Kasus Dermaga Flotim dan Alor

Wartawan Dilarang Potret Tersangka Korupsi Sugiarto

Ada oknum tertentu yang diduga menghalang-halangi penangkapan Sugiarto Prayitno alias Daud di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (26/6/2015).

Wartawan Dilarang Potret Tersangka Korupsi Sugiarto
POS KUPANG/OBY LEWANMERU
DIPERIKSA--Tersangka kasus proyek dermaga di Kabupaten Alor, Sugiarto Prayitno alias Daud, diperiksa Jaksa Max Mokola, S.H, di Kejati NTT, Jumat (26/6/2015), sekitar pukul 00.20 Wita. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Ada oknum tertentu yang diduga menghalang-halangi penangkapan Sugiarto Prayitno alias Daud di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (26/6/2015).

Informasi yang diperoleh Pos Kupang, Jumat (26/6/2015) malam dan Sabtu (27/6/2015), menyebutkan, penangkapan Sugiarto berbeda dengan tersangka lainnya dalam kasus yang sama.

Ketika tim penyidik Kejati NTT hendak membawa Sugiarto ke Kupang dengan pesawat dari Surabaya, sempat terjadi hambatan. Hambatan itu terjadi ketika Sugiarto dan Kasi Penuntutan, Robert Jimmy, S.H, dan Jaksa Max Mokola, S.H, sudah di dalam pesawat, ada oknum yang sempat menghalang-halangi.

Akibatnya, pesawat Lion Air (JT GT 696) mengalami delay (penundaan penerbangan) kurang lebih satu jam. Pesawat ini seharusnya tiba di Bandar Udara El Tari Kupang pukul 22.00 Wita, karena delay baru tiba pukul 23.10 Wita. Sugiarto dibekuk tim Kejati NTT kerja sama dengan intelijen Kejaksaan Agung dan Kejati Jawa Timur.

Kajati NTT, John W Purba, mengatakan, penghadangan di Bandara Juanda Surabaya itu dilakukan oleh oknum keluarga.

"Ada orang lain berinisial S, diduga sebagai provokator. Kami anggap S menghambat proses penyelidikan sehingga kami akan cari alat bukti yang cukup untuk proses yang bersangkutan," kata John, Jumat (26/6/2015) malam.

Pada Jumat itu, John ikut menjemput Sugiarto di Bandara El Tari Kupang. Ia tampak marah akibat perlakukan oknum S itu di Bandara Juanda Surabaya. John meminta Kasi Penyidikan, Adam Saimima, menyiapkan surat perintah penahanan.

Pantauan Pos Kupang, Sabtu (27/6/2015), saat hendak dibawa ke RSB Kupang, wartawan yang memotret Sugiarto dilarang oleh keluarga tersangka. Salah satu keluarga bertemu dengan fotografer Harian Victory News, Nahor Fatbanu, dan meminta supaya gambar yang ada di kamera segera dihapus.

Tidak hanya itu, anggota keluarga ini pun memanggil salah satu penasehat hukum Sugiarto, dan meminta bertemu dengan Nahor agar menghapus gambar yang dipotretnya.

Sebelumnya, ketika tiba di Kejati NTT, fotografer Harian Pos Kupang, Enold Amaraya, juga diperlakukan sama. Anggota keluarga Sugiarto mendekati Enold beberapa kali dan meminta agar gambar yang ada di dalam kamera dihapus.

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved