Video Tamu Kita

VIDEO: Sinun Petrus Manuk Nakhoda Tidak Boleh Oleng

Menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) NTT bukan hal mudah. Namun Drs. Sinun Petrus Manuk selalu berusaha mengatasi persoalan

Menuju UN CBT 2016 mendatang, bagaimana persiapannya?
Anak-anak memang harus didorong untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan informasi. Tahun 2015 ini baru satu dari 665 SMA yakni SMKN 1 Kupang yang menjalani UN CBT. Setelah UN SMP selesai, saya akan melakukan inventarisasi sekolah di NTT. Minimal satu kabupaten, akan ada satu SMA yang bisa melaksanakan UN CBT.

Kami harapkan sekolah menyediakan parangkat komputer sepertiga dari jumlah siswa. Dan, saya sedang membangun koordinasi dengan pihak IT kementerian untuk kemungkinan pelaksanaan UN CBT menggunakan laptop.

Berapa alokasi dana untuk pendidikan di NTT?
Kalau plafon kami, sesuai dengan apa yang kami rancang, Dinas P&K NTT butuh dana sekitar Rp 70-80 miliar per tahun. Untuk membiayai kegiatan peningkatan mutu pendidikan dan beasiswa. Namun yang kami dapat hanya Rp 38 miliar saja, pagu indikatif yang dibahas untuk tahun 2016 hanya Rp 41 miliar. Akibatnya masih banyak hal-hal menyangkut pendidikan belum bisa ditangani. Masih banyak sekolah yang kekurangan sarana prasarana.

Saat saya mengunjungi SMP Negeri 12 di Kabupaten Kupang, saya ingin berbicara mengenai prestasi tingkat nasional yang berbau sains. Tapi, bagaimana, di sana laboratorium saja tidak ada. Artinya, selama bersekolah anak tidak pernah melakukan praktek. Bagaimana dia bisa bersaing di tingkat nasional? Salah satu prioritas ke depan, APBD 1 membelanjakan peralatan laboratorium diberikan ke sekolah-sekolah dan sekolah siapkan ruangan.

Tahun ini saya anggarkan dana Rp 1,2 miliar dari APBD I, di mana sebesar Rp 700 juta untuk belanja peralatan laboratorium untuk tiga kabupaten dan sisanya Rp 500 juta, pengelola labornya dimagangkan ke Jakarta. Ya, semua harus dilakukan secara bertahap. Saya sedang masukkan telaahan kepada gubernur terkait peningkatan dana untuk pendidikan. Karena perintah UU, anggaran yang disiapkan harus sebanyak 20 persen. Kalau 20 persen dari APBD, maka jika APBD Rp 2 triliun, dana pendidikannya sebesar Rp 400 miliar.

Jika nilai itu terlalu besar, kita sesuaikan dengan kondisi daerah. Tarulah 10 persen, yakni Rp 200 miliar, juga mungkin terlalu tinggi. Kalau lima persen atau Rp 100 miliar ya mungkin bisa lah. Ya seperti permintaan kami Rp 70-80 miliar, tapi kan seperti yang saya bilang, kita hanya diberikan Rp 30-an miliar.

Apa suka duka Anda memimpin Dinas P & K NTT?
Dukanya, tidak gampang mengelola Dinas P& K NTT dengan pegawai yang begitu banyak. Belum lagi guru sebanyak 94 ribu, 4.700 lebih SD, 1.500 SMP, 449 SMA, 203 SMK. Belum lagi madrasah (MI, Mts, MA) dengan berbagai persoalan di dalamnya. Namun kuncinya, saya harus tetap menjaga lini di sini agar output-nya positif.

Nakhoda tidak boleh oleng, saya harus tetap memegang kendali. Aura positif harus keluar dari sini dan saya selalu membangun pikiran positif kepada staf. Sukanya, saya tidak membayangkan akan menjadi Kadis P&K. Mulai dari menjadi guru, berjalan kaki, naik bemo, sekarang dapat jabatan dengan berbagai kewenangan dan fasilitas. Ini yang membuat saya bangga.

Karenanya kepercayaan dari gubernur ini akan saya jaga. Dan, saya bangga karena dikelilingi oleh pegawai yang hebat dan mau bekerjasama untuk memajukan pendidikan di NTT. Saya sangat senang dalam setiap kesuksesan yang dicapai sekolah, guru, dan anak didik. Jabatan ini sangat luar biasa.

Harapan Anda untuk Pendidikan di NTT?
Saya tetap berharap pendidikan di NTT selalu meningkat. Saya agak protes dengan kalimat bahwa pendidikan di NTT selalu berada paling bawah dan urutan buntut. Karena dari persentase kelulusan, NTT tidak berada di bawah, tapi sudah 99 persen ke atas. Dan, peringkat ini harus terus terjadi di tahun-tahun mendatang. Tidak saja pendidikan, namun dari aspek kebudayaan NTT juga harus bisa lebih meningkat.

Saya menghadapi dikotomi antara pendidikan dan kebudayaan, dan dua hal ini mesti seiring sejalan. Karena jika pendidikan lebih kepada kecerdasan atau intelek, kebudayaan lebih kepada karakter. Sehingga jika kedua hal ini bisa berjalan bersama, maka NTT bisa menghasilkan anak dan generasi yang luar biasa.

Sekarang program kebudayaan kecil-kecil, anggarannya kecil-kecil. Ke depan tidak ada dikotomi lagi, semua maju bersama-sama karena anak bangsa ini perlu dipertaruhkan. *

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help