Orang Katholik Pakai Nama Muslim

News Analysis: Gabungan Dua Keturunan

Sejarah Manggarai sebelum tahun 1900 dimulai dengan budaya tutur saja.

News Analysis: Gabungan Dua Keturunan
POS KUPANG/DOK
dr. Husein Pancratius 

News Analysisi oleh dr. Husein Pancratius

POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Sejarah Manggarai sebelum tahun 1900 dimulai dengan budaya tutur saja. Orang Manggarai tidak punya huruf Manggarai, itu berarti mereka tidak memiliki budaya tulis. Hanya ada budaya tutur.

Tentang nama orang Manggarai yang unik seperti nama-nama Muslim karena nenek moyang berasal dari dua suku perantau, yakni Minangkabau dan Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Bajo, dan sebagainya).

Bisa dimengerti karena wilayah kita adalah wilayah kepulauan. Pada mulanya nenek moyang datang ke timur. Kalau baca sejarah, orang Buton sudah sampai ke Australia, apalagi Manggarai yang dekat.

Sejarahnya, orang Manggarai merupakan gabungan dua keturunan tersebut sejak tahun 1800 ke bawah. Entah tahun berapa sudah mendiami wilayah Manggarai, terutama wilayah pesisir karena mereka bangsa pelaut.

Jadi, mereka tinggal di pesisir dan agama mereka jelas dari nenek daerah asal mereka, yakni Islam. Tetapi, zaman dulu, Islam dikembangkan melalui da'i, mereka itu mungkin dua macam profesi, yakni pelaut dan da'i.

Orang di Manggarai bagian selatan menceritakan, nenek moyang mereka dari Minangkabau bernama Masyur, Masur, Mashud (nama yang sangat Islami). Mereka datang sebagai da'i. Bapak Masyur menurunkan orang-orang di bagian selatan, seperti Todo, Pongkor dan sebagainya. Mereka datang berlabuh pertama di Nangalili yang saat ini disebut Lembor.

Lalu mencari tempat pedalaman di Manggalere. Satu-satunya kata yang berhubungan erat dengan Manggarai, yakni Manggalere. Dari utara, termasuk bapak saya, menceritakan berasal dari utara, yakni Luwu (sekarang Kabupaten Palopo, Pantai Timur Sulawesi Selatan) yang bernama Rampe, turunkan anaknya sampai di kami saat ini.

Mereka dari pantai naik ke gunung dan beradaptasi dengan orang lokal akhirnya bisa bertani.

Pada mulanya daerah pesisir adalah muslim. Memang karena kita tidak ada budaya tulis, tetapi hanya budaya tutur. Yang ada sekarang di daerah pantai, muslim. Mulai dari timur, seperti Rembong, Pota, Lamba Leda bagian utara, Reo, Ruis, Bari, Boleng, Labuan Bajo, Mburak, Mata Wae, Lembor bagian selatan, Poco Leok, Torok Golo, Borong, Rongga Koe, Manus.

Banyak penduduk pesisir beragama Islam. Rupanya datang bergelombang, yang lain tidak ada mata pencaharian naik ke gunung bersosialisasi dengan masyarakat lokal menjadi orang gunung, termasuk nenek moyang saya migrasinya dari Pantai Utara ke Golo Turang dan sampai di Teno.

Mau belajar toleransi datanglah di NTT, bukan hanya Manggarai. Di Rote saja ada fam yang Rote tapi Islam. Agama pilihan pribadi bukan pilihan masal.

Penulis: Apolonia M Dhiu
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved