Video Tamu Kita

VIDEO: Sinun Petrus Manuk Nakhoda Tidak Boleh Oleng

Menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) NTT bukan hal mudah. Namun Drs. Sinun Petrus Manuk selalu berusaha mengatasi persoalan

Sehingga bagi saya, ya, bikin hebat guru dulu, kuatkan guru dulu dan cerdas guru dulu, sejahterakan guru dulu. Jumlah guru di NTT 94 ribu orang, guru PNS hanya 47 ribu, selebihnya adalah guru non PNS seperti guru bantu, tenaga kontrak provinsi, tenaga tetap yayasan, guru honor APBD 2 dan guru honor komite. Hal ini menunjukkan perbandingan yang tidak wajar.

Terkait mutu, saat ini guru yang D3 ke bawah sebanyak 38,32 persen. Sisanya 60-an persen lulusan D4 dan S1. Saya juga menyesal karena guru ada kecenderungan mengajar di kota, sedangkan di kampung tidak mau. Akibatnya di kampung, guru negeri hanya ada satu. Saya dua hari lalu meninjau UN di Molo Utara, sempat kunjungi SLB Negeri Nunumele, di sana guru negeri hanya satu, sedangkan belasan lainnya guru kontrak.

Sekarang ini kami sedang menghimpun data mengenai guru untuk menjadi kajian sehingga kita bisa tahu benar bagaimana penyebaran guru per kabupaten, per sekolah dan per mata pelajaran. Kita harus punya data base itu, baru kita bisa membuat kebijakan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru.

Di Nagekeo, pemda setempat mengambil kebijakan menarik semua guru PNS dari sekolah swasta. Bagaimana pendapat Anda?
Sebenarnya saya termasuk yang tidak setuju dengan kebijakan itu. Sebab sangat mendikotomikan negeri dan swasta. Padahal kalau melihat sejarah, siapa yang duluan membangun sekolah di negara ini, negeri atau swasta. Terus terang, saya paling tidak setuju dengan adanya dikotomi antara sekolah swasta dan negeri, guru swasta dan negeri, guru PNS dan honor. Hal ini, ke depan, akan kita hilangkan perlahan-lahan sehingga semua berlaku adil.

Bagaimana langkah yang Anda ambil untuk mengatasinya? Apa program baru Anda?
Saya terus mendorong guru-guru terpencil yang jauh dari kota untuk bisa ikut UT dan kuliah mandiri. Agar mereka tidak perlu datang ke kota dan meninggalkan anak dan keluarga. Mereka bisa mengerjakan tugas dari UT dan tetap bisa mengajar. Juga ada kuliah mandiri, semacam izin belajar, dan kuliah bayar sendiri, itu terutama dilakukan guru di kota.

Pemerintah juga menyiapkan beasiswa melalui bansos di Biro Keuangan. Tahun ini ada 2.000 guru yang mendapatkan beasiswa dengan besaran Rp 2.500.000 untuk satu kali. Yang kita harapkan kalau pemerintah ada anggaran, guru yang berprestasi dikirim untuk kuliah S1 atau S2 atau update kapasitas dan kompetensinya. Untuk program, saya meneruskan program gong belajar dari kadis yang dulu. Namun sekarang namanya direvisi menjadi revitalisasi gong belajar, dimana ada beberapa substansi yang diperbaiki.

Kami juga memberikan hadiah kepada guru dan sekolah dalam bentuk barang sebagaimana dilakukan tahun lalu. Di mana sekolah yang siswanya mendapat nilai 10 dalam UN, akan diberikan sepeda motor. Guru pun dapat hadiah. Saya pikir, terus anak yang berprestasi dapat apa? Nah, kami harap ke depan anak yang berprestasi bisa juga diberikan beasiswa oleh pemerintah.

Mengenai olimpiade sains, setiap tahun siswa dan sekolah mengeluh karena pemerintah tidak pernah menyiapkan dana untuk mengikuti lomba sains tingkat nasional, bagaimana itu?
Ya, ini salah satu masalah yang belum terpecahkan hingga saat ini. Seharusnya saat lomba tingkat provinsi dan mau ke nasional harus ada TC dulu. Tapi anggaran TC selalu dicoret saat rasionalisasi tim anggaran. Sehingga kami bisa apa? Padahal kami terus melakukan koordinasi mulai dari prapembahasan. Tim PDE, kadis, kami juga berargumentasi tetapi terakhir TAPD yang memutuskan.

Dan, kami menerima kondisi riil apa adanya. Saya mau mimpi tinggi-tinggi tapi tidak ada dukungan finansial, yah mau bagaimana lagi. Untuk olimpiade memang sejak tahun lalu kondisinya seperti ini. Padahal di provinsi lain, saya ke Salatiga, kenapa Jawa Tengah juara terus setiap tahun? Karena mereka berminggu-minggu sudah tidur bangun di Salatiga dengan dosen, profesor, doktor. Pemerintah menganggarkan dananya. Sedangkan kita, untuk TC tiga hari saja, duitnya juga tidak ada.

Kalau harapkan anak juara olimpiade, lomba sains, dan pemerintah belum mendukung, ya bagaimana? Namun saya berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada sekolah dan orangtua yang telah memberikan perhatian kepada anak-anaknya untuk bisa mengikuti lomba sains sampai tingkat nasional. Meskipun hal itu sebenarnya adalah tanggung jawab pemerintah.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved