Tamu Kita

Catootjie Lusje Nalle: NTT Belum Fokus

Sebagai Doktor Nutrisi Unggas (ayam broiler) pertama di NTT, Catootjie Lusje Nalle, S.Pt., M.Agr.St., Ph.D sudah banyak 'menyumbang' ilmunya.

Catootjie Lusje Nalle: NTT Belum Fokus
PK/VEL
Catootjie Lusje Nalle, S.Pt., M.Agr.St., Ph.D 

Kebanyakan peternak kita adalah orang yang usianya sudah tidak produktif lagi sehingga agak sulit ketika ingin mengumpulkan mereka di suatu pelatihan. Pemikiran saya, kita harus bisa menciptakan peternak-peternak muda ke depannya. Tentunya harus diprovokasi dengan isu yang menarik. Butuh kerjakeras pemerintah dan juga perguruan tinggi. Pasti bisa.

Bagaimana ketersediaan pakan ternak?
Kalau untuk pakan ternak ruminansia terdiri dari dua bagian. Ada hijauan dan konsentrat. Hijauan seperti
rumput dan dedaunan kacang-kacangan. Sedangkan konsentrat yakni pakan penguat yang dicampur dari jagung, dedak, ampas tahu, sumber-sumber mineral. Bahan ini secara lokal ada. Tetapi, dari hijauan terbatas karena melimpah di musim hujan dan kurang di musim kemarau.

Sehingga pada musim kemarau ternaknya kurus-kurus. Kalau musim kemarau ternak hanya dilepas saja di padang. Kalau untuk pakan ternak rumanansia seperti unggas dan babi, sangat sulit. Bahan bakunya sangat sulit diperoleh di NTT. Bahan bakunya kan jagung dan produksi jagung di NTT tak mencukupi. Saya berikan contoh.

Perusahaan Candra Fam memiliki populasi ayam sebanyak 50 ribu ekor. Namun bahan baku yang dipakai untuk pakan tidak cukup sehingga dia import dari luar NTT.

Masa ketersediaan jagung di NTT tidak cukup. NTT kan dijuluki Provinsi Jagung?
Julukan boleh julukan. Tapi kenyataannya, memang produksi jagung di NTT masih kurang untuk kebutuhan di NTT sehingga jagung masih harus didatangkan dari Sulawesi. Karena apa? Karena jagung bukan hanya dimakan oleh ternak tapi juga dikonsumsi oleh manusia. Ibarat makanan, manusia dan ternak bersaing, berebutan jagung sehingga produksi jagung tidak cukup. Harusnya pemerintah membuat pemetaan tempat khusus untuk jagung di sejumlah daerah. Dan, benar-benar menggalakkan masyarakat untuk menanam jagung.

Apakah pakan ternak hanya jagung?
Tidak juga. Karena pakan ternak bisa menggunakan limbah pertanian. Tetapi, tetap saja juga kurang di NTT ini. Di Pulau Jawa, pakan ternak menggunakan limbah dari kakao, limbah dari kopi dan sebagainya. Tapi di NTT pengolahan limbah pertanian belum ada. Dedak padi juga bisa menjadi pakan ternak. Namun dedak padi di sini masih dalam bentuk kasar dan seratnya sangat tinggi.

Karena itu, dedak padi masih harus dicampur sekam yang sangat banyak. Sementara di Pulau Jawa, dedak padi sudah dihaluskan sehingga dedak padi itu ada yang dijual kasar, halus, bekatul dan lunte. Pakan lainnya yakni bungkil kacang kedelai atau sisa dari minyak kedelai (tahi minyak kacang kedelai).

Di industri pakan ternak di dunia dan di Indonesia disebut gold standar. Nilai nutrisinya sangat tinggi, dan disukai ternak karena daya cernanya tinggi. Ampas tahu juga bisa dijadikan pakan ternak, namun harus diproses dulu.

