profil

Marina Meidiyanti Solokana Takut Lihat Darah

Orangnya ramah, murah senyum dan cepat akrab dengan siapa saja. Ia juga cerdas.

Marina Meidiyanti Solokana Takut Lihat Darah
istimewa
Marina Meidiyanti Solokana

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Orangnya ramah, murah senyum dan cepat akrab dengan siapa saja. Ia juga cerdas.

Hal ini sesuai dengan jabatan yang kini diembannya, yakni Building Relationship Supervisor di Plan International Indonesia Program Area Timor yang membawahi Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU).

Siapakah dia? Namanya Marina Meidiyanti Solokana. Wanita kelahiran Kefamenanu ini sudah 'makan garam' dan malang melintang di beberapa NGO (Non-Governmental Organization) atau yang lebih dikenal lembaga swadaya masyarakat (LSM) hingga kemudian parkir di Plan International Indonesia Area Timor.

Tidak tertarik menjadi PNS? "Sebetulnya, waktu masih kecil saya bercita-cita ingin menjadi bidan desa, menggantikan mama yang menjadi bidan desa. Tapi saya takut lihat darah. Maka terdamparlah saya di LSM," ujar Yanti, demikian sapaannya.

Istri dari Frits Irwan Yan Maramis, dan ibu dari dua anak yang kini beranjak remaja ini mengatakan, lebih suka bekerja di LSM karena mendapat 'nilai lebih' dibandingkan sebagai PNS atau birokrat.

"Di LSM, saya bisa belajar untuk bekerja jujur, bertanggung jawab, membangun team work yang kuat dan bisa bersosialisasi dengan banyak pihak. Saya belajar mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat yang termarginal," kata ibu dari Dessy Maramis dan Sarah Maramis.

Karier Yanti di LSM dimulai ketika terjadi gejolak politik di Timor Timor tahun 1999 (sekarang negara Timor Leste). Jutaan warga Timor Timur mengungsi ke Timor Barat (NTT). Yanti pun bergabung dengan International Federation Red Cross di Kupang.

Ia mengurusi pengungsi di Kamp Noelbaki, Kabupaten Kupang. Kemudian bergabung dengan UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) di Kefamenanu, membantu PBB mengurus pengungsi Timtim dari tahun 2000 -2001.

Kemudian Juli 2001 -Desember 2001, Yanti pindah ke MSF Holland di Kefamenanu. Pada Desember 2005 -Juni 2006 bergabung dengan KRSG (Kefa Repatriation Support Group).

Dan akhirnya bergabung di Plan International Indonesia dengan tugas awal di divisi CTA (Community Transformation Agent). Dan sekarang bertugas sebagai di divisi BRS (Building Relationship Supervisor).

Di Plan International Indonesia, Yanti merasa lebih 'betah' hingga hari ini. "Alasannya, karena di Plan saya bisa lebih banyak belajar community development, bagaimana bekerja dengan anak dan masyarakat, saya punya banyak kesempatan untuk pengembangan kapasitas diri," jelasnya.

Di Divisi BRS, Yanti bersama timnya lebih banyak mengurus kebutuhan anak-anak di Kabupaten TTS dan TTU. Tugas Yanti dan teman-temannya adalah menjadi jembatan bagi anak-anak sponsor dengan orangtua asuh mereka di 20 negara sponsor yang ada di Asia, Eropa dan Amerika. Ada 15.000 lebih anak yang menyebar di 41 desa di TTU dan 46 desa di TTS.

"Saya senang bekerja di dunia yang terkait anak-anak karena mereka manusia yang masih polos, rentan akan bahaya dan butuh perlindungan orang dewasa," kata Yanti, ketika ditanya kenapa tertarik mengurus anak-anak.

Menurut dia, di Timor anak-anak membutuhkan bantuan yang mendesak seperti advokasi anak, persediaan sanitasi dan air bersih, penanggulangan bencana, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Juga peningkatan ekonomi kaum remaja dan orang muda. Proficiat, dan selamat berkarya.

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved