Pakaian Tenun Ikat NTT Besutan Mince Selalu Trendy

Mengenakan baju berbahan kain tenun ikat acapkali dicap sebagai orang jadul atau kampungan. Tetapi mengenakan baju berbahan tenun ikat besutan pemilik

Pakaian Tenun Ikat NTT Besutan Mince Selalu Trendy
Ist
Tenun ikan membalut tubuh para wanita cantik ini 

Tumpukan kain tenun ikat asli NTT yang tertata rapi di almari kaca milik Mince siap dipilih dan dibeli para pelancong setiap saat.

Untuk menjangkau rumah butik Jula Huba, tidaklah sulit. Bila
menggunakan angkutan umum, pelancong cukup menumpang angkutan lampu nomer tujuh dan turun langsung di rumah butik tersebut. Pasalnya, rumah butik Jula Huba berada persis dipinggir jalan Frans Seda.

Tak jauh dari rumah butik berdiri gedung Konsulat Timor Leste dan Kantor Otoritas Jasa Keuangan NTT. Jadi mudahkan mencapainya.

Wilmince yang biasa akrab disapa Mince mengatakan peminat baju berbahan kain tenun ikat yang dimodifikasi bukan hanya dari kalangan orang berduit di Jakarta. Warga Kota Kupang pun mulai berminat dengan baju berbahan tenun ikat besutan itu. Rata-rata setiap bulan baju tenun ikat yang saya modifikasi bisa laku hingga 40 potong.

Untuk memasarkan baju besutannya itu, Mince tak hanya menjual di rumah butiknya di Kupang. Ia pun menjual baju berbahan tenun ikat yang dimodifikasi di dua outletnya di Thamrin City di Jakarta.

"Disana juga banyak peminatnya lantaran desainnya saya perbarui terus," jelas Mince.

Tak hanya itu, demikian Mince, ia juga sering menggelar fashion bekerjasama dengan komunitas fotografer di NTT.

Mince mengatakan selama ini pihaknya hanya mengembangkan baju berbahan tenun ikat untuk kebutuhan pegawai dalam bentuk baju safari hingga jaket. Untuk melebarkan sayap bisnisnya ia pun mencoba mengenalkan baju berbahan kain tenun ikat namun dimodifikasi sehingga bisa dipakai dalam acara non formal. "Untuk motif kain tenun ikat bisa menggunakan dari daerah mana saja di NTT," katanya.

Meski mengembangkan bisnis baju berbahan kain tenun ikat yang dimodifikasi gaya modern, Mince tak meninggalkan bisnis lamanya. Ia tetap menjual kain tenun ikat, sarung, tas, dompet hingga kebaya di butiknya. Pasalnya ia sudah memiliki koordinator di masing-masing kabupaten untuk mengumpulkan hasil pengrajin ikat di setiap kabupaten.

Ia pun sering mengikuti pameran tenun ikat yang digelar ditingkat nasional maupun lokal agar pengrajinnya tetap bersemengat berkarya. Ia mengkhawatirkan bila kain tenun ikat NTT tidak terus dipromosikan akan dijiplak daerah lain. Pasalnya saat ini banyak kain tenun ikat karya anak-anak NTT dijiplak daerah lain.*

Penulis: alwy
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help