Tamu Kita

Andriyani Emilia Lay Peka terhadap Situasi

Diundang berbicara tentang penanganan para korban kasus kekerasan seksual dan KDRT, Andriyani Emilia Lay, S.Psi begitu bersemangat.

Andriyani Emilia Lay Peka terhadap Situasi
PK/VEL
Andriyani Emilia Lay, S.Psi, Psikolog. 

Juga peka terhadap suara keras, ketakutan pada cuaca/cahaya/hujan/angin kencang, kejengkelan, tidak tenang, kebingungan, sedih, terutama jika kehilangan barang berharga. Bisa sulit bicara, menjadi pendiam dan ekspresi ketakutan dan gemetar, berlari kepada orang dewasa, ketidakpatuhan.

Bisa juga hiperaktif, perilaku agresif atau menarik diri. Bahkan anak pra-sekolah mungkin secara agresif menceritakan peristiwa traumatik tersebut secara terus-menerus. Sedangkan pada anak 6-11 tahun, dia bisa ngompol, mimpi buruk, gangguan tidur jika lampu terang, takut cuaca, kejengkelan, ketidakpatuhan, depresi, kelekatan yang berlebihan, sakit kepala, mual, gangguan pendengaran atau penglihatan, gangguan makan, masalah pada sekolah, prestasi rendah, sering berkelahi, menarik diri dari minat, ketidakmampuan konsentrasi, perhatian mudah beralih, menarik diri dari kelompok bermain.

Pada anak usia 12-18 tahun, menunjukkan gejala anti diri dan isolasi diri, keluhan fisis seperti sakit kepala dan perut, depresi dan kesedihan, perilaku anti sosial, mencuri, masalah di sekolah, prestasi di bawah rata-rata, gangguan tidur dan kebingungan.

Apa yang dibutuhkan oleh mereka yang trauma itu, khususnya anak?

Didengarkan dengan sikap empati, membenahi aspek psikoedukatif dan sosiokultural, termasuk intervensi terhadap keluarga korban, mengamankan anak dari pelaku kekerasan, membebaskannya dari siklus kekerasan, pendampingan psikologis dan upaya rehabilitasi psikososial.

Termasuk pendampingan dan konseling pada korban terarah pada kebutuhan fisik, sosial, psikologik dan spiritual. Artinya, kita harus mempertimbangan masalah cedera/luka, infeksi dan penyakit, sakit hati, kekecewaan, frustrasi, depresi, diskriminasi, reaksi sosial yang dialaminya. Korban juga membutuhkan konseling. Tapi kita juga harus ingat bahwa pendampingan psikologis dan upaya hukum tidak saja diberikan kepada korban, namun juga kepada pelaku.

Kenapa pelaku juga harus didampingi psikologisnya?

Karena pelaku juga mengalami 'sakit' saat melakukan tindakan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap korban. Menghukum pelaku tidak menyelesaikan persoalan meski mungkin ada efek jera. Namun pelaku pun harus didampingi secara psikologis agar bisa menyembuhkan 'kejiwaannya' sehingga ketika bebas nanti pelaku tidak lagi mengulangi perbuatannya.

Apa tujuan konseling terhadap korban dan pelaku?

Kita berusaha menyediakan dukungan psikologis, menyediakan informasi dan membantu korban dan atau pelaku dalam mengembangkan keterampilan pribadi yang diperlukan. Hal ini untuk mengatasi dampak dari kekerasan yang dialami korban termasuk perubahan perilaku.

Kita memastikan efektivitas rujukan kesehatan, hukum dan terapi konseling serta dukungan sosial kepada korban dan pelaku. Dengan demikian, korban bisa mengenal dan mengekspresikan perasaan, menggali pilihan dan membantunya untuk membangun rencana tindak-lanjut tentang masalah yang dihadapi, bisa membangkitkan perubahan perilaku yang sesuai.

Bagaimana kita membantu mereka bisa memperoleh dukungan dari jejaring sosial, keluarga dan teman, membantu mereka menyesuaikan diri dengan keadaan yang terjadi. Khususnya terhadap korban, bagaimana bisa mengembalikan rasa percaya diri dan kembali menemukan arti kehidupannya.

Jika kita menduga dan akhirnya mengetahui anak kita menjadi korban pelecehan atau kekerasan seksual, bagaimana cara kita membuatnya bisa bicara?

Hal ini bukan hal yang gampang dilakukan, namun sebagai orangtua kita harus melakukannya sebelum menentukan sikap selanjutnya, bukan. Yang perlu kita lakukan, bicaralah berdua, duduk sama tinggi, pertahankan kontak mata, yakinkan bahwa dia tidak dalam masalah, dia boleh menjawab tidak tahu.

Ajukan pertanyaan netral bisa mengenai sekolah, teman, sehingga anak merasa santai, gunakan bahasa yang dimengerti. Bantu anak untuk membuatnya mengingat dengan rinci, jangan memaksa anak menjawab jika dia belum mau. Sabar, ikuti tempo anak, ajukan pertanyaan terbuka, sapalah dia dengan nama panggilan. Kita juga harus tahu kapan batas maksimal anak diwawancarai. Lalu tutup pembicaraan kita itu dengan menanyakan kegiatannya sehari-hari.

Bagaimana antisipasi yang harus dilakukan orangtua agar anaknya tidak menjadi korban pelecehan atau kekerasan seksual?

Saya kira harus dimulai dari dalam keluarga, komunikasi itu harus terus terjalin. Sejak anak masih kecil biasakanlah ada waktu untuk berkomunikasi melatih anak untuk bicara dan tidak takut menyampaikan segala hal yang terjadi dalam kesehariannya. Ajarkan pula nilai-nilai kehidupan sehingga anak tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik dan bisa memilih apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Hal lainnya, orangtua harusnya mengajarkan pendidikan seks sejak dini kepada anak-anak. Dari anak usia 3 tahun, ajarkanlah dia mengenai anggota tubuhnya dan mana anggota tubuh yang bisa dipegang oleh orang lain dan mana yang tidak boleh dipegang oleh orang lain.

Ajarkan pula kepada anak, khususnya yang wanita, bahwa anggota tubuhnya yang vital (kelamin) itu hanya bisa disentuh oleh ibunya, kakak perempuannya dan atau dokter jika memang ada sakit. Di luar dari itu, tidak boleh ada yang menyentuh alat vitalnya itu, termasuk ayah, kakek atau om atau orang lain.

Bukan kita mencurigai suami atau saudara kita sendiri, namun kenyataan sudah terbukti bahwa pelaku kekerasan seksual terhadap anak itu bisa saja keluarga kita, suami, om, sepupu dan lainnya. Karena itu antisipasi perlu dilakukan.

Pesan Anda bagi para orangtua dan remaja?

Mulailah peka terhadap situasi yang terjadi di sekitar kita. Melatih kepekaan itu sangat bermanfaat sehingga kita bisa mengetahui adanya ancaman atau hal-hal bahaya yang mungkin bisa terjadi.

Dengan demikian, kita bisa menentukan sikap selanjutnya. Mulailah belajar bersikap tegas dan bertindak baik dan benar agar kita sendiri bisa melindungi diri sejak dini. Janganlah malu ketika mengalami kasus pelecehan dan kekerasan seksual, segera laporkan hal itu kepada orang yang dipercayai dan tentukanlah sikap untuk bisa menangani persoalan itu sehingga hal itu tidak terjadi berulang-ulang kepada kita atau orang lain.

Satu hal yang saya pelajari, bahwa kita tidak dapat memilih untuk terlahir sebagai pria atau wanita. Tapi kita bisa memilih untuk tidak menjadi pelaku kekerasan atau menjadi korban kekerasan. Dan jika kekerasan dapat dipelajari, maka kekerasan juga dapat tidak perlu dipelajari.

Bagaimana Anda melihat penanganan terhadap para korban dan pelaku dari kasus kekerasan seksual itu?

Memang masih ada oknum aparat penegak hukum yang belum maksimal dan profesional dalam menangani kasus itu di berbagai tingkatan proses hukum. Namun saya bangga karena saat ini di Kupang dan di beberapa wilayah lain di NTT sudah banyak sekali lembaga-lembaga yang konsen terhadap masalah perempuan dan anak.

Seperti rumah perempuan, LBH APIK NTT dan lainnya. Bahkan saya memberikan apresiasi khusus kepada LBH APIK NTT karena sudah menyediakan 50-an paralegal yang terdiri dari berbagai latar belakang sosial, pendidikan dan profesi mulai dari ibu rumah tangga, pendeta, bidan, guru, ketua RT, kepala desa, ada juga remaja yang siap mendampingi para korban tindak kekerasan itu.

Paralegal ini menjadi perpanjangan tangan dari para psikolog untuk melakukan pendampingan terhadap korban sejak awal. Dan hal ini menunjukkan bahwa ke depan pasti akan ada perbaikan dalam penanganan persoalan-persoalan kekeseran seksual itu sehingga persoalan hukum yang dialami wanita dan anak-anak yang adalah kobran termasuk pelaku dalam kasus kekerasan seksual bisa mendapat penanganan yang baik.

Harapan Anda terhadap pemerintah?

Saya berharap pemerintah mulai bisa mengambil peran dan memprogramkan hal-hal yang berkaitan dengan upaya mengembalikan 'kepercayaan diri' para korban dan pelaku kekerasan seksual itu. Misalnya saja Dinsos bisa bekerjasama dengan LSM dan lapas agar bisa membuat program yang sinergis. Seperti mengadakan pelatihan keterampilan bagi para pelaku dan korban.

Biofile
Data Pribadi
Nama: Andriyani Emilia Lay, S.Psi, Psikolog.
TTL : Kefamenanu, 16 Desember 1974.
Ayah : Drs. Antonius Lay Puahuba.
Ibu : Charlotha A. Nalenan.
Saudara : Denny Dickson Lay, Farida Marlina Serlyati Lay.
Riwayat Pendidikan
SD :SDK Yaperna Eban I, Kabuptaen TTU.
SLTP : SMP Katolik Sanctissima Trinitas Hokeng-Flotim.
SLTA : SMA Katolik Syuradikara.
S1 : Universitas Katolik Soegijapranata.
S2 (Sedang) : Universitas Gadjah Mada.

Riwayat Pekerjaan
Maret 2001-Agustus 2001: Asisten Psikolog untuk Bidang Seleksi dan Perekrutan Biro Psikologi Tempa Adiguna-Jawa Tengah.
November 2001-May 2003 Emergency Reproductive Health Support Project in West Timor UNFPA (United Nation Population Fund) BKKBN NTT.
Februari 2004-Januari 2006 Save the Children UK Atambua.
Desember 2009 - sekarang Universitas Nusa Cendana Kupang.

Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help