Objek Wisata Danau Kelimutu

Nuryadi: Bahaya Lahar Mengancam

Gunung Kelimutu (1640 mdpl) tumbuh di dalam Kaldera Sokoria atau Mutubusa bersama dengan Gunung Kelido (1641 mdpl) dan Gunung Kelibara (1630 mdpl).

Nuryadi: Bahaya Lahar Mengancam
PK/ROM
Nuryadi, S.Hut, MP

NEWS ANALYSIS
Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu, Nuryadi, S. Hut, Mp

POS-KUPANG.COM, ENDE --- Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu, Nuryadi, S. Hut, Mp, (11/6/2015) menyebutkan bahwa Gunung Kelimutu (1640 mdpl) tumbuh di dalam Kaldera Sokoria atau Mutubusa bersama dengan Gunung Kelido (1641 mdpl) dan Gunung Kelibara (1630 mdpl).

Ketiganya membangun kompleks yang bersambungan, kecuali Gunung Kelibara yang terpisah oleh lembah dari kaldera Sokoria. Letak puncak-puncak gunung api ini terjadi karena perpindahan titik erupsi melalui sebuah celah yang menjurus lebih kurang Utara Selatan

Dari ketiga gunung tersebut, Gunung Kelimutu merupakan kerucut tertua dan masih memperlihatkan aktivitasnya sampai sekarang yang merupakan kelanjutan kegiatan gunung api tua Sokoria.

Tubuh Gunung Kelimutu dibangun oleh batuan Piroklastika (bom, lapili, skoria, pasir, abu, awan panas dan lahar), serta lelehan lava. Permukaan lerengnya berkembang ke arah timur, tenggara dan barat daya dengan topografi kasar-sedang dibangun oleh aliran piroklastika dan lahar serta lelehan lava andesit, penyebaran lereng Selatan berelief sedang, dibangun oleh kegiatan Kelimutu muda tapi terhalang oleh Gunung Kelibara, sedangkan lereng Barat dan Utara memperlihatkan morfologi berelief kasar.

Pada puncak Kelimutu terdapat tiga sisa kawah yang mencerminkan perpindahan puncak erupsi. Ketiga sisa kawah tersebut kini berupa danau kawah dengan warna air yang berlainan dan mempunyai ukuran diameter bervariasi, bernama Tiwu Ata Polo (Danau Merah), Tiwu Nua Muri Koo Fai (Danau Hijau) dan Tiwu Ata Mbupu (Danau Biru).

Sejarah Gunung Kelimutu memang kurang dikenal, namun menurut keterangan penduduk setempat gunung dengan tiga danau berwarna ini telah ada sepanjang sejarah, di mana dinding diantara dua danau di bagian timur dahulunya bisa dilalui orang, tetapi sekarang dinding semakin menipis dan hampir lenyap akibat peristiwa vulkanik berupa letusan dan gempa.

Berdasarkan catatan, Gunung Kelimutu meletus dahsyat pada tahun 1830 dengan mengeluarkan lava hitam Watukali. Kemudian meletus lagi tahun 1869 dan 1870 disertai aliran lahar dan membuat suasana gelap gulita di sekitarnya, di mana hujan abu dan lontaran batu hingga mencapai Desa Pemo.

Berdasarkan sifat letusan Gunung Kelimutu, maka bahaya gunung api yang mungkin terjadi sebagai berikut: Bahaya letusan berupa lontaran material-material lepas (bom vulkanik, lapilli, dan abu gunung api). Material batuan samping dan kemungkinan dapat terjadi aliran awan panas dan aliran lava.

Jauhnya lontaran material-material vulkanik tergantung pada kekuatan letusan dan ukuran serta arah angin. Umumnya bom vulkanik dan lapilli yang dilontarkan pada waktu letusan tersebar di sekeliling kawah.

Halaman
12
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved