profil

Redji Nada Kembali ke Sabu

Aula Lantai I Hotel Oriental Kupang bergemuruh pada acara wisuda 44 mahasiswa lulusan Akademi Teknik Kupang (ATK), Sabtu (29/8/2015).

Redji Nada Kembali ke Sabu
PK/YON
Redji Nada, A.Md 

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Aula Lantai I Hotel Oriental Kupang bergemuruh. Tepuk tangan tak henti-hentinya dari para orangtua/wali, termasuk undangan yang hadir pada acara wisuda 44 mahasiswa lulusan Akademi Teknik Kupang (ATK), Sabtu (29/8/2015).

Ada apa gerangan? Ternyata ada pengumuman lulusan terbaik tiga srikandi menjadi the best. Tiga orang perempuan hebat itu, yakni Rut Marfelis Etidena meraih IPK 3,26, Ranny Angely Julia Kristiany meraih IPK 3,26, dan Redji Nada meraih IPK 3,1.

Direktur ATK, Ir. Piet Djami Rebo, berulang-ulang memuji ketiga srikandi ATK tersebut yang dalam sejarah ATK memecahkan rekor. Tak ketinggalan dara kelahiran Sabu Raijua, Redji Nada, mengumbar senyum ketika giliran dia dipersilakan berdiri oleh Piet Djami Rebo.

Redji Nada, A.Md, yang disapa Sinta, seusai acara wisuda kepada Pos Kupang menuturkan, ketertarikannya mengenyam pendidikan di ATK ini sesungguhnya bukan lahir dari niat pribadi. Setelah tamat SMA PGRI Sabu, tutur Sinta, ia ingin belajar ilmu kesehatan.

Namun, niat itu pupus setelah berkenalan dengan Direktur ATK, Ir. Piet Djami Rebo, yang menawarkan melanjutkan pendidikan teknik sipil. Pasalnya, lulusan dari SabuRaijua kebanyakan masuk jurusan kesehatan, sementara jurusan teknik sipil sama sekali tidak diminati. Dengan latar belakang pendidikan IPA, sehingga tidak menyulitkan Sinta untuk menyesuaikan ilmu tentang teknik di ATK.

"Dulu saya tamat di SMA PGRI Sabu jurusan IPA. Masuk pertama di ATK memang bingung juga karena kebanyakan di situ laki-laki. Tapi lama kelamaan jadi betah dan senang karena perempuan sangat sedikit. Kaum laki-laki sangat menjaga dan menghormati kami perempuan. Saya bangga masuk teknik sipil," jelas sulung dari delapan bersaudara ini.

Anak dari pasangan petani di Pulau Raijua, Nada Riwu, dan Idje Haba mengatakan, selama kuliah di ATK ia tinggal sendiri, jauh dari keluarga. Sinta harus bisa mengatur waktu antara belajar dan kegiatan ekstra kurikuler seperti organisasi Ikatan Mahasiswa Sabu-Raijua (IMARA).

Waktu belajar memang sangat padat. Tidak ada waktu untuk istirahat, bahkan hampir lupa makan hanya karena fokus menyelesaikan tugas kuliah.

Tetapi dengan mengandalkan Tuhan, jelas lulusan SD Bolua dan SMPN I Raijua ini, ia bisa melewatinya dan berhasil menamatkan kuliah di ATK tepat waktu.

"Saya berterima kasih kepada kedua orangtua, sanak saudara, almamater ATK, khusus buat Bapak Direktur ATK, Piet Djami Rebo, yang mendorong saya masuk di Jurusan Teknik Sipil ATK ini. Saya akan pulang membangun Sabu Raijua menjadi lebih baik lagi," ujarnya.

Sinta berencana melamar bekerja di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sabu Raijua sebagai tenaga honorer. Intinya, demikian Sinta, ia mau pulang bangun Sabu Raijua.

"Saya sangat bangga dengan kedua orangtua saya, yang setia mendukung biaya pendidikan saya. Saya pulang Sabu akan mensosialisasikan kepada adik-adik yang akan tamat SMA bahwa masuk ATK juga lebih bagus. Saya akan minta adik atau saudara saya masuk di ATK karena saya sudah tahu bahwa ketika tamat, tenaga kita pasti dipakai," kata perempuan kelahiran 31 Desember 1991 silam.

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved