Tamu Kita

Bermimpi Jadikan RSU Johannes Profesional

wanita ini sudah banyak melakukan berbagai perubahan di rumah sakit setempat. Dialah Arizona Ondok, S.H, Wakil Direktur Keuangan dan Umum RSUD Kupang.

Bermimpi Jadikan RSU Johannes Profesional
PK/VEL
Arizona Ondok, S.H 

Puji Tuhan selama tujuh bulan ini ada beberapa hal yang sudah berhasil kami perjuangkan bersama mitra di DPRD NTT. Pertama, menaikkan insentif dokter spesialis yang tidak pernah berubah sekitar 10 tahun. Dalam perjuangan menaikan insentif dokter itu saya berupaya mengilustrasikan bagaimana beratnya beban kerja para dokter spesialis, sementara insentif yang mereka peroleh sangat kecil dibandingkan dengan dokter di provinsi lain.

Kenaikan insentif dokter ini bagi beberapa kalangan tertentu mungkin tidak begitu besar, tetapi bagi dokter kenaikan itu sudah cukup membuat mereka merasa senang. Kedua, RSUD Kupang mulai membuka diri, transparan. Ketiga, kami mulai membenahi masalah sampah, ketersediaan air bersih dan kebersihan di RSUD ini dan hal itu sudah mulai berjalan dan menunjukkan perubahan.

Keempat, untuk perawat, kami meneruskan yang selama ini sudah ada yakni program-program peningkatan kualitas SDM dengan workshop, diklat, seminar, bimtek baik di daerah maupun diluar daerah.

Ibu Ari, selama ini pasien dan keluarga pasien seringkali mengeluhkan soal pelayanan RSUD Kupang khususnya soal pelayanan dari sejumlah perawat yang masih jutek. Bagaimana Anda meminimalisir hal ini?
Ya, keluhan itu banyak saya dengar ya. Ketika saya menjadi wadir di bulan kedua, ada kejadian di RSUD terkait ada oknum pegawai yang berbuat ulah. Lalu kami dipanggil oleh DPRD untuk mengklarifikasikannya.

Terkait perilaku sejumlah perawat yang masih belum ramah kepada pasien dan keuarga pasien itu, saya selalu mengingatkan mereka dalam setiap kesempatan, saat apel, saat pertemuan rutin dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Saya bilang ke perawat, kalau soal etika itu wajib hukumnya karena bersifatnya universal. Namun mengenai budaya, senyum, menyapa itu juga wajib. Kalau melayani pasien tidak harus melakukan cara-cara orang dari luar seperti menaruh tangan di dada, mengatubkan tangan. Tapi saya katakan, cukuplah tersenyum, menyapa dan ramah dengan ciri khas NTT.

Saya minta perawat berusaha bersabar, bahkan harus mengurut dada ketika melayani pasien dan keluarganya yang seringkali juga rewel. Ya, perawat juga manusia, namun perawat itu dituntut untuk terus bersikap ramah terhadap pasien dan keluarganya. Saya selalu katakan kepada perawat untuk selalu tersenyum, ramah dan menyapa pasien dan keluarganya.

Bahkan, meminjan kalimat anggota DPRD yang selalu bilang bahwa untuk senyum, ramah dan sapa itu kan tidak perlu dibayar dengan uang.

Bagaimana kondisi peralatan dan jumlah dokter di RSUD Kupang?
Di RSU Kupang ada 48 dari 51 dokter spesialis, terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam, kulit dan kelamin, mata, gigi, kandungan, anak, bedah. Jumlah pegawai dan perawat 1.300 orang. Dari sisi SDM, peralatan, sudah cukup memadai. Ada sejumlah alat kesehatan yang rusak, tetapi ada dana pemeliharaan dan tahun ini sedang dalam proses pengadaan.

Bagaimana dengan ketersediaan air?
Mengenai air, saya juga mau sampaikan bahwa kekurangan air sebenarnya bukan masalah di rumah sakit saja, tetapi masalah yang dialami masyarakat Kota Kupang juga. Karenanya, kita tidak bisa berharap banyak dari pengelola air PDAM Kabupaten Kupang, apalagi jika musim kering dimana debit airnya berkurang. Biasanya kami antisipasi dengan menyediakan tangki cadangan untuk suplai air.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved