Bisnis Batu Penggajawa Ende

Adrianus Cari yang Lonjong

Tangan Siti Hawa bergerak lincah di atas tumpukan batu ukuran kecil. Jari jemarinya cermat memilih batu berwarna di hamparan pasir pantai.

POS-KUPANG.COM, ENDE - Tangan Siti Hawa bergerak lincah di atas tumpukan batu ukuran kecil. Jari jemarinya cermat memilih batu berwarna di hamparan pasir pantai.

Batu-batu itu dia taruh dalam ember ukuran sedang lalu dikumpulkan pada tempat khusus.
Aktivitas yang mirip dilakoni warga Desa Ondorea, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende lainnya, Siti Badriah. Mata Siti Badriah begitu awas di antara hamparan pasir pantai.

Dia seolah beradu cepat dengan puluhan wanita dan pria memungut kepingan batu berwarna yang tercecer di sepanjang Pantai Penggajawa.

Sekali-kali Siti Badriah berpindah tempat. Selain menghindarkan diri dari kejaran ombak yang pecah di bibir pantai, juga untuk mencari batu lain yang dinilai lebih layak kumpulkan. Begitulah aktivitas rutin Siti Hawa, Siti Badriah, pasangan suami istri Emi-Mejid dan Mejid Musa dan puluhan warga Desa Ondorea saban hari.

Mereka memilah dan memilih batu yang dikenal dengan nama Penggajawa. Batu berwarna dominan hijau tersebut mereka kumpulkan lalu dijual kepada pembeli yang selalu datang ke desa yang terletak sekitar 25 km barat Ende, ibukota Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Siti, aktivitas memungut batu mereka lakukan sejak pukul 7.00 hingga 11.00 Wita. Setelah itu mereka beristirahat sejenak lalu melanjutkan pekerjaan memilah batu berwarna di bawah tenda yang dibangun seadanya untuk menahan sengatan terik matahari.

Sejak lama batu Penggajawa menjadi sumber pendapatan utama warga setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya kesehatan pun pendidikan anak-anak mereka.

"Iya, dari batu yang kami jual saya bisa kuliahkan anak di Makassar," kata Siti Hawa saat ditemui Pos Kupang, Sabtu (29/8/2015).

"Batu kami jual dengan harga bervariasi mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu per karung tergantung dari jenis batu," kata Siti Badriah. Wanita asal Kabupaten Alor yang bersuamikan warga Nangapanda ini menuturkan selain dijual secara eceren, batu berwarna itu pun dijual kepada para pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Menurut Emi dan suaminya Mejid Musa, mengumpulkan batu berwarna Penggajawa butuh kesabaran serta ketelitian. Untuk mendapatkan batu dengan kualitas warna terbaik harus cermat memilih.

Halaman
12
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help