profil

Santi Puspa Ariyani: Alamanda

Sudah berusia setengah abad, Rr. Santi Puspa Ariyani, S.E, MM, masih terlihat muda dan energik.

Santi Puspa Ariyani: Alamanda
POS KUPANG/YENI RAHMAWATI TOHRI
Santi Puspa 

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Sudah berusia setengah abad, Rr. Santi Puspa Ariyani, S.E, MM, masih terlihat muda dan energik. Santi, begitu perempuan berdarah Keraton Sumenep dan Keraton Solo ini disapa, selalu mengisi kesehariannya dengan berbisnis.

Baginya berbisnis itu ibadah. Bukan hanya mencari komersil semata. Apalagi bisnisnya pun dilakukan di NTT, sejak tahun 2006. Meskipun berdarah keraton, Santi sungguh berhati nusantara. Dari kecil ia terus mengikuti ayahnya berdinas di seluruh nusantara, termasuk Flores.

Santi menyentuh tanah NTT sejak tahun 1977. Bukan waktu yang sebentar untuk mengenal dunia dan budaya NTT. Anak ketiga dari empat bersaudara buah hati dari mantan pejabat BMKG Maumere, (Alm) RH Abdul Kaid Anggodiredjo dan R Aj Moerniati Koesdarini ini pernah mengenyam pendidikan di Maumere-Flores.

Menurutnya, budaya di NTT tidak sama dengan wilayah lainnya, sehingga dirinya memiliki inspirasi bersama untuk membangun NTT.

Sesuai dengan namanya yang bermakna, 'di dalam udara yang cerah tumbuh bunga perdamaian,' ketika ditemui Pos Kupang, Senin (3/8/2015), dan berbincang-bincang dengan dirinya, begitu terasa sangat nyaman.

Perangainya lembut dan bersahaja, baik dalam bertutur dan mudah untuk bertukar pikiran. Sesekali ia mengukirkan senyuman manis di bibirnya. Tampilannya pun sungguh modis, elegan dan membuat ia terlihat lebih cantik dan selalu segar. Tak hanya cantik, ia pun memiliki wawasan yang luas dan kemampuan cerdas dalam berpikir.

Ibunda dari Yudhtia Lestari Clarashinta dan Chalid Angga Dipa, ini bercerita, dirinya sejak SMP sudah mencintai kesenian dengan memiliki keahlian menari Bali, desain interior dan senang akan kepribadian dan busana. Kegemarannya dalam berbisnis, ia buktikan juga di NTT.

Ia melihat waktu itu pintu gerbang NTT belum tersentuh pada pelayanan pengguna jasa di seluruh airlines, sehingga ia beranikan diri membuka bisnis di NTT.

"Tidaklah mudah membuka usaha di NTT, karena situasi dan kondisi alam di sini. Tapi harus bisa saya lakukan, jasa yang diberikan di bandara menjadi nilai tambah, khususnya untuk manajemen Angkasa Pura Bandara El Tari-Kupang," tutur mantan Caleg DPR RI dari Partai Demokrat tahun 2014 ini dan Ketua Komite Sekolah Pembangunan 2 di Sidoarjo-Jatim ini.

Dukungan dari para bupati dan Gubernur NTT, Piet A Tallo kala itu, akhirnya Bandara El Tari dihiasi dengan ruang tunggu yang nyaman, disertai tempat karoke agar penumpang tak jenuh menunggu kedatangan pesawat atau yang mengalami keterlambatan.

"Ruang tunggu yang saya desain, namanya Alamanda Executive Lounge. Ruangannya sangat nyaman. Alamanda, artinya Aku Lama Menanti Anda. Ruang tunggu ini bukan restoran, siapa saja bisa menikmati kenyamanan di tempat ini tanpa bayaran. Dengan susahnya membuka usaha di NTT, ini bisa menjadi acuan bagi pengembang usaha yang lain. Saling menghormati dan bersinergi dengan para usahawan di wilayah NTT, mendapat nilai tambah untuk memajukan NTT," tutur pemilik tambang uranium Bombana Kendari ini.

Setiap bulannya, Santi selalu berkunjung ke Kupang untuk memasak ataupun mendesain sendiri ruang tunggu tersebut. Jiwa seni memang sudah sangat melekat dengan dirinya. Karyawannya ia namankan dengan pramugari darat, sehingga penumpang dapat memahami bahwa inilah tempat untuk pengguna jasa.

Dibantu manager operasional gadis keturunan Raja Sabu, Binnawati Mettin Konny, Santi yang pernah mengikuti pendidikan di Lembaga Pertahanan NKRI Angkatan keempat Lintas Partai, ini berharap tak hanya di Kupang, Sabu pun bisa menjadi daerah komersil yang akan dijadikan objek pengembangan usaha.

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help