Objek Wisata Danau Kelimutu

Nuryadi: Bahaya Lahar Mengancam

Gunung Kelimutu (1640 mdpl) tumbuh di dalam Kaldera Sokoria atau Mutubusa bersama dengan Gunung Kelido (1641 mdpl) dan Gunung Kelibara (1630 mdpl).

Nuryadi: Bahaya Lahar Mengancam
PK/ROM
Nuryadi, S.Hut, MP

Bahaya lemparan lumpur dan lahar. Terdapat telaga atau danau di dalam dasar kawah memungkinkan terjadinya lemparan/semburan lumpur akibat letusan magmatik yang eksplosif maupun letusan freatik.

Lumpur yang dilemparkan dapat bersifat panas. Karena air yang terdapat dalam danau cukup banyak, sangat mungkin terjadinya lahar letusan atau aliran lahar.

Terkait dengan kondisi Danau Kelimutu yang masih merupakan kawah aktif, pihak Taman Nasional Kelimutu (TNK) selaku otoritas kawasan meminta agar masyarakat senantiasa waspada.

Pihak TNK mengeluarkan tingkatkan kegiatan gunung api menjadi dasar dalam peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman bahaya erupsi masing-masing. Kegiatan gunung api pada tingkat Normal (Level I)
Masyarakat dalam Kawasan Rawan Bencana III, II dan I, dapat melakukan kegiatan sehari-hari. Khusus untuk kegiatan di daerah puncak/kawah pusat erupsi, masyarakat harus tetap waspada dan mematuhi peraturan pemerintah daerah sesuai saran teknis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Kegiatan gunung api pada tingkat Waspada (Level II). Masyarakat dalam Kawasan Rawan Bencana III, II dan I, dapat melakukan kegiatan sehari-hari. Khusus kegiatan di Kawasan Rawan Bencana III, masyarakat harus waspada dan mematuhi peraturan pemerintah daerah sesuai saran teknis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Kegiatan gunung api pada tingkat Siaga (Level III). Masyarakat dalam Kawasan Rawan Bencana III dan II, harus menyiapkan diri untuk mengungsi sambil menunggu perintah pemerintah daerah atas saran teknis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Kegiatan gunung api pada tingkat Awas (Level IV). Masyarakat dalam Kawasan Rawan Bencana III dan II, harus mengungsi. Masyarakat dalam Kawasan Rawan Bencana I harus meningkatkan kewaspadaannya dan mematuhi peraturan pemerintah daerah sesuai saran teknis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Khusus masyarakat yang bermukim berdekatan dengan sungai yang berhulu di daerah puncak agar lebih meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman bahaya lahar apabila terjadi hujan.

Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api perlu mengetahui dan menyadari tentang potensi bencana gunung api, baik yang negatif (bahaya), maupun yang positif (sumberdaya). Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat, harus dilakukan sosialisasi, bimbingan dan penyuluhan.

Meningkatkan komunikasi antar instansi terkait. Peran yang lebih penting lagi adalah komunikasi antar pelbagai instansi yang terkait dalam usaha penanggulangan bencana gunung api yang harus ditingkatkan. Dengan komunikasi yang baik, maka penyelamatan dari bencana gunung api akan lebih cepat dan tepat.

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved