Tamu Kita

Shirley Manutede Promosi Tenun Ikat Lewat Medsos

Jaksa di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT) ini sangat fashionable, khususnya ketika sedang tidak bertugas atau di luar kantor.

Shirley Manutede Promosi Tenun Ikat Lewat Medsos
istimewa
SHIRLEY--Shirley Manutede bersama ibunda, Adriana Kanahebi, dalam sebuah acara, belum lama ini. 

Dari sekian koleksi tenun ikat yang dimiliki, tenun ikat dari daerah mana yang paling Anda sukai. Mengapa?
Saya sudah banyak mengoleksi berbagai tenun ikat dari hampir seluruh daerah di NTT. Tentu setiap daerah di NTT punya ciri khas tersendiri untuk warna dan motif karena menggambarkan sejarah dan budaya masing-masing. Tapi saya lebih menyukai tenun ikat dari daerah Timor, khususnya Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara dan Sumba.

Mengapa? Karena motif dan warna dari daerah tersebut mewakili kepribadian saya yang menyukai warna terang dan motif yang unik. Setiap orang pasti punya selera. Hal lainnya, bahwa tenun ikat dari dua daerah itu kerapatan benangnya lebih padat sehingga busana yang dihasilkan juga akan lebih berkualitas. Saya rasa penenun di daerah lain juga bisa menghasilkan kualitas tenun ikat yang sama seperti Sumba dan Timor, jika mau belajar. Ala bisa karena biasa.

Bagaimana caranya?
Setiap daerah punya 'aturan main' menyangkut motif dan warna, seperti Kabupaten Ende dan Maumere, umumnya berwarna kurang cerah. Kabupaten Ngada dan Manggarai lebih banyak didominasi warna hitam untuk dasarnya. Di Timor didominiasi warna cerah. Juga motifnya ada yang motif hewan, tanaman atau bunga atau motif garis-garis dan lainnya. Nah, bagaimana membuat para penenun itu bisa menghasilkan tenun ikat yang kualitasnya sama.

Kata sama di sini maksudnya bukan menyeragamkan motif dan warna, tapi lebih ke arah kualitas hasilnya, kepadatan atau kerapatan benang dan tidak luntur terlalu banyak. Hal ini yang bisa diintervensi oleh pemerintah. Dan, pasti bisa. Saya tidak mengetahui hal teknis, namun menurut pemikiran saya.

Alat tenun yang digunakan pastinya sama dan setiap penenun masih menggunakan sistem tradisional untuk menenun. Yang membedakannya yakni kemampuan, skill/ keterampilan sehingga produk yang dihasilkan berbeda. Jangankan dua orang, satu orang yang sama saja, saat membuat tenun ikat dengan motif tenun yang sama untuk beberapa potong, pasti hasilnya berbeda karena hand made.

Apalagi jika dibuat oleh dua orang yang berbeda. Namun kemampuan setiap penenun bisa 'disamakan' jika ada bimbingan atau pendidikan dan pelatihan (diklat) rutin dari pemerintah atau instansi terkait kepada penenun. Faktor lainnya, keinginan dari penenun untuk mau atau tidak untuk belajar agar meningkatkan produk yang berkualitas.

Busana modifikasi tenun ikat yang Anda miliki itu dijahit di mana, di dalam atau di luar NTT?
Ha ha ha... Semua orang pasti tidak percaya kalau saya menjahit busana modifikasi tenun ikat saya itu di Kupang dan dijahit oleh para penjahit lokal. Ada sekitar lima pejahit yang biasa menjahit busana saya, dua di antaranya adalah Rien Medah dan mama saya sendiri, Adriana Kanahebi. Sebenarya setiap penjahit, dari mana saja dia berasal dan di mana saja dia, termasuk penjahit yang ada di Kupang ini, semuanya mampu menjahit busana modifikasi tenun ikat kalau dia mau mencobanya.

Kenapa? Kan semua penjahit punya dasar menjahit yang sama, jadi pasti bisa menjahit dong. Hanya saja terkadang kita harus sedikit lebih memotivasi para penjahit. Karena banyak penjahit yang enggan menerima jahitan busana modifikasi tenun ikat, apalagi jika banyak permintaan untuk modifikasi. Penjahit enggan mencoba hal baru sehingga dia terus nyaman menjahit dengan model itu saja. Padahal jika mau mencoba sekali dan berulang-uang kali memperbaiki jahitannya, pasti hasil jahitannya akan lebih baik dan profesional.

Mungkin kali pertama gagal tapi kalau kembali dicoba, pasti akan baik hasilnya. Pengalaman saya, jika ditolak oleh penjahit dengan alasan tidak bisa mengikuti model yang saya inginkan, saya akan katakan ke dia bahwa kamu pasti bisa, kamu bisa. Coba dibuat, kamu pasti bisa. Dan, setelah dicoba, akhirnya dia bisa menjahitkan busana modifikasi tenun ikat yang saya inginkan.

Bisakah Anda berbagi pengalaman, bagaimana tips membeli kain tenun yang baik, cara memperlakukan busana modifikasi tenun ikat agar tidak mudah rusak?
Tentu saja bisa. Saat membeli kain tenun, lihatlah kain tenun yang memiliki benang yang rapat, tidak renggang, agar kain itu tidak mudah rusak setelah dijahit atau dikenakan. Umumnya, tenun ikat NTT luntur saat pertama kali dicuci. Agar tidak mengalami luntur yang banyak, jangan dicuci menggunakan mesin cuci. Cucilah dengan air shampoo dengan cara dicelupkan lalu dibilas, jangan diramas.

Halaman
1234
Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help