Tamu Kita

Andriyani Emilia Lay Peka terhadap Situasi

Diundang berbicara tentang penanganan para korban kasus kekerasan seksual dan KDRT, Andriyani Emilia Lay, S.Psi begitu bersemangat.

Andriyani Emilia Lay Peka terhadap Situasi
PK/VEL
Andriyani Emilia Lay, S.Psi, Psikolog. 

Pelaku tidak menghargai privasi anak/remaja misalnya dia tidak menyingkir atau justru menonton saat seorang anak mandi atau berganti pakaian. Pelaku melakukan percakapan bermuatan seksual dengan anak/remaja, baik eksplisit (bahasa lugas) atau implisit (tersamar) yang bisa dilakukan melalui telepon, chatting, internet, surat atau sms. Itu semua adalah bentuk- bentuk kekerasan seksual.

Mengapa orang cenderung melakukan kekerasan seksual?

Karena ada kesempatan, peluang atau ada masalah lain berkaitan dengan sosial, psikologis. Pelaku dan korban kekerasan seksual itu bisa laki-laki atau perempuan. Meski yang biasa terangkat ke permukaan itu cenderung pelakunya adalah pria dan korbannya adalah wanita dan anak-anak.

Kapankah kekerasan seksual itu bisa terjadi?
Kekerasan seksual itu bisa terjadi sebelum lahir, balita, anak, remaja, usia produktif maupun usia lanjut. Sebelum kelahiran misalnya terjadi penggguguran kandungan berdasarkan jenis kelamin bayi, pemukulan selama kehamilan, kehamilan paksa, pembunuhan anak, penganiayaan emosional dan fisik, perbedaan dalam memperoleh makanan/perawatan kesehatan/pendidikan.

Kekerasan pada anak seperti perkawinan anak, perusakan alat kelamin, penganiayaan seksual anggota keluarga dan orang tak dikenal, perbedaan perolehan makanan/perawatan kesehatan/pendidikan. Bisa terjadi juga pada masa anak-anak seperti keterbatasan stigma sosial dan diskriminasi, keyakinan tradisional yang negatif, pengabaian dalam masyarakat, kurang dukungan sosial untuk pengasuhan.

Sedangkan masa remaja bisa terjadi kekerasan selama masa pacaran, pemaksaan seks secara ekonomis (untuk biaya sekolah, penganiayan seksual di tempat kerja, perkosaan, pelecehan seksual, perkawinan yang diatur, diperdagangkan.

Sementara itu, kekerasan pada usia reproduksi seperti penganiayan fisik, psikologis dan seksual oleh pasangan intim laki-laki dan keluarga, kehamilan paksa oleh pasangan, penganiayaan seksual di tempat kerja, pelecehan seksual, perkosaan, penganiayaan terhadap para janda, termasuk perampasan hak milik.

Bahkan pada usia lanjut pun bisa terjadi seperti penganiayaan janda, perampasan hak milik, penuduhan melakukan sihir, kekerasan oleh anggota keluarga yang lebih muda, perbedaan dalam perolehan makanan/perawatan kesehatan.

Apa dampak dari kekerasan seksual itu?

Dampaknya pada kesehatan, psikososial, hukum dan keadilan serta keselamatan dan keamanan. Dampak kesehatan yang fatal bisa ada keinginan bunuh diri, kematian ibu, kematian bayi terkait AIDS. Sedangkan dampak yang non-fatal berupa fisik akut, cedera syok, penyakit dan infeksi.

Halaman
1234
Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help