Belis Gading di Sikka

Piterson Makin Sulit Dapat Gading

DI Kabupaten Sikka, NTT, gading(bala), emas(bahar), perak, kuda (jarang) dan uang(hoang) merupakan mas kawin atau biasa disebut belis Du'a Ling Weling

Piterson Makin Sulit Dapat Gading
PK/RIS
Felixius Piterson Kabupung

Di tangan Piter, sebatang gading bisa 'disulap' menjadi berbagai jenis dan model aksesoris yang eksotik dan elegan. Sebut saja gelang, cincin, anting, giwang, tusuk konde, tongkat, dan berbagai aksesoris lainnya bisa 'diciptakan' Piter.

Bahkan akhir-akhir ini Piter bisa memodifikasi aksesoris gadingnya itu dengan balutan emas dan batu akik. Namun piter tidak menerima pembuatan batu akik.

Piter selektif saat membeli gading. Piter punya aturan main bahwa dia tidak akan pernah membeli gading batangan yang baru atau muda. Karena itu diprediksi adalah gading yang baru diambil dari gajah, entah dari mana.

"Hewan gajah itu dilindungi dan saya menghargai hal itu. Karena itu, saya tidak pernah mau membeli gading baru. Yang saya beli adalah gading lama yang merupakan warisan," ujarnya.

Piter mengatakan, harga gading cukup mahal. Misalnya, gading batangan dengan berat sekitar 20 kilogram, harganya mencapai Rp 300 juta. Piter mengatakan, di Sikka ada gading batangan yang disimpan di rumah adat Watublapi-Sikka, panjangnya mencapai tiga meter.

"Gading di Watublapi itu hanya bisa dilihat orang lain setelah digelar upacara adat. Tapi orang yang mau melihat gading itu harus mengeluarkan uang paling kurang Rp 2 juta untuk membiayai upacara adat. Itu juga hanya diberi kesempatan melihat gading batangan sekitar dua atau tiga menit saja," kata Piter.

Menurut Keupung, beberapa tahun terakhir ini, gading batangan yang beredar di Sikka didatangkan dari luar, seperti dari Flotim. "Gading di Flotim itu lebih banyak daripada gading batangan yang ada di Sikka sekarang," kata Keupung.

Saat ini juga, anggapan bahwa gading itu merupakan gengsi, sudah tidak ada lagi. Nilai gading belis saat menikah itu lebih dilihat sebagai bentuk penghormatan kepada pihak perempuan. "Gading itu simbol penghargaan terhadap perempuan. Namun saat ini gading batangan sebagai belis sudah tidak mutlak lagi," ujarnya.

Bahkan ada kasus, ketika pihak lelaki membawakan batangan gading, malah ditolak olah keluarga perempuan. Mungkin karena gading yang dibawa itu telah dipotong menjadi aksesoris.

"Orang sudah tidak terlalu menuntut belis seperti belis itu harus ada dua batang gading, uang Rp100 juta dan lain sebagainya. Permintaan semacam itu hampir tidak dipraktekan lagi," kata Keupung.

STORY HIGHLIGHTS

* Hindari Poligami Pria
* Memiliki Nilai Sakral
* Gading Batangan 20 Kg Rp 300 Juta

feliks janggu/aris ninu)

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved