Tamu Kita

Andriyani Emilia Lay Peka terhadap Situasi

Diundang berbicara tentang penanganan para korban kasus kekerasan seksual dan KDRT, Andriyani Emilia Lay, S.Psi begitu bersemangat.

Andriyani Emilia Lay Peka terhadap Situasi
PK/VEL
Andriyani Emilia Lay, S.Psi, Psikolog. 

Juga fisik kronis seperti cacat, keluhan somatis, infeksi kronis, masalah pencernaan, masalah makanan, kesulitan tidur, penyalahgunaan alkohol dan obat. Hingga dampak reproduksi seperti keguguran, kehamilan yang tak diinginkan, pengguguran kandungan yang tidak aman, penyakit akibat hubungan seks termasuk AIDS, kelainan haid, komplikasi kehamilan, kelainan ginekologis dan juga kelainan seksual.

Dampak psikososial bisa membawa dampak emosional dan psikologis yakni stres pasca trauma, depresi, ketakutan, marah, merasa tidak aman, benci diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, sakit jiwa, pikiran dan perilaku ingin bunuh diri. Semntara dampak sosial yakni menyalahkan korban, kehilangan peran dan fungsi dalam masyarakat, stigma sosial, penolakan dan pengucilan oleh masyarakat bahkan keluarga dekat, mengaitkan kemiskinan dengan perempuan dan meningkatnya ketidaksetaraan gender.

Kalau dampak hukum berupa perlakuan aparat hukum dan penegak hukum yang cenderung diskriminatif dan sikap masyarakat yang menyalahkan korban pun sering tercermin di ruang pengadilan. Yang terakhir yakni berdampak juga pada keselamatan dan keamanan, dimana korban dalam keadaan tidak aman, terancam, takut, tidak terlindungi, dan menghadapi risiko mengalami kekerasan lanjutan serta kerusakan.

Bahkan trauma lebih lanjut dapat terjadi karena keterlambatan datangnya bantuan. Umumnya orang dewasa dan anak- anak yang mengalami pelecehan dan kekerasan seksual menunjukkan gejala (symptom) dari dampak trauma itu.

Seperti apa gejala dari dampak trauma pada orang dewasa?

Gejalanya bisa dilihat dari segi kognitif, emosi, perilaku dan fisiknya. Dampak kognitif, yang bersangkutan akan mengalami gangguan konsentrasi, ketidakammpuan memusatkan perhatian, gangguan ingatan, kehilangan tujuan, tidak dapat berhenti memikirkan peristiwa trauma, mimpi buruk yang berulang, mempertanyakan keyakinan spiritual, kebingungan, lamban dalam berpikir/ memahani suatu hal.

Dia juga mengalami dampak emosi seperti depresi atau kesedihan, kejengkelan/kemarahan, kebencian, fobia, perhatian pada kesehatan, ketakutan, penyangkalan, rasa bersalah, perasaan yang meluap, meledak atau putus asa, perasaan terisolasi, kehilangan atau merasa ditelantarkan.

Sedangkan dampak perilaku bisa dilihat, mereka menjadi sering mengurung diri dari orang lain, konflik dengan keluarga meningkat, gangguan tidur, menghindar untuk mengingat, mudah menangis, menarik diri secara sosial, perubahan nafsu makan. Dan dampak fisik pun terlihat kelelahan, kurang tenaga, sakit kepala, masalah medis yang bertambah buruk, keluhan fisik tanpa ada gejala fisik (psikosomatis).

Bagaimana dampak trauma pada anak?

Ada tanda-tanda yang bisa ditunjukkan sesuai dengan usianya. Pada anak usia 5 tahun ke bawah, ada perubahan kebiasaan tidur, tidak dapat tidur jika lampu padam, menangis dalam berbagai bentuk, merengek, berteriak dan tangisan khusus meminta tolong tidak seperti biasanya. Ada perilaku regresi yakni isap jari, ngompol, kehilangan kemampauan kontrol BAB, takut gelap atau binatang, takut sendirian, takut kerumunan orang, tidak dapat berpakaian, makan tanpa bantuan, kelekatan yang berlebihan.

Halaman
1234
Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved