Tamu Kita

Yustina Suryani Sadji: Mimpikan Kedaulatan Pangan NTT

Walau memiliki campuran darah Jawa dari ibunya, dan juga dilahirkan di tanah Jawa, Yustina Suryani Sadji tidak menjadi penghalang bagi pekerjaannya

Yustina Suryani Sadji: Mimpikan Kedaulatan Pangan NTT
POS KUPANG/JUMAL HAUTEAS
Yustina Suryani Sadji

Apakah sejauh ini ada yang berhasil?
Untuk kelompok-kelompok yang saya dampingi sejak tahun 2011 lalu, sampai saat ini ada lima kelompok yang masih eksis dan masih terus menghasilkan produk-produk mereka, baik itu produk dari hasil pertanian, maupun produk dari hasil kelautan dan perikanan.

Apakah hanya lima kelompok yang ibu dampingi?
Tentu saja tidak. Ada banyak kelompok yang saya damping, tetapi sebagian lainnya belum berhasil mandiri untuk terus menghasilkan produk dan eksis di kelompoknya. Tetapi saya masih sering memberikan dorongan kepada mereka untuk tetap percaya pada kemampuan yang ada pada diri mereka untuk berjuang.

Kelompok yang belum berhasil tentunya mengecewakan hati ibu. Apa spiritnya sehingga ibu tetap yakin mereka masih bisa bangkit.
Prinsip saya jelas, setiap orang memiliki potensi dalam dirinya untuk bisa maju. Karena kita semua diberikan talenta oleh Tuhan secara spesial sehingga kalau dikembangkan dengan baik pasti akan memberikan hasil yang maksimal juga. Tetapi kembali lagi, kita harus percaya bahwa talenta yang kita miliki tersebut pasti akan membangun masa depan kita.

Menghasilkan produk rumah tangga tentunya membutuhkan modal untuk dikembangkan. Dari mana ibu mengakses modal untuk membantu ibu-ibu dari desa yang tentunya tidak memiliki akses ke perbankan maupun sumber permodalan lainnya.
Awalnya memang agak sulit untuk kita mengakses modal ke dunia perbankan. Tetapi saat ini kami sudah terhubung dengan Bank NTT dan di sini (Desa Noelbaki) menjadi salah satu titik untuk memberikan kemudahan akses pinjaman ke Bank NTT. Jadi, untuk saat ini, sudah tidak terlalu sulit lagi, dan sudah lebih dari 40 ibu-ibu di sini yang saya fasilitasi untuk mendapat akses pinjaman ke Bank NTT.

Apakah tidak menjadi beban bagi ibu karena akan menjadi pihak yang ikut bertanggung jawab untuk kelancaran pembayaran pinjaman ke bank?
Itu menjadi tantangan tersendiri. Tetapi kami membangun mereka dari perubahan pola pikir dan persepsi mengenai bagaimana menjadi wirausaha yang baik dan berkelanjutan, sehingga pertumbuhan ekonomi keluarga yang diharapkan bisa tercapai.

Jadi, kami tidak hanya membangun pola pikir untuk mengakses pinjaman, melainkan juga membangun pola pikir untuk belajar menabung sehingga mereka tidak hanya membayar biaya angsuran yang harus dibayar ke bank melainkan juga melebihkan untuk menjadi simpanan mereka.

Sejauh ini, produk apa saja yang sudah ibu hasilkan sendiri maupun dari kelompok-kelompok dampingan ibu?
Untuk produk saya sendiri ada beberapa yakni pastel rumput laut, kruik ikan rumput laut, sambal se'i ikan, keripik pisang salut nangka, aneka keripik balado tuna, dan nastar ikan caramel kacang.

Sedangkan yang dihasilkan oleh kelompok mama-mama di desa-desa adalah pilus udang, abon ikan, dendeng ikan, sirup rumput laut, dodol rumput laut, dan manisan rumput laut. Bahkan pilus udang itu sudah dipasarkan sampai ke Jakarta.

Apakah tidak ada kendala dalam mendampingi ibu-ibu di desa untuk membangun usaha industri rumah tangga (IRT)?
Masalah tentu saja ada dan bahkan sangat sering. Ada juga pasang-surutnya dalam setiap usaha. Tetapi keyakinan dasar bagi kami di Jarpok Ina Foa bahwa selalu ada potensi dalam setiap pribadi maupun kelompok, sehingga tetap bisa berjalan sampai saat ini. Kami selalu belajar untuk berpikir positif sehingga masalah selalu dilihat sebagai tantangan untuk dipecahkan guna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan bukan sebagai penghalang atau beban yang harus dihindari.

Apa tantangan ibu dalam mendampingi kelompok ibu-ibu?
Pertama-tama kita harus kembali lagi bahwa perubahan pola pikir adalah yang terutama. Jadi kalau ibu-ibu selama ini selalu melihat kelemahan mereka, kita ubah untuk melihat potensi yang ada dalam diri mereka.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved