melanggar etika profesi terapan Asosiasi perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia.

Harapan Menuai Untung Bisa Buntung Bila Menemui Pengembang Nakal
POS KUPANG//ROBERTUS ROPO
Inilah kondisi banguan dan jalan di perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Kelurahan Fatukoa, Sabtu (14/12/2013).

POS KUPANG.COM, KOMPAS.com - Ada beberapa hal perlu dipertimbangkan saat memutuskan hendak berinvestasi properti. Riwayat pengembang adalah salah satunya. Harapan menuai untung investasi dari properti bisa seketika berubah menjadi buntung bila sampai bertemu pengembang "nakal".

Istilah pengembang "nakal" dipakai untuk menyebut pengembang yang melanggar etika profesi terapan Asosiasi perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI). Asosiasi tersebut merupakan wadah bagi para pengembang berkumpul.

Bentuk pelanggaran bisa beragam. Wujudnya mulai dari melanggar AD/ART APERSI hingga ingkar janji ketika memasarkan produk, memberi iklan palsu di brosur, atau fasilitas dalam perjanjian tidak dibuat sehingga merugikan investor.

"Biasanya kami menerima laporan atau pengaduan dari DPD atau calon konsumen," ujar Ketua DPP APERSI, Eddy Ganefo, seperti dikutip dari Kompas.com, Minggu (2/2/2014).

Eddu pun meminta para calon investor meningkatkan kewaspadaannya terhadap para pengembang "nakal" tersebut. Soal prosedur penanganan pelanggaran, papar Eddy, organisasinya bisa mengeluarkan pengembang dari keanggotaan bila "kenakalannya" terbukti.

Namun, dia juga mengaku pernah mendapat keluhan dari calon pembeli properti yang tak butuh waktu lama dan segera diperbaiki pengembang begitu APERSI mengeluarkan surat peringatan.

Agar terhindar dari rayuan pengembang nakal, calon investor atau pembeli harus mempertimbangkan pilihannya dengan teliti. Berikut ini sejumlah jurus yang bisa dijalankan:

1. Informasi

Pengembang menjadi "nakal" atau melanggar etika profesi ditengarai bukan hanya soal citra dan perilaku, melainkan bisa juga karena konsumen tidak memiliki informasi dan pengetahuan yang cukup atau memahami aturan hukum bertransaksi properti.

Untuk itu, kecermatan mengumpulkan data dan menambah pengetahuan mengenai investasi properti merupakan modal penting bagi calon investor.

Halaman
123
Editor: Paul Burin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved