Tamu Kita

Febyolla Ratu Nite: Menuju Bintang Melalui Jerih Payah

Menuju 'bintang' melalui jerih payah atau Per Aspera Ad Astra. Itulah motto hidup Febyolla Ratu Nite atau biasa disapa Feby.

Febyolla Ratu Nite: Menuju Bintang Melalui Jerih Payah
PK/VEL
Febyolla Ratu Nite

Mengapa awalnya Anda memilih bisnis tenun ikat NTT?
Saat saya memberikan pelayanan rohani, saya banyak menerima hadiah tenun ikat NTT dari masyarakat Biboki dan Sumba Barat. Karena banyak sekali kain dan selendang tenun ikat NTT yang saya punya, maka saya berpikir untuk bisa menjualnya sehingga bermanfaat. Lalu saya mulai menjual ke teman-teman. Belakangan hari saya berpikir untuk mencoba membuat kerajinan tangan seperti patung etnik.

Kemudian saya mencoba membuat aksesoris fashion seperti gelang, kalung, bandana, ikat rambut, topi, sepatu, tas, dompet dan lainnya dari kain tenun ikat NTT. Setelah itu baru saya memodifikasi aksesoris tenun ikat NTT itu dengan rajutan benang wol karena saya bisa dan senang merajut.

Saat itu Bank Indonesia (BI) melakukan seleksi terhadap 378 UKM se-NTT dan saya juga ikut dan masuk empat besar. Kami diberikan pelatihan manajemen kemudian saya membuka usaha dengan nama Ent Art Shop East Nusa Tenggara pada tahun 2014.

Apa pertimbangannya menggunakan nama Ent Art Shop East Nusa Tenggara?
Nama ini dipilih oleh anak saya dan saya merasa nama ini sangat baik. Karena target saya jauh ke depan bahwa produk saya bisa sampai dan disukai oleh masyarakat luar negeri, termasuk masyarakat Indonesia. Karenanya saya tidak memakai nama NTT, tetapi East Nusa Tenggara.

Oh ya, Anda memodifikasi aksesoris tenun ikat NTT dengan rajutan benang wol. Bagaimana itu?
Untuk memulai pembuatan aksesoris dari benang wol, saya mencari benang yang kualitasnya bagus. Tapi saat itu di Kupang belum ada benang wol yang bagus. Saya coba mencarinya di Pulau Jawa, membuka internet dan mencari teman-teman yang memiliki hobi rajut dan bertukar pikiran dengan mereka.

Tanya mereka membeli benang di mana, harganya berapa. Modal saya waktu itu hanya uang sebesar Rp 200.000. Akhirnya saya pesan di Jawa dan hanya dapat 10 gulung dengan masing-masing warna. Saat benang datang, saya lihat kok sedikit sekali kuantitasnya.

Bagaimana saya mau jualan. Lalu saya mulai berpikir lagi dan membuat kombinasi dari bahan itu. Saya kombinasikan dengan benang wol yang dijual di Kupang dan saya membuatkan tas. Caranya, di bagian dalam menggunakan benang wol dari Kupang dan di luarnya saya tutup dengan benang yang dibeli dari Jawa sehingga kelihatan banyak dan gemuk.

Ini adalah cara saya untuk berinovasi agar bisa bersaing di pasaran. Lalu saya buat variasinya lagi, tas itu saya bikin dengan model yang lebih baik, namun saya kekurangan benang wol. Karena kurang akhirnya saya mencoba memodifikasi dengan ikat pinggang untuk tali tasnya. Hasilnya bagus sekali sampai teman saya dari Jawa langsung membeli dengan harga Rp 250.000 sebelum tas itu selesai dibuat.

Uangnya langsung saya pakai untuk membeli benang wol lagi di Jawa. Lalu saya mulai memodifikasi rajutan benang wol itu dengan tenun ikat NTT dan saya pertahankan modifikasi itu sampai sakarang ini.

Sampai kapan Anda mempertahankan produk modifikasi seperti itu? Apa sebenarnya yang menjadi ciri khas dari produk Ent Art Shop East Nusa Tenggara?
Untuk saat ini, masih tetap saya pertahankan karena tidak banyak orang yang menjual di pasaran seperti itu. Produk-produk ENT Art Shop East Nusa Tenggara selalu unik, etnik dan limited. Tiga moto ini yang saya pakai. Unik karena memang produk seperti ini belum ada di pasaran karena baru saya yang mengembangkannya dan handmade (buatan tangan), bukan mesin.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help