PosKupang/

Petani Lewa Tanam Padi dengan Pola SRI Panen Dua Kali Lipat

Dengan ketemu beliau, pola kerja kami berubah. Kami juga mulai mengerti tentang pertanian organik

Petani Lewa Tanam Padi dengan Pola SRI Panen Dua Kali Lipat
Alfons Nedabang
PANEN PADI--Petani memanen padi yang ditanam dengan pola SRI di Lewa, Kabupaten Sumba Timur, Senin (18/5/2015).

POS KUPANG.COM, WAINGAPU--Petani di Kampung Lairina, Desa Tanarara, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur, menanam padi dengan pola SRI (System of Rice Intensification) setelah sebelumnya menggunakan cara-cara konvensional. Pola SRI dapat meningkatkan produktivitas padi hingga dua kali lipat.

SRI merupakan suatu teknologi budidaya padi yang menitikberatkan penghematan sumber daya, terutama air. Metode yang digabungkan dengan cara bercocok tanam secara organik ini, merupakan suatu inovasi dalam teknik budidaya padi.

Katoci Papu Abu adalah salah satu petani yang menanam padi dengan pola SRI. Pada Senin (18/5/2015), padi Sari Ayu yang sudah menguning di lahan sawahnya, dipanen.

Panen padi yang melibatkan sejumlah anggota keluarga dan rekan-rekan petaninya, diawali dengan doa dalam bahasa Sumba, dipimpin Anggal Hai Praing.
Dengan Sabit di tangan, laki perempuan, tua dan muda memotong padi. Dalam bahasa Sumba disebut Ka'wu (potong padi). Sambil memotong padi, mereka melantunkan syair adat yang disebut Wunda Nggaiya. Nyanyian bersama-sama tersebut bertujuan untuk memberi semangat.

Padi yang sudah terpotong dari batangnya, dikumpulkan. Selanjutnya acara Parinah (rontok padi). Mereka menggunakan pola tradisional, yaitu menginjak-injak hingga bulir padi terlepas. Saat menyentak-nyentak kaki, tangan memegang kayu yang sudah dibuat memalang, dengan dua tiang sebagai tumpuan. Wunda Nggaiya dilantunkan memberi semangat.

Parinah dengan cara tradisional nyaris sudah tidak ditemukan karena kebanyakan petani menggunakan mesin perontok padi.

Katochi Papu Abu mengatakan bertanam padi dengan pola SRI memberi keuntungan. Salah satunya yaitu pada usia 10 hari, bibit padi sudah panjang dan siap ditanam.

"Penyemaian bibit hanya 10 hari, panjang mayang sudah mencapai 27-30 cm. Kalau pola biasa, pada 10 hari panjang padi semaian hanya sejari sehingga belum bisa ditanam. Artinya, usia semai lebih pendek, berbeda dengan yang selama ini usia semai 3 minggu sampai 1 bulan. Keuntungan lainnya, sekarang hanya tanam satu anakan, sebelumnya biasa tanam 6 anakan," ujarnya.

"Jadi, bertanam dengan pola SRI lebih irit bibit dan tenaga. Perubahan cara tanam dan sebar ini pertama kali diterapkan di Lewa," tambahnya.

Dia mengungkapkan, memiliki lahan sawah seluas 2 hektar (Ha). Sebelum mengenal pola SRI, bibit padi yang digunakan untuk lahan seluas 2 ha sebanyak 16 kg. Sekarang hanya 8 kg bibit padi.

Dikatakannya, hasil panen juga berbeda. Kalau pola lama hasil panen 1 hektar minimal 2 ton. Tapi dengan pola SRI hasilnya meningkat 8-12 ton per hektar. Katochi Papu Abu berterima kasih kepada Rahmat Adinata dari Sumba 5 Organik yang senantiasa mengajari dan membimbing bertanam padi dengan pola SRI.

"Sebelumnya kami petani tidak ada pembimbing. Dengan ketemu beliau, pola kerja kami berubah. Kami juga mulai mengerti tentang pertanian organik," ujarnya.
Hal senada dikatakan Markus, petani lainnya.

"Kami berterima kasih kepada Pak Rahmat yang telah membimbing kami," ucap Markus. (aca)

Editor: Ferry_Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help