Tamu Kita

Ignatius Henyo Kerong: Beri Garam dan Penyedap

Mulai dari praktek dokter, menjadi asisten hingga Kepala Bapedda di Kabupaten Sikka, sudah dilakoni oleh dokter Ignatius Henyo Kerong.

Ignatius Henyo Kerong: Beri Garam dan Penyedap
PK/VEL
Ignatius Henyo Kerong 

Ada hubungan baik juga antara Pemerintah dan AIPMNH selama ini. Selama ini kami mencoba membangun yang namanya Desa Siaga. Sampai saat ini sudah ada 830 Desa Siaga dari 2.000 desa di NTT ini.

Bagaimana cara Anda memotivasi daerah lain menjadi desa siaga?
Kami lebih banyak mendorong komitmen mulai dari pemimpin di kabupaten, kecamatan dan desa. Kami mengawasi dan melihat jika ada desa atau kecamatan yang sudah baik desa siaganya, kami akan bawa ke desa atau kecamatan lain untuk presentasi sehingga di wilayah itu juga akan membentuk desa siaga. Ada yang namanya Forum Pesisir di Denpasar setiap enam bulanan menghadirkan para pimpinan (gubernur, bupati) untuk sharing pengalaman.

Saat itu para bupati menceritakan hal-hal praktis dan inovasi yang dibuat di wilayahnya dengan pencapaiannya. Dan, bupati lain yang tertarik akan mengikutinya. Jadi, tugas AIPMNH sebenarnya hanya menjalankan tiga fungsi, menjadi jembatan, menjadi fasilitasi dan memperkuat. Sebagai jembatan, misalnya, kami membawa Bupati Flores Timur ke TTS untuk menceritakan pengalaman dan keberhasilan Revolusi KIA di sana. Dan, Bupati TTS meresponsnya dan berhasil menurunkan angka kematian ibu.

Buktinya, pada tahun 2013 di TTS tingkat kematian ibu cukup tinggi hingga 40 orang, namun tahun 2013 sampai pertengahan Juni hanya ada 20 kematian ibu. Dan, tahun 2014 bahkan hanya ada 4 kematian. Lihat sekarang, Desa Pontoara, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat, sudah sepuluh tahun terakhir ini tidak pernah ada lagi kasus kematian ibu dan bayi. Luar biasa kan.

Sebagai fasilitasi, kami memberikan pengarahan dan membantu mencari fasilitator yang baik. Dan, untuk fungsi memperkuat, kami memberikan penguatan dalam bentuk bantuan teknis, kami punya penasehat teknis yang bisa mendampingi mereka. Contohnya, Pak John Ire, penasehat teknis untuk Desa Siaga dan posyandu.

Sudah berapa daerah yang 'dimasuki' AIPMNH? Dan apa yang dimaksud dengan Desa Siaga?
Di NTT ada 14 dari 21 kabupaten mulai dari Flores, daratan Timor dan Sumba. Kabupaten lain belum tersentuh seperti Kabupaten Rote Ndao, Sabu, Alor, Sumba Tengah, SBD, Nagekeo dan Manggarai Timur. Desa siaga adalah desa yang masyarakatnya peduli terhadap masalah kesehatan. Desa yang masyarakat siap antar jaga.

Di desa siaga ada jejaring yang bisa mendorong atau melibatkan masyarakat dalam berbagai hal yang bertujuan untuk kemudahan ibu hamil mengakes fasilitas kesehatan yang memadai. Desa Siaga adalah tempat bertemunya organize community service (masyarakat yang sudah terorganisir untuk memberikan pelayanan) dan pelayanan profesional (dokter, bidan, perawat).

Jadi, desa siaga ini diorganisir oleh masyarakat dalam bentuk jejaring. Ada sedikitnya lima jejaring di setiap desa siaga tergantung dari kesiapan masyarakatnya.

Bisa dijelaskan jejaring itu?
Lima jejaring mendasar yakni jejaring dana, berfungsi mengumpulkan dana untuk membantu ibu-ibu mengakses pelayanan. Ada yang disebut dasolir (dana solidaritas persalinan), ada tabulir (tabungan ibu bersalin). Kedua, jejaring notifikasi yakni jejaring yang bertanggung jawab memberikan catatan kepada ibu dan masyarakat tentang adanya ibu hamil di desa tersebut.

Contohnya, di rumah yang ada ibu hamilnya, dipasang bendera di atas rumah. Kalau dipasang bendera berwarna merah artinya di rumah itu ada ibu hamil yang berisiko tinggi. Dengan tanda itu, maka orang di desa akan mengawasi kondisi ibu dimaksud. Ketiga, jejaring transport, untuk menyiapkan 'ambulance desa' bisa berupa apa saja untuk memobiliasi ibu hamil.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help