Kita juga punya kedele, tetapi tidak bisa langsung dikasih ke ternak karena mengandung anti trisin. Sehingga kedelai harus direbus, dijemur, disangrai dan hal ini memakan waktu lama dan biaya banyak. Orang kita tidak mau karena tidak menguntungkan dari segi ekonomi. Bahan pakan lain seperti tepung tulang dan daging, tapi kebanyakan tidak dihasilkan di Indonesia. Jadi, pabrik pakan di Kupang dan Indonesia pada umumnya mengimpor dari Amerika.

Kita juga punya bekicot tetapi musiman, dan kita tidak punya peternak bekicot. Ada bahan pakan lain yakni situs lemon asam amino sintetis seperti lisin, metionil, ini tidak ada. Dan, ini sangat penting untuk pertumbuhan dan produktivitas ternak unggas. Di bahan baku organik ada, tetapi saat pengolahan menjadi hilang karena panas.

Bagaimana agar Indonesia, khususnya NTT, bisa menyediakan pakan ternak sendiri?
Ya, tadi itu. Bahan-bahan pakan ternak seperti jagung, ampas tahu, kedelai, bekicot, dedak padi, harus dikelola dengan baik. Jika saja di NTT ini ada orang yang mau fokus mengelola pakan untuk ternak, tentunya ketersediaan pakan ternak di NTT cukup. Dan, akhirnya banyak masyarakat yang tertarik untuk memelihara ternak karena pakannya mudah didapat dan tentu lebih murah.

Bagaimana dengan pemerintah?
Pemerintah dengan dinas-dinas teknis sebenarnya sangat tahu dan mengerti. Tetapi, saya melihat sepertinya tidak ada kemauan untuk melakukan pendampingan secara terus-menerus. Dan, terkesan selama ini kita belum fokus pada satu bidang tertentu, misalnya, pakan ternak, bibit ternak, dan sebagainya. Harusnya ada pemetaan dan polanya harus terintegrasi.

Fokuslah pada ternak, pabrik pakan, sampai ke pengolahan hasil dan limbahnya di satu tempat tertentu. Sekarang kami sudah ada breading farm untuk unggas di Oefafi. Kalau dulu kita selalu impor DOC, saat ini kita sudah bisa menghasilkannya sendiri. Saya melihat peluang beternak unggas di NTT sangat besar, karena kita dekat dengan Timor Leste, restoran siap saji sudah semakin banyak, hotel pun banyak.

Mungkin yang masih menjadi kendala untuk industri adalah sampai saat ini kita belum punya regulasi yang jelas tentang pengunaan fit adiktif tertentu seperti antibiotik. Saya terkadang takut menggunakannya untuk ternak. Karena saat sekolah di luar negeri, isu tentang penggunaan antibiotik dalam pakan ternak itu sudah tidak diperbolehkan lagi. *

BIODATA
---------------
- Nama Lengkap: Catootjie L. Nalle, S.Pt., M.Agr.St., Ph.D.
- Jabatan fungsional: Lektor Kepala.
- TTL : Kupang, 1 Februari 1972.
- Nama anak : Immanuel Williams Irsal (15 thn)

- Riwayat Pendidikan
* 1995: S1 Sarjana Peternakan di Univesritas Undana Jurusab Produksi Ternak.
* 2000: S2 Magister University of Queensland, Australia tentang Nutrisi Unggas
* 2009: S3 Doktor di Massey University, New Zealand tentang Nutrisi Unggas

- Jabatan
* Manajer PEDP-ADB Politeknik Pertanian Negeri Kupang 2013-sekarang
* Ketua Jurusan Peternakan Politeknik Pertanian Negeri Kupang April 2011-April 2015
* Kepala Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ternak Politeknik Pertanian Negeri Kupang 2010-2011
* Direktur TPSDP Politeknik Pertanian Negeri Kupang 2004
* Sekretaris DUE-like Politeknik Pertanian Negeri Kupang 2003

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help