profil

Maria Hildagardis Amleni Alergi Tidak Bicara

Murah senyum. Bicaranya ceplas-ceplos. Dialah Maria Hildagardis Amleni, S.IP. Tidak bicara dalam satu acara rasanya belum lengkap.

Maria Hildagardis Amleni Alergi Tidak Bicara
PK/YON
Maria Hildagardis Amleni 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Murah senyum. Bicaranya ceplas-ceplos. Mungkin karena pernah menjadi guru selama empat tahun, apalagi aktif di organisasi GMNI Cabang Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), sehingga aksen bicaranya runut.

Bagi pemilik nama lengkap, Maria Hildagardis Amleni, S.IP, tidak bicara dalam satu acara rasanya belum lengkap. Prinsipnya, Maria Hildagardis Amleni, alergi kalau tidak bicara. Itulah sebabnya pada pemilu 2014, Hilda, demikian ia disapa, mewakili kaum perempuan di TTU menjadi wakil rakyat di DPRD TTU dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).

Hilda ditemui Pos Kupang ketika mengikuti Lokakarya Kaukus Perempuan Parlemen NTT di ruang rapat Kelimutu DPRD NTT, Jumat (21/8/2015) sangat komunikatif.

Wanita kelahiran Kefamenanu pada 18 Juni 1985 menuturkan, ia baru periode pertama menjadi anggota Dewan. Sebelumnya Hilda menjadi staf pengajar honorer pada SMA Pelita Karya, TTU dari tahun 2010-2014 setelah menamatkan pendidikan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Timor 2008.

Sejak dilantik menjadi anggota DPRD TTU tanggal 25 Agustus 2014, jujur Hilda mengaku melihat realita yang sangat berbeda. Ia selama satu tahun belajar bagaimana menjadi politisi sejati di parlemen.

"Soal bicara, saya sejak masih kuliah, bicara memang bukan hal baru. Apalagi sebelum masuk DPRD saya selama empat tahun menjadi guru. Jadi soal omong, itu makanan sehari-hari kami guru. Banyak hal yang saya dapat di DPRD, terutama tentang politik. Di dewan saya baru tahu soal politik sebenarnya karena selama yang saya ikuti, politik masih dalam bentuk teori tapi prakteknya saya baru aktualisasikan di DPRD," jelas istri dari Petrus Sila ini.

Menurut pendamping Orang Muda Katolik (OMK) Gereja St. Yohanes Paulus II Seroja, Paroki Sta. Theresia Kefamenanu, ini ketika ia masih menjadi staf guru, apa yang dibicarakan, dianggap murid betul. Tapi di politik, apa yang dibicarakan walau itu benar, tapi dianggap salah. Banyak hal yang dia belajar, ternyata segala sesuatu itu butuh pertimbangan politik.

Tentang membagi waktu antara keluarga dan kegiatan di DPRD, ibu dari putri semata wayang Aprilia Sila, ini menuturkan, awalnya lumayan sulit. Jika dulu ketika masih menjadi guru, waktu lebih banyak bersama keluarga. Tetapi ketika sudah masuk di legislatif, waktu lebih banyak di luar bertemu konstituen.

"Sebulan biasanya kegiatan padat, sehingga waktu tersita di luar lebih banyak. Memang tergantung pribadi, pandai-pandai mengatur waktu. Saya selalu siasati waktu antara kerja di kantor dan di rumah. Apalagi sudah ada media komunikasi, memang selalu komunikasi dengan suami dan anak," ujar wanita yang punya hobi menyanyi ini.

Ikhwal pilihannya terjun di dunia politik, Hilda mengaku terinspirasi figur Megawati Soekarnoputri.

"Ibu Mega itu figur segalanya buat saya. Di saat perempuan merasa bahwa dirinya tidak bisa, tetapi sosok Megawati tampil menunjukkan jati diri seorang perempuan bahwa perempuan juga bisa dan beliau menjadi presiden. Saya juga bergelut di organisasi terutama di GMNI, di mana kami diajarkan banyak hal. Saya mau praktekkan semua yang saya pelajari di ranah politik," kata Hilda.

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help