Objek Wisata Danau Kelimutu

Markus Ghawa Raja: Mr. Wellem Diambil Leluhur

Mosalaki Ulu Eko (tokoh adat) Kampung Pemo, Kecamatan Kelimutu, Ende, Markus Ghawa Raja, menceritakan kisah mistik di tahun 1996 lalu.

Markus Ghawa Raja: Mr. Wellem Diambil Leluhur
POS KUPANG/ROMUALDUS PIUS
Markus Ghawa Raja

POS-KUPANG.COM, ENDE --- Mosalaki Ulu Eko (tokoh adat) Kampung Pemo, Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Markus Ghawa Raja, kepada Pos Kupang di puncak Gunung Kelimutu, mengisahkan, cerita mistik yang terjadi tahun 1996 silam.

Saat itu, Mr. Wellem masuk ke Danau Kelimutu diam-diam sekitar pukul 03.00 Wita. Saat itu Wellem bersama istrinya berada di puncak danau yang dikenal sebagai pos pengamatan Danau Kelimutu.

Suami istri ini masuk Danau Kelimutu melalui jalan pintas tanpa melaporkan diri ke pos penjagaan yang ada di bawah Danau Kelimutu. Saat berada di puncak pengamatan, Mr. Wellem berniat masuk ke kawasan Danau Tiwu Ata Mbupu, sedangkan istrinya menunggu di pos pengamatan. Namun hingga beberapa jam kemudian, Mr. Wellem, tidak kembali. Saat itu istrinya hanya bisa menangis karena sang suami tak kunjung datang.

Kejadian ini kemudian dilaporkan dan langsung dilakukan upaya pencarian dengan melibatkan masyarakat setempat, anggota TNI dan Polri. Juga melibatkan pegawai Taman Nasional Kelimutu dan tim SAR. Pencarian saat itu dilakukan secara manual dan dengan seremoni adat. Namun hasilnya nihil. Hingga saat ini, keberadaan Mr. Wellem tidak diketahui rimbanya. Wellem seakan hilang di telan 'rimba' Kelimutu.

Secara mistis, Markus menduga Mr. Wellem, lenyap karena dia masuk ke dalam kawasan tanpa permisi, tanpa 'ketuk pintu' alias masuk secara ilegal. Apalagi saat itu Mr. Wellem masuk dini hari, di mana menurut kepercayaan masyarakat setempat, pada waktu dini hari itu para arwah atau leluhur di Danau Kelimutu sedang istirahat sehingga merasa terusik dengan kedatangan suami istri yang tanpa 'mengetuk pintu' itu.

"Karena itu jangan pernah coba-coba masuk ke kawasan Danau Kelimutu pada waktu malam hari. Sebab, di malam hari itu adalah waktu bagi para arwah atau lelehur melakukan berbagai aktifitas layaknya manusia. Jangan diganggu, mereka bisa 'marah'. Apa yang menurut manusia itu adalah malam hari, itu adalah waktu siang hari bagi para leluhur. Sebaliknya, apa yang menurut manusia adalah siang hari, maka itu adalah waktu malam bagi para leluhur," kata Markus.

Dari kejadian demi kejadian, lelaki yang berprofesi sebagai pemandu di Kawasan Kelimutu itu mengatakan, otoritas Taman Nasional Kelimutu akhirnya membatasi pengunjung untuk masuk ke kawasan Kelimutu dalam waktu tertentu saja, yakni dari subuh hingga pukul 17.00 Wita.

Selain Mr. Wellem yang menghilang misterius, ada juga beberapa warga yang menemui ajalnya di Danau Kelimutu. Sejak tahun 1996-2015, tercatat empat warga yang menemui ajalnya di kawasan danau itu. Mungkin menurut kacamata orang awam, kematian keempat orang itu wajar, tapi tidak demikian dari kacamata mistis.

Markus percaya hilangnya Mr. Wellem, 'diambil' oleh leluhur. Dan kini Mr. Wellem telah menjadi bagian dari kehidupan Danau Kelimutu.

"Dia telah berkumpul bersama para leluhur di Danau Kelimutu," tutur Markus.

Secara kasat mata, ujar Markus, ada yang mengaku sempat melihat Mr Wellem, di Bima-NTB. "Katanya dia menggunakan payung terbang. Dia meluncur dari Kelimutu hingga ke NTB," kata Markus.

Obyek wisata Danau Kelimutu tak hanya menawarkan keindahan tiga danau yang warnanya bisa berlainan di waktu-waktu tertentu. Namun, ada juga keunggulan lain yang bisa Anda nikmati di sana.

Seperti mata air panas, air terjun dan 140 jenis tumbuhan berkayu, 58 jenis burung, 150 jenis serangga, 13 jenis mamalia dan 4 jenis reptil. Anda juga bisa nikmati keragaman budaya di sekitar kawasan Dana Kelimutu berupa 17 komunitas adat Suku Lio.

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help