Tamu Kita

Dibisiki Mengurus Anak Jalanan

Mengurusi anak-anak jalanan, pendorong kereta, anak penjual kertas kresek dan anak pemulung bukan hal baru bagi Fony Mella.

Dibisiki Mengurus Anak Jalanan
PK
Fony Mella

Berapa anak yang Anda tampung dan sudah lulus sekolah?
Sejak taun 2011 sudah banyak anak dari rumah singgah ini yang lulus SD dan saat ini lanjut ke SMP. Di rumah singgah ini ada 180-an anak, dan sekitar 20-an anak sudah lulus SD dan saat ini masuk SMP. Jumlah yang sama juga untuk SMP, sudah melanjutkan sekolah ke SMA.

Saya terus mendampingi mereka. Puji Tuhan, lembaga ini dipercaya untuk mendapatkan dana beasiswa dari Kementerian Sosial RI untuk menolong anak-anak binaan kami. Saat ini, sekitar 80 anak yang mendapatkan beasiswa ini.

Mengurus anak jalanan susah-susah gampang. Bisa ceritakan suka-dukanya bersama anak jalanan?
Pertama kali mengumpulkan dan mengobrol dengan mereka agak sulit. Mereka merasa seperti orang asing. Tetapi, saya selalu awali dengan doa sebelum bekerja supaya Tuhan tetap menjamah hati anak-anak ini termasuk orangtua mereka. Dan, memang kalau semua dengan doa, akan dijalani dengan baik.

Saya bawa makanan, minuman duduk dengan mereka di jalan, di pasar. Dan, lama-lama mereka menerima saya. Saya lihat mereka di jalanan, saya panggil dan mengobrol. Anak-anak yang memulung kalau lewat di depan rumah, saya panggil, kasih mereka air minum. Akhirnya menjadi terbiasa, kalau pas ada saya di rumah dan mereka lewat, mereka singgah untuk minum air.

Adakah impian ke depan agar memiliki rumah singgah permanen di mana anak-anak bisa ditampung di dalamnya?
Ya, saya memang mengimpikan hal tersebut. Sehingga anak- anak bisa dibina dengan baik. Saya juga bisa melihat sejauh mana perkembangan mereka, sejauh mana dampak dari program yang saya lakukan terhadap perkembangan karakter mereka. Karena memang anak jalanan karakternya berbeda dengan anak- anak yang dididik dengan baik di rumah.

Biasanya anak jalanan semau gue, menyebutkan kata-kata senonoh dan kotor. Saya ingin mengubahnya agar hidupnya benar. Memang tidak muluk- muluk, tetapi minimal lima sampai 10 anak yang bisa menjadi contoh dan tinggalnya di rumah singgah. Dalam pembinaan setiap hari di rumah singgah ini, awalnya mereka mengeluarkan kata-kata kotor.

Tetapi, saya membuat sanksi bersama. Sanksi biasanya tanpa kekerasan. Saya melatih mereka tidak dengan kekerasan, tetapi dengan kelembutan. Yang paling sulit, tempat saya tidak memadai sehingga pembinaan tidak dilakukan dengan baik. Kesulitan lain sudah lama menyuarakan agar pemerintah melakukan pembebasan biaya sekolah bagi anak jalanan, tetapi sampai saat ini belum ada.

Anak-anak memiliki semangat sekolah, tetapi kesulitan biaya. Ada satu anak yang sudah sekolah, dalam perjalanan karena biaya sekolah dia akhirnya putus sekolah. Kami hanya membantu biaya awal seperti pakaian seragam, sepatu, buku tulis dan sebagainya dan tidak membantu pembayaran uang sekolah. Anak ini sudah kembali ke kampung, mungkin juga dia akan datang lagi ke Kupang dalam kondisi putus sekolah.

Terkadang karena sudah setiap hari di jalan dan bebas, biasanya anak-anak jalanan akan kembali ke jalan. Apa yang Anda lakukan?
Pertama, keluarga mereka tidak peduli dengan kehidupan anak- anak ini. Yang saya lakukan adalah membina keluarga atau orangtua mereka. Saya kumpulkan orangtua mereka sebulan sekali di rumah singgah. Saya lakukan pembinaan tentang pola asuh anak, cara mendidik anak yang baik dan benar.

Dan, saya senang ada beberapa orangtua yang sudah bisa mengatasi dan mendidik anak mereka dengan baik, dan anak mulai sekolah dengan baik. Saya lakukan pendekatan kepada keluarga dulu. Kalau keluarga sudah kuat secara mental dalam mendidik anak, pasti akan kuat juga ekonominya.

Apakah Anda menggandeng instansi pemerintah atau lembaga lain?
Saya bekerja sama dengan Dinas Sosial Provinsi NTT dan Kota Kupang. Sudah tiga kali, lembaga saya dengan Dinas Sosial melakukan layanan rumah singgah bagi anak telantar. Kami mengadakan pelatihan menyablon baju, membuat bunga dengan merangkai barang bekas, membuat pot bunga, membuat kripik pisang dan singkong.

Ke depan, anak-anak ini tamat sekolah tidak lagi ke jalan, tetapi mereka bisa membuka usaha sendiri dengan skill yang mereka miliki. Selanjutnya ya, bisa membantu perekonomian keluarga.

Bagaimana Anda melihat pemerintah melihat persoalan anak di Kota Kupang?
Bagi saya pemerintah belum maksimal. Harapan saya, pemerintah bisa lebih maksimal dan proaktif dalam penegakan Perda. Kota Kupang sudah memiliki Perda tentang Anak Jalanan. Pemerintah seharusnya memiliki ketegasan dalam mengeksekusi Perda ini.

Karena, Perda kalau sudah dibuat tetapi tidak dilaksanakan sama saja bohong dan buang-buang uang. Mendingan dana untuk membuat Perda dikasih kepada lembaga saya untuk membantu menyekolahkan anak-anak ini agar bebas dari buta huruf, keterbelakangan dan kemiskinan.

Ke depan, anak-anak jalanan di Kota Kupang bisa lebih diperhatikan pemerintah, pembebasan biaya sekolah untuk anak jalanan. Selama ini ada pembebasan biaya sekolah untuk anak panti saja dari Walikota Kupang.

Bangga Melihat Anak Jalanan Berhasil

SUATU kebanggaan tersendiri bagi Vonny, begitu akrab dari Fony Mella, jika bisa melihat anak-anak jalanan di Kota Kupang yang dibimbingnya berhasil. Anak-anak lulus dari ujian saja, baik SD, SMP maupun di bangku SMA, sudah membuatnya senang bukan main.
Ibu dua anak ini mengaku pekerjaan mengurus anak jalanan memang susah-susah gampang.

Dan, sebagai orang yang bekerja melayani Tuhan, ia juga harus meneladani ajaran Tuhan kepada anak-anak jalanan. Melayani tanpa pamrih, sehingga sebagian waktunya hanya bekerja untuk anak-anak.

Kepada Pos Kupang di kediamannya, Jalan Sekolah Polisi Negara (SPN), Kelurahan Oebobo, Kota Kupang, Rabu (23/9/2015), istri dari Pdt.Yantonius Henuk, mengatakan, anak- anak jalanan memiliki niat besar untuk sekolah. Tetapi, terkadang mereka terkendala biaya sehingga tidak bisa berbuat apa-apa.

Walau tidak banyak donatur yang membantu, Fony tetap bersemangat dan percaya bahwa segala kesulitan pasti ada jalan dan Tuhan pasti mendengar rintihan hati umatnya yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Fony pun sadar bahwa selama ini sudah banyak jalan terbuka untuknya dalam membantu anak jalanan.

Ibu dua anak yang suka traveling ini mengaku pekerjaan yang ia jalani saat ini memang sangat menyita waktu. Tetapi, ia tetap berusaha membagi waktu untuk suami dan anaknya.
Di sela kesibukan ia menyediakan waktu untuk bisa bermain dan berolahraga.

"Saya memberikan anak-anak mengikuti les privat dan les keterampilan lain seperti dance dan piano. Tetapi, kalau ada waktu senggang, saya mengajak mereka bermain sepeda pada sore hari. Kebetulan pembinaan anak jalanan setiap hari di rumah singgah langsung di rumah sehingga saya bisa sambil memperhatikan anak-anak saya," ujarnya. (nia)

Biodata :
Nama: Berthadyn Fony Mella
T T L : Kupang, 28 November
Suami : Yantonius Henuk, S. Th, M. Div
Anak : Warner Hudson Mckenzie Henuk (7 tahun)
Wilsam Rembrand Henuk (5 tahun)
Asal Sekolah:
1. Sekolah Tinggi Teologia Injili Abdi Allah (STT-IAA), Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, 1996-2000
2. SMAN 1 Kupang, 1993-1996
3. SMPN 2 Kupang, 1990-1993
4. SD Oetete 3 Kupang, 1984-1990
Pengalaman Pelayanan:
1. Obor Timor Ministry, 2011 -Sekarang, Pendiri, Pelayanan Anak Jalanan Kota Kupang
2. Dapartemen Diakonia YPPIII, Batu Malang, 2009-2010
3. Pelangi Kasih International School, Pantai Indah Kapuk, Jakarta, 2008-2009
4. Heaven Special Child School, Jakarta, 2006-2008
5. Gereja Kristen Kalam Kudus Jakarta Barat, 2002-2006
6. Sekolah Kristen Kalam Kudus Kosambi Baru, Jakarta, 2002-2006
7. Pariyangan Indah (PARI), Bogor, Jawa Barat 2001-2002
8. Gereja Kristen Abdiel (GKA) Gracia, Surabaya, Jawa Timur, 2000-2001
9. Gereja persekutuan kristen (GEPEKRIS) Sidoarjo, Jawa Timur, 1998-2000
10. Perkantas Kupang, Aktivis pelayanan siswa, 1993-1996

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved