Belis Gading di Sikka

Oscar mandalangi Pareire: Hormati Hukum Adat

Mahar belis atau bala atau mas kawin antara lain berupa gading yang disebut Du'a Ling Weling(bahasa Sikka) itu sebenarnya bukan hanya berlaku di Sikka

Oscar mandalangi Pareire: Hormati Hukum Adat
istimewa
Oscar Mandalangi Pareira

News Analysis oleh Oscar Mandalangi Pareira
(Budayawan Sikka)

POS-KUAPNG.COM, MAUMERE --- Mahar belis atau bala atau mas kawin antara lain berupa gading yang disebut Du'a Ling Weling (bahasa Sikka) itu sebenarnya bukan hanya berlaku di Kabupaten Sikka.

Karena hukum adat seperti itu sampai kini masih dipertahankan di hampir seluruh daerah di NTT seperti Flores, Alor , Sumba dan Timor.

Dua tokoh wanita utama etnis Sikka melahirkan dan mewariskan filosofi Du'a Ling Weling, Nilai dan Harga Diri Wanita pada abad ke-16 dan 17 di Kerajaan Sikka, yakni Raja Dona Agnes Ines da Silva, dan Dona Maria da Silva, Raja ke- III dan VI, dengan imbalan material gading, emas perak, kuda dan uang.

Filosofi kearifan dan kebijakan lokal (local wisdom and local genious) mendaraskan lima fungsi utama artian belis dan sistem pembelisan, diseimbangkan dan diseleraskan dengan tingginya nilai-nilai setiap wanita.

Pertama, mempertahankan utama harga dan nilai kewanitaan, Du'a Utang Ling Labu Weling dalam filosofi (h) Ata Bi'ang Meing Ba'is Etang Belar, manisfestasi Hak-Hak Asasi Manusia, yang tidak boleh dilanggar dan diperkosa oleh siapapun.

Kedua, melahirkan hak dan kewajiban pria membawa dan memelihara istri dan anak kedalam keluarga dan suku.

Ketiga, menghilangkan tradisi poligami dan kekerasan dalam rumah tangga demi mempertahankan dan mewujudkan prinsip monogami yang manusiawi bergender.

Keempat, menciptakan karya kegotong-royongan antara keluarga dan suku sepanjang masa. Kelima, membangkitkan tradisi kesatuan dan persatuan keluarga, baik keluarga pemberi wanita (h) Ata (h) Ina - (h) Ama maupun keluarga pengambil wanita (h) Ata Me Wai , sepanjang masa.

Filosofi berakar budaya di atas menjawab tanya mengapa etnis Sikka dan lainnya memakai mahar yang disebut bala yang terdiri dari gading pendek (bala buluk), setengah lengan (legi kelik), sepanjang tenggorokan (bala mela wair), sepanjang bahu (bala hengok) dan gading panjang sedepa dua lengan (bala repang).

Jenis gading yang sangat langka dan sukar dicari ini didatangkan pada masa perdagangan barter sejak abad 15 diteruskan ke abad 16 dan 17 oleh pedagang Portugis yang mendatangkan gading dari Jawa, Sumatera, India dan Afrika.

Kini gading batangan di Sikka dan Flores Timur warisan kerajaan masa lampau sudah semakin berkurang karena diperjualbelikan atau dibuat menjadi barang kerajinan dan asesoris.

Walau kian langka, hingga kini hampir di seluruh kecamatan di Sikka yang berbahasa Sikka Krowe masih memelihara tradisi pembelisan berupa gading ini.

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved