Sui Wuu Kuliner Khas Bajawa

Sui Wuu Warisan Nenek Moyang

Membuat sui wu'u merupakan salah satu bentuk keterampilan para nenek moyang zaman dulu untuk mengawetkan daging babi

Sui Wuu Warisan Nenek Moyang
PK/JEN
Sui Wuu kuliner khas Bajawa, Kabupaten Ngada, NTT 

POS-KUPANG.COM, BAJAWA --- Membuat sui wu'u merupakan salah satu bentuk keterampilan para nenek moyang zaman dulu untuk mengawetkan daging babi menggunakan tepung jagung dan garam yang diawetkan di dalam bambu (tuku).

Pembuatan sui wu'u masih dipertahankan dan dilestarikan oleh sejumlah keluarga di Bajawa, Kabupaten Ngada. Salah satunya keluarga Theresia Nau, warga Bouwa, Desa Ubedolumolo, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada.

Ditemui di kediamannya di Bouwa, Jumat (10/7/2015), Thresia mengatakan, membuat sui wu'u merupakan kebiasaan yang sudah diwariskan nenek moyang. Dan dia bersama saudaranya selalu melanjutkan tradisi itu.

Setiap ada daging, ia selalu membuat sui wu'u. Karena orang-orang dalam rumah baik, suami maupun anak-anak suka makan sui wu'u.

"Ini warisan nenek moyang dulu yang kami harus jaga. Kami tetap buat sampai sekarang. Kami punya di rumah buat terus dan simpan sampai dua tahun. Kalau ada lebih daging, saya selalu simpan sedikit untuk buat sui wu'u," ujar Thresia.

Bahan dasar sui wu'u adalah daging babi bagian lemak, tepung jagung yang ditumpuk dan garam. Daging dipotong kecil-kecil seukuran satu genggam lalu dicampur dengan garam.
Pada zaman dulu, sui wu'u disimpan di para-para, namun saat ini ada rumah yang tidak memiliki para-para sehingga disimpan di tempat yang aman saja.

Thresia menambahkan, jika ada acara adat tertentu seperti Rebha dan Meghe, dan ada sisa daging babi khususnya bagian lemak, maka ia selalu menyimpan dan membuat Sui Wu'u.

Daging yang baru dan daging yang lama bisa dicampur dalam satu tuku, namun penempatannya diatur. Daging yang masih baru ditempatkan paling dasar. Lalu disusul dengan sui wu'u yang sudah lama.

Idealnya sui wu'u dimakan setelah disimpan enam bulan. Semakin lama simpan semakin enak rasanya. Jika baru disimpan dua-tiga bulan, rasanya kurang lezat. Sebab, kelezatan sui wu'u bukan pada daging, tetapi tepung jagung yang dicampur daging.

Thresia mengatakan, cerita orangtua dulu bahwa pada saat membuat sui wu'u tidak boleh dilihat banyak orang. Jika tidak, sui wu'u bisa rusak, dan aromanya tidak bagus. Dan Thresia masih mempercayai hal itu sampai saat ini karena memang terbukti.

"Satu kali saya sementara buat sui wu'u, ada mas (orang Jawa) jual alat dapur lewat. Saya langsung teriak, mas jangan dulu lewat. Saya masih awetkan daging. Akhirnya orang itu mengerti," tutur Thresia sambil tertawa.

Suami Thresia Nau, Wenslaus Naru, mengaku sangat suka makan sui wu'u. "Saya suka makan sui wu'u. Karena sui wu'u punya cita rasa sendiri. Rasanya enak," aku Wens.

Menurut dia, pesan moral yang tersirat dari pembuatan sui wu'u adalah sikap penghematan. Pada zaman dulu, nenek moyang tidak pernah membuang daging sedikitpun, meski itu hanya bagian lemak saja.

Karena untuk mendapatkan daging sangat susah. Karena itu, mereka membuat lemak daging babi menjadi menu yang bisa bertahan lama dan dikonsumsi pada musim tertentu.

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved