Kritik Cerpen

Kritik Cerpen: Pengais Tuhan

Cerpen berjudul Pengais Tuhan karya Ricko B ini dikritisi oleh Unu Ruben Paineon dari Perkumpulan Lopo BIINMAFO.

Kritik Cerpen: Pengais Tuhan
istimewa
Unu Ruben Paineon

Masalah yang diangkat dalam cerpen ini adalah religiusitas masyarakat di Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pertanyaannya, mengapa yang menjadi latar tempat adalah dua tempat yang cukup ramai di Kupang, Pasar Oebobo dan pertokoan Lai-lai Besi Kopan? Apakah kedua tempat ini merupakan Sodom dan Gomora modern?

Ricko secara tidak langsung mengajak pembaca menuju suatu refleksi mengenai "keberadaban" dan keberadaan Tuhan di tengah-tengah peradaban yang selalu disebut modern ini.

Menggunakan alur progresif dalam cerpen ini memungkinkan pembaca bisa dengan mudah mengikuti ceritanya secara kronologis. Ricko mengawali ceritanya dengan menghadirkan refleksinya sendiri mengenai keberadaan Tuhan, seperti yang terdapat dalam kutipan berikut.

Yang aku tahu, kalaupun Tuhan ada, maka darimana datangnya semua kejahatan ini? Sebab dulu, orang-orang kotaku dengan bangga berseru, "Kalau Tuhan tidak ada, darimana datangnya semua kebaikan?"

Selanjutnya Ricko mulai menghadirkan beberapa fakta yang kontras dan mengajak pembaca untuk menikmati pertentangan yang disajikan. Seorang bocah lapar yang mengais sampah di depan apotek lalu dihampiri seorang pria paruh baya yang mengendarai mobil yang memberinya roti cokelat kemudian keduanya bertemu dengan seorang bocah yang lain, yang pada akhirnya diceritakan sebagai pengais Tuhan di tempat sampah. Suatu sajian yang sederhana, sedikit datar dan terkesan biasa-biasa saja.

Karya sastra, khususnya fiksi, sering disebut sebagai dunia dalam kata. Hal ini disebabkan dunia yang diciptakan, dibangun, ditawarkan, diabstraksikan serta ditafsirkan lewat kata-kata, lewat bahasa. Dalam cerpen ini, Ricko menggunakan kata-kata yang sederhana sehingga mudah dimengerti. Namun sebagai suatu karya sastra, pilihan kata yang konotatif dapat dijadikan unsur untuk menyampaikan maksud yang sebenarnya.

Tiga tokoh yang dihadirkan oleh pengarang dapat diinterpretasi sebagai keadaan manusia saat ini. Kedua bocah pengais sampah berkonotasi masyarakat yang masih terbelakang sekaligus menyaran pada betapa keterpencilan dan kesederhanaan hidup yang nyaris mendekati keprimitifan masyarakat. Sampah sebagai metaforis lokasi yang terpencil, terisolasi, menjijikkan, dan selalu dijauhi.

Bocah pertama adalah simbol masyarakat bodoh dan terbelakang yang tidak menyadari kebodohan dan keterbelakangannya. Mereka hanya hidup dengan intuisi yang sepenuhnya didasarkan dari sasmita alam dan uluran tangan orang lain.

Sebaliknya, bocah kedua dapat diinterpretasi sebagai masyarakat cukup yang sadar akan keberadaan dan keterbelakangannya. Mereka yang selalu mau menghadirkan Tuhannya. Sementara sosok pria paruh baya berjas hitam yang dipadukan dengan kaos bergambar Soekarno merupakan simbol pemerintah atau pemimpin dan para politikus yang selalu menggunakan idealisme hanya sebagai topeng.

Hal ini menunjukkan bahwa tidak perlu konflik yang rumit dan klimaks yang menggigit, dengan pilihan kata-kata yang sederhana Ricko mampu menciptakan sebuah karya sastra yang koheren dan cukup estetis serta peka terhadap peradaban manusia modern. Namun tidak menutup kemungkinan juga bagi Ricko untuk bisa lebih berani lagi menampakkan konflik dan klimaksnya.

Hal lain yang harus diperhatikan dalam cerpen ini yakni sudut pandang (point of view). Ricko dalam cerpennya menggunakan sudat pandang "aku" tokoh tambahan. Berkaitan dengan hal ini, Nurgiyantoro (2010:265) menyatakan bahwa si "aku" tampil sebagai saksi, witness saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si "aku" pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita. Jadi, si "aku" tersebut muncul dan berfungsi sebagai "bingkai cerita".

Pada awal cerita, si "aku" tampil membawakan cerita kepada pembaca, kemudian menghadirkan ketiga tokoh yang lain. Ketiga tokoh itu lalu "dibiarkan" mengisahkan sendiri pengalamannya, sedangkan si "aku" seperti menghilang begitu saja sampai akhir cerita. Sebagai "bingkai cerita", Ricko seharusnya konsisten dengan posisinya. Si "aku" seharusnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita. Selamat kepada Ricko W, dan teruslah menulis. *

* Penulis tinggal di Kefamenanu, aktif di Perkumpulan Lopo BIINMAFO dan kontributor Warta Flobamora

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved