Kritik Cerpen

Kritik Cerpen: Pengais Tuhan

Cerpen berjudul Pengais Tuhan karya Ricko B ini dikritisi oleh Unu Ruben Paineon dari Perkumpulan Lopo BIINMAFO.

Kritik Cerpen: Pengais Tuhan
istimewa
Unu Ruben Paineon

Bocah itu mendekat dengan belas kasihan yang sungguh, mengharapkan dengan sangat dapat meraih roti cokelat itu. Pria tua itu segera tahu apa yang bocah itu mau. Dia menyodorkan roti itu kepada sang bocah yang langsung menyambar pemberian itu. Dengan rongga mulut yang kering akibat rasa lapar yang akut, bocah itu melahap roti cokelat itu tanpa sisa.

"Di mana kamu tinggal, nak? Tanya pria berjas itu sekali lagi.
"Di Pasar Oebobo." Jawab bocah itu dengan mulut yang penuh roti.
Pria itu menggeleng seperti timbul simpati di dalam hatinya.

"Kamu sendiri?"
Bocah itu mengangguk.
"Orang tua?"
Bocah itu menggeleng"

"Keluarga?"
Ia menggeleng. Roti di mulutnya hampir selesai dikunyah.
"Teman?"

Ia mengangguk. Bocah itu mulai bercerita.

Teman-teman saya ada di tempat-tempat kotor di kota ini. Mereka mengais seperti saya. Mereka mencari makanan sisa siang-malam. Mereka pun tak dapat tidur nyenyak sebelum mendapat secuil makanan. Roti yang seperti saya dapat ini sudah terlalu banyak. Mereka pasti akan iri melihat roti ini ada di dalam mulut saya. Ya, mereka semua tersebar di semua penjuru kota seperti tikus-tikus kota yang lapar sedang mencari makanan di pembuangan-pembuangan.

Pria itu menatapnya. Ia dapat merasakan kerasnya hidup di kota ini melalui mata bocah yang kini ada beberapa centi di hadapannya.

"Kita cari mereka yang lain!" Sejurus kemudian keduanya meninggalkan tempat kumuh itu. Mobil kijang tua itu melesat di jalanan kota yang sepi, menembusi malam yang dingin, mencari bocah-bocah kelaparan itu. Hasilnya; seorang bocah sendirian, tengah mengais dengan serius sekali di antara gedung-gedung pertokoan Lai-Lai Besi Kopan yang menjulang mengangkasa, sebuah simbol kapitalisme yang mustahil lenyap dari sejarah peradaban manusia. Wajah bocah itu kotor, pakaiannya compang-camping. Satu kesan yang muncul; lapar mengalahkan dinginnya malam. Malam itu sungguh menjadi miliknya sendiri. Di benaknya mungkin hanya ada dia dan bumi yang dipijak.

Mobil itu berhenti beberapa meter saja dari si bocah kumul. Sang pria tua turun dari mobil meninggalkan bocah pertama yang ditemukan tadi di dalam mobil. Pria itu menatap si bocah dengan kasihan.
"Nak, apa yang kamu cari?"

Dia terus mengais, seolah tak mendengar apa-apa. Baginya, menjawab sama saja dengan menanggung malu yang ke sekian kalinya sebab yang akan ia dapat hanya cemoohan konyol yang sangat tidak perlu sebenarnya.
Pria itu tahu apa yang dia butuhkan. Ia mengeluarkan sebungkus roti cokelat dari dalam saku jasnya. Segera, aroma roti itu menyengat di udara dan sampai di hidung bocah pemulung itu. Ia sejenak menyibak, menoleh sebentar ke arah datangnya aroma roti. Pria itu tersenyum, menunjukkan giginya yang putih kekuning-kuningan.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help