Tamu Kita

Febyolla Ratu Nite: Menuju Bintang Melalui Jerih Payah

Menuju 'bintang' melalui jerih payah atau Per Aspera Ad Astra. Itulah motto hidup Febyolla Ratu Nite atau biasa disapa Feby.

Febyolla Ratu Nite: Menuju Bintang Melalui Jerih Payah
PK/VEL
Febyolla Ratu Nite

Pemasaran juga dilakukan melalui teman di luar negeri yang punya usaha ekspor, impor, dan dia juga menjual produk etnik NTT. Awalnya dia minta bandana 50 buah dan laris manis di pasaran. Kemudian kini dia minta lagi 100 pieces untuk bulan Oktober. Ada juga pasaran baru dari Brunai. Bahkan minggu depan akan dikirimkan 50 buah ke Amerika untuk kegiatan amal, sosial. Produk saya akan dibagikan secara gratis kepada anak-anak Afrika sehingga harga yang saya tawarkan juga lebih murah, sekaligus saya bisa menyumbang. Pengembaliannya hanya untuk menutupi kembali harga bahan yang digunakan untuk produksi. Saya senang jika saya bisa ikut menyumbang melalui produk aksesoris etnik NTT itu.

Anda sudah merasa puas dengan bisnis ini? Apa target Anda ke depan?
Saya kira saya belum merasa puas dengan apa yang sudah saya capai saat ini. Masih banyak sekali impian yang harus saya raih. Target utama saya bahwa ENT Art Shop East Nusa Tenggara harus bisa terkenal di luar negeri dan produk-produknya bisa disenangi dan dipakai oleh masyarakat dunia.

Target lainnya bahwa saya juga ingin mempromosikan NTT melalui tenun ikat NTT dalam produk aksesoris itu. Dengan membeli produk itu tentu orang akan mencari tahu dari mana asal tenun ikat itu dan dengan sendirinya nama NTT terangkat.

Apa keinginan Anda terhadap pengembangan tenun ikat NTT?
Selama ini, tenun ikat NTT itu identik dengan kaku, formal dan mahal. Tenun ikat NTT hanya dikenakan pada saat situasi formal. Karena itu, saya rindu sekali agar pelaku UKM dan kita semua bisa mengubah imej ini. Dengan demikian orang mengenakan tenun ikat NTT pada segala situasi dan waktu, sebagai fashion, bisa dipakai dalam keseharian, lebih santai sebagai fashion style. Ya, seperti gelang, ikat rambut dan bandana.

Bagaimana Anda melihat peran pemerintah?
Saya lihat, selama ini pemerintah sudah cukup banyak berbuat untuk para pelaku UKM meski belum maksimal. Sebenarnya Pemerintah harus terus memotivasi para pelaku UKM. Hemat saya, jika Pemerintah hanya memfokuskan diri pada bagaimana memberikan bantuan dana dan pelatihan keterampilan saja, tanpa upaya membangun mental dan karakter pelaku UKM, maka hal itu akan sia-sia.

Karena memberikan motivasi itu bukan hanya dalam bentuk sumbangan dana dan pelatihan keterampilan, namun bagaimana mental dan karakter pelaku UKM itu bisa diperbaiki. Namun kita tidak bisa hanya menyalahkan pemerintah saja karena saya lihat pelaku UKM- nya sendiri juga masih punya masalah.

Apa masalah yang ada pada pelaku UKM?
Saya lihat kebanyakan mental dan karakter pelaku UKM ini belum baik. Banyak yang beramai-ramai membentuk UKM karena motivasi ada bantuan dana. Setelah mendapatkan dana, usahanya tidak jalan. Kalau ada pelatihan dari pemeirntah, masih ada yang mempersoalkan, berapa uang duduknya, berapa bantuan yang nanti akan didapat.

Padahal, kalau mau dilihat lebih jauh, pelatihan itu justru lebih bermanfaat untuk bisa meningkatkan dan mengembangkan usaha kita. Dari pelatihan itu, kita bisa banyak bertemu dengan pelaku UKM lainnya, untuk bisa membagi pengalaman yang berguna. Pelaku UKM juga harus terus mengevaluasi diri, kenapa produknya kalah bersaing dan tidak bisa dipasarkan di luar NTT atau di luar negeri. Hal ini yang banyak belum disadari oleh pelaku UKM.

Masalah lainnya, ada pelaku UKM yang gampang putus asa sehingga usahanya macet di tengah jalan. Karena itu, maka mental dan karakter pelaku UKM harus dibentuk sehingga mereka bisa tahan banting untuk terus berupaya mengembangkan usahanya meski jatuh bangun. Dan Pemerintah juga jarang menggali dan mendiskusikan berbagai persoalan yang dialami oleh UKM sehingga terkesan ada jurang pemisah antara pemerintah dan UKM. Gap inilah yang harus disatukan.

Dalam bisnis apa Anda pernah mengalami pasang surut. Apa yang membuat Anda selalu bangkit agar bisa terus melanjutkan bisnis ini?
Pastinya setiap usaha akan mengalami jatuh bangun dan saya berkali-kali mengalaminya. Saya pernah berpikir kalau saya tidak betah di satu jenis usaha dan sering banting setir, maka saya tidak akan bisa profesional di jenis usaha itu. Apalagi usia saya kini sudah 40 tahun sehingga saya harus tetap pada satu jenis usaha yang saya sukai tentunya. Dan, akhirnya saya memutuskan untuk fokus pada usaha kerajinan membuat aksesoris modifikasi tenun ikat dengan rajutan ini. Tinggal bagaimana pintar-pintar kita saja untuk terus berinovasi sehingga produk itu tidak monoton dan ketinggalan zaman. (*)

Belajar dari Pembantu

SIAPA mengira seorang perempuan yang pernah mengalami masa kelam bisa bangkit dan memulai hidup baru dan sukses? Mungkin Febyolla Ratu Nite, yang biasa disapa Feby, satu dari kebanyakan perempuan yang bisa melakukannya.

Wanita tinggi semampai ini meraih sukses sebagai pengusaha dari hobinya merajut. Kini, produknya berupa aksesoris yang terbuat dari bahan tenun ikat NTT dengan rajutan itu dipasarkan hingga keluar negeri, seperti Belanda, Inggris dan Brunai Darussalam.

Hobinya merajut itu sudah ditekuninya sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Inpres Oeba 1 Kupang. Bahkan, yang mengajari merajut ibu Meigy Acnesia Loman Ledo, Niki Aleksander Loman Ledo dan Selyn Narumi Loman Ledo adalah pembantunya, bernama Mince.

"Pembantu di rumah saya dulu itu, namnya Mince. Dia sangat pandai merajut dan dari dialah saya belajar merajut," kenang alumna SMAN 1 Kupang ini

Ilmu merajutnya itu dirasakan manfaatnya untuk pertama kalinya saat dia menikah dan memiliki anak. Saat hamil, alumna SMPN 1 Kupang ini rajin merajut, membuat rajutan topi, kaos tangan, kaos kaki dan baju bayi untuk anaknya.

"Kalau ke mana-mana, anak bayi saya mengenakan hasil rajutan buatan saya dan banyak orang yang suka sehingga saya bangga karena bisa membuat bayi saya menjadi berbeda, menarik dengan mengenakan hasil rajutan saya itu," kata alumna SDN 1 Oeba Kupang ini.

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help