Video Tamu Kita

VIDEO: Sinun Petrus Manuk Nakhoda Tidak Boleh Oleng

Menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) NTT bukan hal mudah. Namun Drs. Sinun Petrus Manuk selalu berusaha mengatasi persoalan

Selama Anda memimpin Dinas P& K NTT, bagaimana hasil UN?
Saya lebih percaya diri karena ternyata pencapaian UN tahun 2004 meningkat. Tahun 2013 SMP menempati peringkat 31, tetapi setelah dibenahi secara baik, tahun 2014 naik peringkat menjadi 21 atau dari 97 persen manjadi 99 persen lebih. Tingkat SMA, juga mengalami kenaikan dari 98 persen menjadi 99,01 persen atau dari peringkat 29 tahun 2013 naik menjadi peringkat 23 secara nasional.

Sementara untuk hasil UN SD, sudah empat tahun terakhir 100 persen. Keberhasilan ini merupakan keberhasilan bersama dan hal ini terjadi karena adanya pengelolaan manajemen yang baik. Saya terus berusaha untuk membenahi manajemen di Dinas P&K NTT. Semua harus mengikuti satu komando sehingga bisa membawa 'kapal' ini ke depan dengan baik.

Ada sekitar 414 pegawai baik PNS maupun tenaga kontrak dan honor. Semua pegawai ini saya rangkul dan optimalkan sehingga semua bisa berperan sesuai tupoksinya.

Apa yang mempengaruhi hasil UN di NTT?
Banyak hal yang mempengaruhinya tentu. Namun bagi saya, kunci atau dapurnya ada pada Dinas P & K NTT. Mengapa? Karena di sini tempat dimulainya perencanaan dam pengelolaan serta pengawasannya. Kebijakan teknis kita rumuskan di sini dan harus meretas sampai ke tingkat bawah.

Jangan sampai apa yang dilakukan di sini tidak sampai ke tingkat bawah. Juga bagaimana meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru serta bagaimana meningkatkan kualitas siswa/i di sekolah.

Bagaimana meningkatkan kualitas guru dan anak?
Untuk memacu anak-anak, normatif. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas guru, kami mulai melakukan penguatan guru, khususnya guru yang mengajar mata pelajaran UN. Kita melakukan workshop untuk enam rayon di seluruh NTT selama seminggu. Meningkatkan kegiatan di forum guru yakni MGMP, di sana mereka saling sharing dan menerjemahkan ilmu kepada anak.

Sedangkan untuk anak-anak dilakukan try out dari dana APBD I, II dan try out mandiri di sekolah. Sebenarnya perencanaan di dinas sudah bagus, namun di lapangan masih dihadapkan dengan kondisi seperti kesejahteraan guru, sarana prasarana belajar yang minim, susah mengakses teknologi, penyebaran guru tidak merata. Semua ini tentu akan berpengaruh pada hasil UN.

Bagaimana hasil UN 2015 ini?
Saat ini saya harap cemas untuk menanti hasilnya seperti apa, bisa lebih baik atau tidak. Saya ketua UN provinsi, sebagai kadis saya harus optimis 100 persen, apalagi tag line yang saya usung adalah UN Sukses dan UN Maju. UN sukses menyangkut proses mulai dari penguatan guru dan siswa, distribusi soal, anak ikut ujian dengan baik. UN maju, minimal jalan di tempat tidak apa-apa. Kalau yang namaya maju, biar selangkah tidak apa-apa.

Tapi hasilnya tentu selalu fluktuatif karena setiap tahun pasti soal berbeda, sistem berbeda, dan anak juga berbeda. Tentu saya harus optmis bahwa hasilnya akan baik. Dari sisi proses hasilnya sudah maksimal, kita indeks kejujuran tinggi, UN SMK 1 CBT dari 665 kita peringkat 4 nasional. Saya sudah kirim staf untuk jemput hasil UN 2015 ke Jakarta, hari Senin akan diketahui. UN sangat penting untuk masuk perguruan tinggi, masuk pasar kerja dan mapping mutu pendidikan secara nasional.

Bagaimana Anda melihat kondisi guru di NTT saat ini?
Berbicara pendidikan bermutu tidak segampang membalik telapak tangan. Karena begitu banyak aspek yang saling mempengaruhi. Saya selalu mengatakan guru menjadi faktor kunci. Semuanya baik, sarana prasarana, mekanisme, kurikulum, tetapi pelaksanaan ada pada guru. Kalau SDM guru terbatas, kesejahteraan guru tidak diperhatikan, tentu akan mempengaruhi hasil UN.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help