Kritik Cerpen

Kritik Cerpen: Pengais Tuhan

Cerpen berjudul Pengais Tuhan karya Ricko B ini dikritisi oleh Unu Ruben Paineon dari Perkumpulan Lopo BIINMAFO.

Kritik Cerpen: Pengais Tuhan
istimewa
Unu Ruben Paineon

Bocah itu tak membalas senyum. Ia kembali mengais, mengais, mencoba menemukan sesuatu yang terbuang percuma di tempat sampah yang tidak diperlukan lagi oleh warga kota. Tak sedikit pun ia tergiur dengan sepotong roti cokelat yang ia anggap fana itu.

Pria itu terpaku. Heran. Bocah ini tidak seperti yang ia bayangkan; tidak seperti bocah yang pertama dan mungkin bocah-bocah lain yang lapar dan begitu senang ketika mencium aroma roti cokelat. Pria itu bertanya-tanya dalam hati,

"apa yang sedang bocah ini lakukan, apa yang sedang ia cari di tempat sampah kota ini? Bukankah sepanjang sejarah kota, hanya orang-orang lapar saja yang mengais-ngais di tempat-tempat sampah kota, mencari sesuatu yang bisa dimakan hanya untuk menambal perut yang sudah terlanjur tak berisi? Bukankah setiap pengais di kota ini akan segera berhenti mengais apabila sudah mendapat apa yang ia butuhkan yakni makanan atau sesuatu yang bisa dijual, ditukar dengan uang untuk kemudian membeli makanan?"

Namun, malam itu, bayangan pria itu berubah seketika. Bocah di hadapannya berbeda. Aneh. Ia sedang mencari sesuatu (atau seseorang) yang tidak dicari pengais lainnya. Yang dicarinya bukan makanan. Ia tidak lapar.
Lama berdiri dan menatap dan tergerak oleh penasaran, pria itu kembali bertanya sambil memasukkan roti cokelat ke dalam saku jasnya, "apa yang kamu cari, nak? Kalau bukan makanan, apalagi yang kamu cari?"

Mendengar suara lembut itu, bocah itu berhenti mengais, membalikkan tubuhnya yang kurus, menatap kembali pria aneh itu. Wajahnya kotor, lusuh. Tubuhnya layu. Pakaiannya penuh bercak sampah lembab. Tapi sorot matanya yang nanar memandang tajam jauh penuh harap hamparan cakrawala yang menudungi kota.
"Saya sedang mencari Tuhan," seru bocah itu memecah sunyi dan sayup-sayup angin malam.

Pria itu menganga.
"Saya sedang mencari Tuhan di tempat sampah ini. Saya yakin Tuhan sudah terbuang di tempat kotor ini dan saya ingin menemukannya lagi. Kota ini telah membuangNya. Maukah Tuan membantu saya menemukanNya di sini, di tempat najis ini?"

Pria itu membisu. Dengan sedih ia kembali ke dalam mobilnya dan pergi sambil berharap tidak bertemu bocah itu lagi. *

*****************

KRITIK CERPEN
Oleh Unu Ruben Paineon

SIAPA berhak membuat definisi dan mengklaim diri sebagai manusia yang paling beradab? Ricko W dalam cerpennya yang berjudul "Pengais Tuhan" sesungguhnya telah menunjukkan kelumpuhan konsep di hadapan pengalaman manusia dan fakta-fakta mereka yang mengalaminya.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved