Orang Katholik Pakai Nama Muslim

Nama itu untuk Mengenang Nenek Moyang

Nama Sanudin diberikan oleh orangtuanya untuk mengenang dan menjadi bukti bahwa nenek moyang mereka pernah kawin-mawin dengan orang muslim.

Nama itu untuk Mengenang Nenek Moyang
istimewa
ilustrasi nama

POS-KUPANG.COM, BORONG --- Wenselaus Sanudin, umat Katholik yang menetap di Kampung Bugis, Kelurahan Rana Loba, Borong mengaku nama Sanudin diberikan oleh orangtuanya Donatus Atas dan Helena Eret untuk mengenang dan menjadi bukti bahwa nenek moyang mereka pernah kawin-mawin dengan orang Muslim.

Menurutnya, nenek moyang mereka beragama muslim yang datang dari Kerajaan Goa Makasar selanjutnya menetap di daerah itu dan keturunannya kemudian kawin mawin dengan orang Katholik hingga saat ini.

Karenanya, anak-anak dari hasil perkawinan itu, khususnya yang beragama Katholik, akan diberikan nama muslim untuk mengenang sejarah nenek moyangnya. Kakak-kakak Wenslaus pun diberikan nama Paskalis Jafar, Vinsensius Murdin.

"Saya akan mempertahankan nama-nama campur antara Kristen Katolik dan Islam ini sebab nama islam ini juga adalah keturunan keluarga kami sejak dari nenek moyang. Meskipun saya mempertahankan nama itu, tetapi saya tetap mempercayai iman saya sebagai orang Katholik. Kedepan jika saya memiliki keturunan saya tetap bagian depan nama saya memberikan nama santo dan santa sesuai nama orang kristen," tuturnya.

Sementara itu Sema'i mengatakan, setiap keluarga tentu punya nama muslim 'favorid' yang akan diberikan kepada anak keturunannya. Dan nama itu bisa saja berasal dari nama nenek moyang atau juga nama-nama tokoh nasional, artis, olaragawan, seniman dan lainnya yang menjadi favorid.

"Bagi umat kristen katolik harus memiliki nama santo dan santa itu yang sudah ditegaskan oleh gereja katolik, kalau di belakang itu terserah orang tua mau kasih nama muslim, kita tidak paksakan untuk berhentikan karena ini adalah kehidupan majemuk dan hak orang," kata Yohanes Ompor yang menambahkan, meskipun orang Katholik menggunakan nama Muslim, namun mereka tetap menjaga iman Gereja Kristen Katolik dan tidak menceredai agama muslim.

Dan selama ini, fenomena orang Katholik bernama Muslim itu tidak dipersoalkan oleh masyarakat setempat, termausk pihak Geraja maupun ooeh orang Muslim itu sendiri.

"Selama ini, masyarakat tidak mempersoalkan hal itu, Kami disini tetap hidup harmonis," tutur Ompor.

Anggota DPRD Matim, Gorgonius D. Bajang dan Adven Peding, ditemui Pos Kupang, di Kantor DPRD Matim, Selasa (28/7/2015) mengatakan, nama campuran KM itu lebih banyak digunakan oleh masyarakat Katholik yang menetap di daerah pantai. Karena, banyak terjadi kawin mawin antara orang Katholik dan Muslim juga karena latar belakang keturunan dari Muslim.

Sedangkan orang Katholik yang menetap di daerah pengunungan, tidak ada yang menggunakan nama campur KM itu karena mereka umumnya tidak kawin mawin dengan orang Muslim dan memang tidak ada keturunan muslim.

"Meski orang Katholik menggunakan nama muslim tetapi selama ini tidak pernah terjadi kesalahpahaman di wilayah Manggarai Timur. Disini masyarakat hidup harmonis. Saya harap kondisi ini tetap dipertahankan. Nama adalah pemberian orangtua yang harus dihargai. Nama campur KM tidak perlu dipermasalahkan," tegas Bajang.

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved