Tamu Kita

Yustina Suryani Sadji: Mimpikan Kedaulatan Pangan NTT

Walau memiliki campuran darah Jawa dari ibunya, dan juga dilahirkan di tanah Jawa, Yustina Suryani Sadji tidak menjadi penghalang bagi pekerjaannya

Yustina Suryani Sadji: Mimpikan Kedaulatan Pangan NTT
POS KUPANG/JUMAL HAUTEAS
Yustina Suryani Sadji

Kalau salama ini masih melihat pembentukan kelompok karena akan mendapatkan bantuan, kita ubah untuk melihat kelompok sebagai kebutuhan, bukan lagi sekadar sarana untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah atau LSM. Karena dengan berkelompok, setiap anggota bisa saling berbagi dengan sesama anggotanya, dan juga bisa saling belajar.

Apakah kelompok-kelompok ini hanya terdiri dari ibu-ibu?
Kita memang prioritaskan kelompok itu adalah ibu-ibu. Tetapi di beberapa tempat walau namanya tetap kelompok ibu-ibu, anggotanya ada juga yang bapak-bapak. Jadi, kita lakukan hal ini untuk bisa saling membantu dan semakin cepat berkembang.

Pendekatan apa yang digunakan oleh ibu dan teman-teman di Jarpuk Ina Foa untuk maksimal dalam pendampingan kelompok?
Kita selalu menggunakan pendekatan hati, sehingga tidak ada yang menjadi guru atau pemain utama. Namun kita saling belajar dan mencari solusi untuk setiap persoalan yang dihadapi di kelompok secara bersama-sama.

Jadi, mama-mama di kampung merasa mendapat tempat dan dihargai sesuai dengan kemapuan mereka. Saya sendiri tidak makan sirih-pinang. Tetapi kalau ke kampung saya pasti akan makan bersama dengan mama-mama di kampung. Karena itu adalah simbol komunikasi awal bagi masyarakat kita di sini. Biar nanti akhirnya saya mabuk pinang, itu bukan masalah bagi saya.

Harus meluangkan banyak waktu untuk mendampingi kelompok di desa, apakah tidak mendapat penolakan dari anak-anak dan suami?
Terkadang suami saya bertanya, untuk apa harus membuang banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk melakukan pendampingan dengan mama-mama di desa. Namun kepuasan batin bisa mendampingi orang lain untuk maju itu memang tidak bisa diukur dengan kata-kata.

Karena justru saat mereka bisa melakukan sesuatu dan keluar dari konsep pemikiran mereka yang lama yakni berpikir ada apanya menjadi apa adanya, itu sudah sungguh luar biasa, dan tentu tidak semua orang bisa melakukan hal itu.

Produk yang dihasilkan oleh kelompok itu merupakan temuan kelompok atau hasil bimbingan ibu?
Prinsipnya kami saling belajar. Jadi, saya memang biasanya membagikan resep yang menjadi temuan saya. Tetapi selalu merujuk pada apa yang ada di desa tempat mama-mama. Jadi saya tidak membawa sesuatu yang benar-benar baru dan tidak dimengerti oleh mama-mama di desa. Karena kalau saya bawa yang baru, saya pulang mama-mama tidak bisa melanjutkannya sendiri.

Apakah resep yang ibu gunakan untuk memproduksi produk ibu juga dibagikan kepada orang lain?
Tentu saja saya lakukan, karena saya ingin semakin banyak orang yang mampu menghasilkan produksi pangan lokal khas NTT akan semakin dekat mimpi saya mewujudkan ketahanan pangan lokal di NTT.

Bahkan saya sering mengupload resep-resep saya di akun facebook saya. Dan, saya juga pernah membagi 18 resep kepada mama-mama di SoE dalam waktu dua hari, dan itu tidak pernah bisa dilakukan oleh orang lain dalam pelatihan di manapun.

Apakah ibu tidak khawatir produk ibu akan tersaingi?
Sama sekali tidak. Karena saya percaya pada Firman Tuhan bahwa semakin kita kembangkan talenta yang Tuhan anugerahkan kepada kita, Tuhan akan menambah talenta yang ada bagi kita.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved