Tamu Kita

Ignatius Henyo Kerong: Beri Garam dan Penyedap

Mulai dari praktek dokter, menjadi asisten hingga Kepala Bapedda di Kabupaten Sikka, sudah dilakoni oleh dokter Ignatius Henyo Kerong.

Ignatius Henyo Kerong: Beri Garam dan Penyedap
PK/VEL
Ignatius Henyo Kerong 

Jadi, kami bantu satu tahun sekitar Rp 30 M dan dibagi ke-10 kabupaten, maka menjadi tidak ada artinya dan tidak seimbang dengan APBD. Tetapi saya selalu sampaikan kepada teman-teman bahwa AIPMNH hanya memberikan garam dan penyedap. Sehingga diharapkan apa yang diberikan AIPMNH adalah hal-hal yang esensi untuk mendukung inovasi dan inisiatif baru di pemda.

Inisiatif dan inovasi ini ditekankan. Prinsipnya kita selalu mendorong local solution for local program. Meski bantuan teknis, tetapi kami tidak pernah mau mengajak orang ahli ke sini dengan konsepnya lalu melakukan di suatu kabupaten.

Yang kami lakukan yakni membawa orang ahli datang duduk bersama dengan masyarakat di suatu daerah. Mereka mendengar persoalan masyarakat dan mencari akar masalah lalu mencari solusinya penanganannya. Sehingga program itu berasal dari masyaraat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

Sebagai seorang 'provokator' yang sukses tentu ada suka dan duka?
Sukanya, kami bisa berhasil mengajak para pengambil keputusan di daerah untuk bersama-sama memperjuangkan akses pelayanan kesehatan yang baik bagi masyarakat. Sukses, karena kami bisa mengajak masyarakat sama-sama berpikir dan bertindak melalui hal-hal yang sederhana. Saya melihat di daerah-daerah banyak sekali bantuan yang dilakukan oleh orang biasa hingga pejabat pemerintahan, bahkan bupati.

Saya akhirnya berpikir bahwa kita terbelakang bukan karena tidak bisa apa-apa tetapi karena kita kurang informasi, kurang terpapar dengan hal-hal yang baik dan kurang melakukan sharing bersama. Saya sangat salut dengan teman- teman bule. Setiap hari yang ada di otak mereka hanya berpikir bagaimana orang yang tidak mampu bisa hidup layak, mendapatkan pelayanan baik, dan akses informasi yang baik.

Saya pikir, saya sebagai anak daerah NTT kenapa tidak bisa melakukan hal yang sama. Sehingga saya ambil keputusan tahun 2012 pensiun dan gabung terus sudah di AIPMNH. Dukanya, jika tidak seiring sejalan. Contohnya, ada beberapa hal yang AIPMNH membuat prioritas, namun akhirnya tidak bisa terlaksana karena terbentur berbagai hal. Dan, kami sebagai orang luar dari pemerintahan tidak bisa mengintervensi terlalu jauh.

Anda kan seorang dokter. Masih buka praktek atau klinik?
Secara resmi, saya sudah tiga tahun tidak buka praktek lagi. Dimulai pada tahun 2012, saya ikut program IASTP di Australia selama enam bulan sehingga praktis saya tidak praktek lagi. Pasalnya, pasien datang dan saya tidak ada.

Hal itu membuat istri marah-marah karena saya buka praktek tapi tidak berada di tempat sehingga sepertinya tidak ada tanggung jawab terhadap pasien. Tapi benar-benar saya tidak punya praktek lagi sekitar tahun 2014, saat itu saya tidak perpanjang izin praktek lagi. Namun kondisi ini diprotes oleh anak-anak.

Bagaimana protes anak-anak?
Saya selalu ingat bahwa anak saya selalu memprotes saya. Anak saya yang paling besar saat duduk di bangku SD di Ruteng-Manggarai, sudah punya image yang tidak bagus terhadap saya yang berprofesi dokter. Menurutnya, Pak De-nya di Malang yang berprofesi sebagai guru menjadi idolanya, ketimbang saya yang berprofesi sebagai dokter.

Karena menurutnya, saya tidak punya banyak waktu dengannya. Memang saat itu saya hampir tidak punya waktu di rumah bersama keluarga, karena saya hanya satu-satunya dokter di Rumah Sakit Ruteng. Bahkan meski hari Minggu atau hari libur, saat sedang berjalan dengan istri dan anak, dan kemudian ada telepon dari rumah sakit karena ada pasien, maka saya akan langsung meninggalkan keluarga dan ke rumah sakit.

Barulah tahun 1990-an ada dokter tambahan sehingga saya bisa sedikit punya waktu untuk keluarga. Namun dia sudah punya image jelek tentang seorang dokter. Karena itu, saat saya menganjurkannya kuliah di kedokteran, anak saya itu tidak mau.

Untuk anak saya yang lain, malah mengkomplain sebaliknya. Dia sangat mengagumi profesi dokter, namun dia kecewa karena saya tidak menjalankan profesi itu dengan baik saat saya menjabat sebagai ssisten di Pemda Sikka dan Kepala Bappeda. Dia komplain bahwa saya dokter tapi kenapa tidak bekerja sebagai dokter, malah di pemerintahan.

Karena itulah seluruh anak-anak saya tidak ada yang mau menjadi dokter. Sebenarnya saya sakit hati dan kecewa juga karena tidak ada yang meneruskan profesi saya ini. Namun saya akhirnya menyerah, saya menghibur hati bahwa tidak sekolah atau tidak jadi dokter juga tidak apa-apa, yang penting mungkin nanti saya bisa dapat mantu seorang dokter. Saya sangat berharap hal ini bisa terwujud.

Anda sendiri menyesal tidak melakukan prakter dokter lagi?
Tidak. Semua berjalan apa adanya. Sebenarnya dalam dunia kedokteran itu ada yang disebut klinik dan ada yang disebut publik health. Jadi, saya tetap yakin bahwa I am in the right way (saya berada di jalan yang benar). Saya tidak memilih berada di jalur klinik (buka praktek) tetapi saya berada di jalur publik health (kesehatan publik).

Dan, kini kerinduan untuk praktek malah sudah hampir hilang. Dan, kerinduan saya saat ini bahwa di publik healty ini saya ingin membuat masyarakat menjadi lebih sehat. Kedua sisi ini kerja dan tujuannya sama, hanya caranya yang berbeda. Jika di klinik, kita mendiagnosa orang yang sakit supaya bagaimana dia bisa sembuh.

Di publik health, bagaimana mendiagnosa masyarakat agar bisa sembuh dari sosial ekonomi masyarakat, budaya, sehingga mereka bisa menerima nilai-nilai yang baik. Bagaimana mereka bisa hidup dengan sehat, wanitanya bisa hamil dan melahirkan secara sehat dan membesarkan anak secara sehat pula. Memang saat ini, sepertinya publik health mau 'lepas' dari kedokteran.

Karena saat ini ada orang yang berkecimpung di publik healty yang bukan seorang dokter. Padahal dulunya hal itu adalah suatu kewajiban. Namun saya bekerja di publik health dengan tetap membawa sumpah Hipocrates yakni bisa menyembuhkan orang, dalam hal ini masyarakat atau community.

Apa harapan Anda ke depannya?
Saya berharap agar masyarakat, khususnya masyarakat NTT, semakin percaya bahwa mutu kehidupan generasi berikut ditentukan oleh mutu atau pilihan kita pada saat hamil, melahirkan anak, mendidik dan membesarkan anak. Jika hal ini sudah bisa diterima oleh masyarakat, maka jalan lurus untuk mencapai kesejahteraan sudah terbentang mulus di depan sana.

Apakah kita bisa?
Bisa. Jika kita bersama-sama saling mendukung dan bekerjasama sesuai peranan masing-masing. Buktinya, selama beberapa tahun ini AIPMNH bersama instansi terkait bisa mengajak banyak orang untuk peduli terhadap kesehatan masyarakat. *

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help